dimana akan kucari...
aku menangis seorang diri...
hatiku ingin selalu bertemu...
untukmu... aku bernyanyi...
untuk... ayah tercinta, aku ingin bernyanyi, walau air mata di pipiku
ayah, dengarkanlah... aku ingin berjumpa, walau hanya dalam mimpi
lihatlah hari berganti
namun tiada seindah dahulu
datanglah... aku ingin bertemu
untukmu aku bernyanyi
(Broery Marantika-ayah)
Jujur aja, sejak dulu denger lagu ini atau denger ada orang yang nyanyiin lagu ini, air mataku pasti langsung mengucur deras. Liriknya bener-bener menyayat hati... Apalagi kalo lagi kangen banget sama Bapak, kayak sekarang ini...
Mungkin aku bisa jadi melankolis banget karena memang aku dekeeettt banget sama Bapak. Apa aja bisa aku ceritain sama beliau... Lagi sedih, lagi seneng, bahkan lagi jatuh cinta pun aku berusaha untuk selalu cerita sama beliau. Beliau juga seorang ayah yang hebat. Ayah gaul buatku... Bayangin aja, mana ada ayah di dunia ini yang bisa dengan santai bisa diajak becanda bahkan diejek sama anak-anaknya. Smsan aja seringkali pake bahasa gaul. Walaupun beliau posesif, tapi i still love him.
Sebenernya, sejak dulu banyak hal dari diri beliau yang bikin aku nggak respek sama beliau. Hal-hal di masa lalu yang bikin aku belajar banyak hal. Nggak perlu diomongin lagi, karena semua sudah bisa aku terima dengan baik-baik saja (kayaknya sih gitu). Semua ternyata bukan jadi masalah lagi kalo kita bisa terbuka sama beliau, plus ibu tentunya.
Nggak tau apa yang terjadi sama diriku kalo aku jauh dari beliau lebih dari yang sekarang. Nggak di telepon beliau sehari aja, rasanya kangeeennnn banget. Memang sih aku nggak pernah ngomong kalo aku sayaaannnggg banget sama dia (beda kalo ke Ibu), tapi tetep aja, dalam hatiku saaaayaaaannngggg banget ma beliau. Banyak banget rahasiaku ada di beliau, rahasia beliau juga banyak banget yang ada di aku. Kita bedua prend banget dah!
Rasanya memang beliau udah ngak kayak dulu lagi. Beliau udah semakin tua. Tau nggak apa yang aku rasain banget? Jadi mulai agak susah bikin beliau nyambung cepet ke omonganku... Semua musti dijelasin pelan-pelan... Wajar sih, udah lansia... Tapi, tetep aja kok aku bakal cerita semua ke beliau...
Selama ini, aku selalu menjadi yang terbaik buat beliau... Gak cuman beliau... Tapi juga buat Ibu... Aku mungkin bisa jadi orang yang paling egois sedunia asal bisa bikin mereka bahagia. Apapun yang terjadi dengan diriku, aku bisa jadi sangat bahagia ketika melihat mereka tersenyum, sedikiiittt saja.
Anyway, I love u, Daddy...
Senin, 25 Agustus 2008
pulang
Di beranda itu kuhabiskan waktu bersama malaikat-malaikat kecilku...
Di tepian ruang itu aku biasa berbagi canda dengan ayah dan ibu...
Di sudut malam, seringkali kuhabiskan waktu membahas diri bersama kakak...
Di keteduhan luasnya ruang, aku biasa curahkan semua rasa yang tercipta...
Di dalam kamar biru itu, tangisku selalu tumpah ruah...
Aku ingin lagi berada di sana...
Kembali memeluk semua dengan dua tanganku...
Merasakan kembali sejuk yang tercipta dari keseluruhannya...
Aku ingin menyatu bersama semua...
Rinduku kembali ke sana...
Tangisku kini tumpah...
Namun, tak bisa mendesakku kembali ke sana...
Aku merasa rapuh dan sendiri...
Tanpa suasana itu aku sepi...
Ingin kembali ke sana...
Menyegarkan kembali seluruh relung batinku...
Membuatku kembali lagi bisa mandiri...
Merasakan lagi sendiriku...
Dan kurasa memang lebih baik begitu...
Bukan istana merah jambuku...
Tapi, rumahku istanaku...
Tak ada tempat seindah di sana
Ketika aku kembali pulang... Menyentuh lagi lantainya...
Aku merasa aku ada dan dinanti...
Tak ada yang bisa menggantikan mereka...
Dan aku tak mau menukar semua dengan apa pun...
Kenangan terburuk... Kenangan terindah...
Semua di sana...
Keluargaku... Rumahku...
Di tepian ruang itu aku biasa berbagi canda dengan ayah dan ibu...
Di sudut malam, seringkali kuhabiskan waktu membahas diri bersama kakak...
Di keteduhan luasnya ruang, aku biasa curahkan semua rasa yang tercipta...
Di dalam kamar biru itu, tangisku selalu tumpah ruah...
Aku ingin lagi berada di sana...
Kembali memeluk semua dengan dua tanganku...
Merasakan kembali sejuk yang tercipta dari keseluruhannya...
Aku ingin menyatu bersama semua...
Rinduku kembali ke sana...
Tangisku kini tumpah...
Namun, tak bisa mendesakku kembali ke sana...
Aku merasa rapuh dan sendiri...
Tanpa suasana itu aku sepi...
Ingin kembali ke sana...
Menyegarkan kembali seluruh relung batinku...
Membuatku kembali lagi bisa mandiri...
Merasakan lagi sendiriku...
Dan kurasa memang lebih baik begitu...
Bukan istana merah jambuku...
Tapi, rumahku istanaku...
Tak ada tempat seindah di sana
Ketika aku kembali pulang... Menyentuh lagi lantainya...
Aku merasa aku ada dan dinanti...
Tak ada yang bisa menggantikan mereka...
Dan aku tak mau menukar semua dengan apa pun...
Kenangan terburuk... Kenangan terindah...
Semua di sana...
Keluargaku... Rumahku...
waktu kangen itu terasa
Entah apa artinya "kita" dalam hatimu. Ketika matamu tak mampu kutatap, ketika suaramu tak mampu kudengar, bahkan ketika hatimu tak mampu kusentuh. Kehilangan rasa. Mungkinkah semua yang ada hanyalah karena jarak usia yang sesaat ini? Hingga aku harus bersikap jauh lebih memahamimu, hingga aku sulit untuk bisa merasa dipahami. Mungkin. Tapi tak yakin hingga kapan semua bisa bertahan.
Aku memang biasa mencintai. Biasa menangis ketika mencoba memahami hati yang kucinta. Tetapi, tidak dengan begini caranya.
Aku marah. Mungkin. Tapi aku tidak sejahat itu dengan tidak memahamimu, bukan? Tetap mengalah dan mengabaikan rasa yang sebenarnya ada dalam perasaanku sendiri. Berpura-pura bahwa seumur hidupku aku tak pernah punya masalah. Seolah hidupku baik-baik saja.
Aku memang tidak pernah menangis di bahu siapa-siapa. Aku terlalu mandiri untuk jadi manusia rapuh seperti itu. Tapi, bukan berarti aku tak pernah menangis. Bahkan, ketika kamu menangis, sesungguhnya aku pun menangis. Mungkin bukan karenamu, tapi karena aku memang sedang menangis karena hal lain.
Cinta...
Hidup itu penuh dengan masalah. Tetapi berbagi masalah adalah suatu keindahan yang bisa terasa lebih ringan. Bukan masalah besar ketika kamu punya masalah. Tetapi, bagaimana cara menghadapi masalah itu yang mengajarkan kita menjadi sedikit lebih dewasa. Mungkin tanpa bantuan orang lain semua hal bisa baik-baik saja. Tetapi, dengan sendirian, semua bisa terasa semakin sulit untuk terselesaikan.
Tak apa. Ketika kamu pulang nanti aku akan tersenyum menyambutmu. Biar saja masalahku terabaikan. Biar saja aku mengatasi semuanya sendiri, karena kurasa kamu menghendaki begitu. Tapi, ketika kamu butuh berbagi, setidaknya untuk menggantungkan rasa, ada aku di sini. Aku yang akan selalu baik-baik saja saat menatapmu.
Aku memang biasa mencintai. Biasa menangis ketika mencoba memahami hati yang kucinta. Tetapi, tidak dengan begini caranya.
Aku marah. Mungkin. Tapi aku tidak sejahat itu dengan tidak memahamimu, bukan? Tetap mengalah dan mengabaikan rasa yang sebenarnya ada dalam perasaanku sendiri. Berpura-pura bahwa seumur hidupku aku tak pernah punya masalah. Seolah hidupku baik-baik saja.
Aku memang tidak pernah menangis di bahu siapa-siapa. Aku terlalu mandiri untuk jadi manusia rapuh seperti itu. Tapi, bukan berarti aku tak pernah menangis. Bahkan, ketika kamu menangis, sesungguhnya aku pun menangis. Mungkin bukan karenamu, tapi karena aku memang sedang menangis karena hal lain.
Cinta...
Hidup itu penuh dengan masalah. Tetapi berbagi masalah adalah suatu keindahan yang bisa terasa lebih ringan. Bukan masalah besar ketika kamu punya masalah. Tetapi, bagaimana cara menghadapi masalah itu yang mengajarkan kita menjadi sedikit lebih dewasa. Mungkin tanpa bantuan orang lain semua hal bisa baik-baik saja. Tetapi, dengan sendirian, semua bisa terasa semakin sulit untuk terselesaikan.
Tak apa. Ketika kamu pulang nanti aku akan tersenyum menyambutmu. Biar saja masalahku terabaikan. Biar saja aku mengatasi semuanya sendiri, karena kurasa kamu menghendaki begitu. Tapi, ketika kamu butuh berbagi, setidaknya untuk menggantungkan rasa, ada aku di sini. Aku yang akan selalu baik-baik saja saat menatapmu.
nyawa... oh... nyawa...
Hari ini... as usual, aku berangkat ke Puskesmas Pakem *kucinta padamu bersama dengan tebengan setiaku... Kami menjadi raja jalanan, diem2an gak ngobrol seperti biasanya dan aku asyik memperhatikan jalan yang lama-lama membuatku semakin merasa eneg...
Tiba-tiba.... "gubrak"
Weks... aku menoleh ke kanan, ada sebuah motor terkapar tepat di sebelah kananku... Mesinnya masih nyala, orangnya dengan santai berdiri dari motor sambil megangin kakinya yang .... (kayaknya sih, sakit)
Untungnya dia masih selamat, sehat wal afiat... Maksudnya, nggak terjadi apa-apa yang bikin dia celaka atau kehilangan nyawa.
Gila! Tuh motor jatoh sendiri... Tapi kata tebenganku sih, dia jatuh karena mo ngehindarin mobil di depannya yang mau belok ke kanan... (yah, jelasnya gimana, aku sih nggak tau... wong gak sempet interview ma si pengemudi motor kok) Yah... Kami sih cuman sempet ngeliat sebentar, trus jalan lagi... Maklum, udah siang... Takut nggak keburu ikut apel pagi...
Seremnya, tebenganku bilang... sebenernya dia udah denger ada suara motor ngerem mendadak dari sebelah kanan kami. Dia pikir posisi motor itu ada di belakang, karena kalo dari belakang, kemungkinan besar, ketika motor itu terpental ke depan, kami bisa kena.... Itu berarti... Aku dan tebenganku tercinta bisa-bisa ikut celaka... Untungnya sih nggak, Tuhan masih mencintai kami...
*tralala... trilili....* nunggu klien di meja pendaftaran sambil celingak-celinguk liat pasien yang tunggu panggilan...
Dari depan pintu masuk, seketika terlihat sebuah vespa parkir... Terlihat seorang wanita sedang digendong oleh seorang bapak-bapak... tergopoh-gopoh, si wanita langsung dibawa ke ruang BP Umum... Kata Mbak Dewi yang ketika itu berlari-lari ingin tahu apa yang terjadi, si perempuan itu mengeluarkan air liur dari mulutnya...
Kami berdua pun berspekulasi... "Epilepsi" Walaahh, sok banget dah pokoknya! Sampe bilang ke yang laen gitu...
Ternyata, nggak lama kemudian, si bapak yang gendong si mbak itu keluar lagi dan naek vespanya... Waduh... ternyata, si mbak itu mo bunuh diri tow... minum baygon gitu deh critanya... Trus, dr. Sari nyuruh untuk langsung di bawa ke Panti Nugroho aja... Wah, klo sampe nggak slamet gara2 muter2 nyari tempat yang bisa nylametin dia kan kasian juga yaw...
Tragis...
Lucunya lagi, Mbak Dewi langsung bikin cerita lagi... "Waduh, pasti tuh mo bunuh diri gara-gara cintanya gak direstuin orang tua"
(ck,ck,ck... Mbak Dewi... biang gosip yang hebat)
Yang jelas sih... kasian si mbak... nggak sayang sama nyawanya sendiri...
Wah.... beragam sekali kejadian dalam hidupku hari ini...
Tiba-tiba.... "gubrak"
Weks... aku menoleh ke kanan, ada sebuah motor terkapar tepat di sebelah kananku... Mesinnya masih nyala, orangnya dengan santai berdiri dari motor sambil megangin kakinya yang .... (kayaknya sih, sakit)
Untungnya dia masih selamat, sehat wal afiat... Maksudnya, nggak terjadi apa-apa yang bikin dia celaka atau kehilangan nyawa.
Gila! Tuh motor jatoh sendiri... Tapi kata tebenganku sih, dia jatuh karena mo ngehindarin mobil di depannya yang mau belok ke kanan... (yah, jelasnya gimana, aku sih nggak tau... wong gak sempet interview ma si pengemudi motor kok) Yah... Kami sih cuman sempet ngeliat sebentar, trus jalan lagi... Maklum, udah siang... Takut nggak keburu ikut apel pagi...
Seremnya, tebenganku bilang... sebenernya dia udah denger ada suara motor ngerem mendadak dari sebelah kanan kami. Dia pikir posisi motor itu ada di belakang, karena kalo dari belakang, kemungkinan besar, ketika motor itu terpental ke depan, kami bisa kena.... Itu berarti... Aku dan tebenganku tercinta bisa-bisa ikut celaka... Untungnya sih nggak, Tuhan masih mencintai kami...
*tralala... trilili....* nunggu klien di meja pendaftaran sambil celingak-celinguk liat pasien yang tunggu panggilan...
Dari depan pintu masuk, seketika terlihat sebuah vespa parkir... Terlihat seorang wanita sedang digendong oleh seorang bapak-bapak... tergopoh-gopoh, si wanita langsung dibawa ke ruang BP Umum... Kata Mbak Dewi yang ketika itu berlari-lari ingin tahu apa yang terjadi, si perempuan itu mengeluarkan air liur dari mulutnya...
Kami berdua pun berspekulasi... "Epilepsi" Walaahh, sok banget dah pokoknya! Sampe bilang ke yang laen gitu...
Ternyata, nggak lama kemudian, si bapak yang gendong si mbak itu keluar lagi dan naek vespanya... Waduh... ternyata, si mbak itu mo bunuh diri tow... minum baygon gitu deh critanya... Trus, dr. Sari nyuruh untuk langsung di bawa ke Panti Nugroho aja... Wah, klo sampe nggak slamet gara2 muter2 nyari tempat yang bisa nylametin dia kan kasian juga yaw...
Tragis...
Lucunya lagi, Mbak Dewi langsung bikin cerita lagi... "Waduh, pasti tuh mo bunuh diri gara-gara cintanya gak direstuin orang tua"
(ck,ck,ck... Mbak Dewi... biang gosip yang hebat)
Yang jelas sih... kasian si mbak... nggak sayang sama nyawanya sendiri...
Wah.... beragam sekali kejadian dalam hidupku hari ini...
Sabtu, 23 Agustus 2008
tentang kamu
Awalnya... Hari yang terpampang jelas di depan mata merupakan gambaran semu akan keindahan masa depan atas diriku dan semua hanya tentang diriku, tanpa ada sedikitpun kepastian tentang bahagia sisi hati yang selama ini selalu terabaikan, tak ada gambaran siapa yang ada di sisi, bagaimana rumah merah jambuku, atau bagaimana peri-peri kecilku hadir di sisi. Semua yang ada hanyalah kerja keras yang hasilnya pun tidak seindah yang lain. Aku menjadi ragu atas kemampuanku.
Aku mencoba berjalan sendiri, menjadikan hari-hariku indah bersama orang-orang yang bersedia menjadi yang terbaik untukku. Aku kesepian, tapi aku tak sendirian, walaupun perasaan sendiri itu selalu menyelimuti setiap detik waktuku.
Lalu, ketika ada kamu datang sesaat memberiku madu yang begitu manis dan menjadi candu. Kamu membentuk aku mulai lagi merasakan rasa, entah itu apa, rasanya bukan cinta. Kamu menjadikanku membutuhkan sesuatu yang mampu menjadikan hariku sedikit berbeda. Kamu tidak melengkapiku, kamu tidak membuatku berlari menggapai impianku, bahkan kamu tidak membuatku berarti untukmu. Kamu menjadi dirimu sendiri yang hadir dalam kehidupanku, memberikan sudut dunia lain yang rasanya hanya mampu kita rasakan berdua, membentuk titik kita sendiri dan tidak mendatangkan hari-hari kita masing-masing ke sana. Kamu membentuk itu dan aku tak mampu mengelaknya, walaupun aku sering berperan besar membentuk titik kita itu.
Hingga kata-kata ini tertulis, terlalu sulit bagiku memahami kamu dengan tulus dan mudah. Kamu menjadikanku banyak belajar tentang dirimu sendiri, bukan tentangku. Kamu membuatku menjadi lebih sadar tentang kamu. Kamu menjadi dirimu yang terlalu sulit kusentuh ketika dirimu terluka, kamu terlalu rapuh, hingga aku terlalu ragu untuk menyentuhmu. Aku hanya tak ingin kamu pecah.
Aku mencoba berjalan sendiri, menjadikan hari-hariku indah bersama orang-orang yang bersedia menjadi yang terbaik untukku. Aku kesepian, tapi aku tak sendirian, walaupun perasaan sendiri itu selalu menyelimuti setiap detik waktuku.
Lalu, ketika ada kamu datang sesaat memberiku madu yang begitu manis dan menjadi candu. Kamu membentuk aku mulai lagi merasakan rasa, entah itu apa, rasanya bukan cinta. Kamu menjadikanku membutuhkan sesuatu yang mampu menjadikan hariku sedikit berbeda. Kamu tidak melengkapiku, kamu tidak membuatku berlari menggapai impianku, bahkan kamu tidak membuatku berarti untukmu. Kamu menjadi dirimu sendiri yang hadir dalam kehidupanku, memberikan sudut dunia lain yang rasanya hanya mampu kita rasakan berdua, membentuk titik kita sendiri dan tidak mendatangkan hari-hari kita masing-masing ke sana. Kamu membentuk itu dan aku tak mampu mengelaknya, walaupun aku sering berperan besar membentuk titik kita itu.
Hingga kata-kata ini tertulis, terlalu sulit bagiku memahami kamu dengan tulus dan mudah. Kamu menjadikanku banyak belajar tentang dirimu sendiri, bukan tentangku. Kamu membuatku menjadi lebih sadar tentang kamu. Kamu menjadi dirimu yang terlalu sulit kusentuh ketika dirimu terluka, kamu terlalu rapuh, hingga aku terlalu ragu untuk menyentuhmu. Aku hanya tak ingin kamu pecah.
Rabu, 20 Agustus 2008
gempa di jogja
Lagi asik-asik nonton Cinta Fitri sambil ngerjain laporan untuk tugas praktek di Puskesmas, sambil chat juga, tiba-tiba ada kejadian aneh... Aku merasa dunia bergoyang... Uups! Rada lama... Mikir... "ini gempa bukan yah?"
Trus tiba-tiba inget harus nge-cek air di gelas yang tepat ada di meja sebelahku untuk tau gempa ato nggak... dan ternyata memang goyang2...
BERARTI????
*mode on : kabur keluar kamar... tapi langsung masuk lagi, karena ternyata nggak ada orang
Langsung aja SMS kekasihku dan bapak... Yah, bapak sih bijaksana banget, meyakinkan aku dan suruh ati2... Kekasihku diam saja tak membalas, mungkin dia menenangkanku dalam mimpi.
Pengalamanku merasakan dengan benar-benar gempa di Jogja, walaupun nggak sedahsyat 2 tahun lalu... Tapi, berasa banget sendirian dan deg2an... Walaupun cuman beberapa detik... Jadi mikir, kalo 2 tahun lalu itu aku disini, traumanya kayak apa ya?
Konyolnya, temen depan kamar kostku nggak ngerasain apa2, padahal masih melek...
Trus tiba-tiba inget harus nge-cek air di gelas yang tepat ada di meja sebelahku untuk tau gempa ato nggak... dan ternyata memang goyang2...
BERARTI????
*mode on : kabur keluar kamar... tapi langsung masuk lagi, karena ternyata nggak ada orang
Langsung aja SMS kekasihku dan bapak... Yah, bapak sih bijaksana banget, meyakinkan aku dan suruh ati2... Kekasihku diam saja tak membalas, mungkin dia menenangkanku dalam mimpi.
Pengalamanku merasakan dengan benar-benar gempa di Jogja, walaupun nggak sedahsyat 2 tahun lalu... Tapi, berasa banget sendirian dan deg2an... Walaupun cuman beberapa detik... Jadi mikir, kalo 2 tahun lalu itu aku disini, traumanya kayak apa ya?
Konyolnya, temen depan kamar kostku nggak ngerasain apa2, padahal masih melek...
Rabu, 13 Agustus 2008
walau
menatap ke depan... sambil merangkul tanganmu... menatapmu sesekali... lalu berhenti sejenak... menunjukkan "kita" pada diantara kita... menatap lagi ke depan... walau tak pernah terdengar kata cinta itu... bilakah berharap... lalu aku akan tetap merangkul tanganmu, membiarkan jari-jari ini di sela-sela jari-jarimu... merasakan sendiri rasa yang ada...
Langganan:
Postingan (Atom)