Life is full of misery, loneliness, and suffering - and it's all over much too soon. (Woody Allen, 1935) quote
Jumat, 21 November 2008
Tentang Nanda
Minggu, 19 Oktober 2008
fansku kabuurrr
Listening their story, making me crying
Sabtu, 11 Oktober 2008
Kunjungan ke rumah pasien
Jumat, 26 September 2008
When I feel that's I'm the lucky one
First Day
Kamis, 07 Agustus 2008
screening SD
Aku pun ikut dia ke sekolah itu, melihat 12 siswa yang diduga berkebutuhan khusus dan mewawancarai serta mengobservasi mereka, tentunya kami berdua membagi tugas... biar cepet! Aku mendapat bagian 5 anak dan beliau mendapat jatah 7 anak. Sayangnya, kebanyakan dari mereka telah salah didiagnosis oleh guru sekolah itu. Misalnya, si guru udah terlanjur melabel kalo si anak hiperaktif, padahal... nggak sama sekali, mungkin lebih tepat kalo dibilang anak agresif atau distractability child (susah memusatkan perhatian pada pelajaran dan perhatiannya mudah beralih, tapi bukan Attention defisit loh!). Sebenernya cukup kasihan melihat anak-anak itu dilabel demikian oleh sekolah karena mau tak mau hal itu bisa berdampak buruk pada masa depan mereka di kemudian hari dan tentunya bisa berpengaruh pada prestasi mereka di sekolah selanjutnya.
Setelah melakukan observasi dan wawancara, sejauh apa yang telah aku lakukan, aku dan Mas psikologku memberi penjelasan yang lebih detail kepada pihak sekolah melalui kepala sekolah, mengenai apa yang seharusnya mereka lakukan tentang pemberian label/cap kepada anak-anak didiknya. Mungkin memang benar bahwa anak-anak itu memiliki kebutuhan khusus, tetapi tidak se-ekstrim istilah yang mereka berikan pada si anak. Jadi, kami mungkin hanya bisa mengidentifikasi bahwa mereka mengalami gangguan belajar atau lambat belajar, bukan hiperaktif, dll.
Jadi, lebih baik berhati-hati untuk memberi label pada anak, karena mungkin saja hal itu bisa berakibat banyak bagi anak, bahkan mungkin hingga ke masa depan mereka.
Sabtu, 05 Juli 2008
gara-gara puskesmas


Hehe... Kocak banget kayaknya deh info yang gue buat kali ini... Sebenernya sih, semua ini gara-gara gue praktek di puskesmas...
Begini ceritanya...
Mulai Senin besok, udah ada jadwal posyandu di tiap desa yang ada di bawah naungan puskesmas tempat gue praktek... Nah, di sana kan nanti gue berhak ngasih penyuluhan apa aja... Lalu, malam minggu nan membosankan ini, akhirnya gue memutuskan untuk cari bahan kesehatan yang tentunya ada hubungannya sama posyandu dan psikologi... Udah lumayan banyak dapet info dari internet, tapi blum gue bikin tulisan untuk penyuluhannya... Walaupun bahan untuk penyuluhan ke dukun bayi blum gue dapet sih...
Ketika sedang mencari di salah satu situs, gue nemu ada judul artikel "Kiat Mendapatkan Bayi Laki-laki atau Perempuan" isinya sih masih wajar, berkaitan dengan penghitungan kalender menstruasi, dan bla, bla, bla... Nah, artikel selanjutnya lah yang bikin gue mikir (wah, ternyata bisa juga to dibikin sampe dikasih tau "gaya"nya segala????) Judulnya... FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN JENIS KELAMIN PADA BAYI (infobunda.com)
Isi artikelnya:
“Mendapatkan bayi laki-laki atau perempuan sama saja.” Kata-kata itu sering kita dengar dari pasangan yang sedang menunggu datangnya buah hati. Tapi kadang-kadang dalam hati mereka, ada keinginan yang tak bisa disangkal bahwa mereka punya harapan agar anak yang lahir perempuan atau laki-laki. Bisakah anak yang lahir kita rancang sebagai laki-laki atau perempuan? Bisa!
Usaha pertama yang harus dilakukan tentu saja dengan berdoa dan meminta langsung pada Sang Maha Pencipta. Cara lainnya, selalu berusaha dan berusaha terus sampai keinginan kita terkabul dan tentu saja dengan cara yang aman dan dihalalkan.
Secara ilmiah, penentuan jenis kelamin calon bayi sangat dipengaruhi oleh jenis kromosom yang berhasil menjangkau sel telur. Bila kromosom X yang membuahi sel telur, maka akan lahir bayi perempuan. Sebaliknya, bila kromosom Y yang membuahi, maka akan lahir bayi laki-laki.
Sifat kromosom X berbeda dengan kromosom Y. Kromosom X, meski masa hidupnya lebih lama, tetapi memiliki kemampuan "berenang" lebih lambat dibandingkan dengan kromosom Y. Sedangkan kromosom Y itu perenang tangkas meski masa hidupnya lebih pendek.

Di bawah ini ada beberapa faktor yang dapat menentukan jenis kelamin pada calon buah hati Anda, diantaranya:
1. Faktor makanan
* Jika menginginkan seorang bayi perempuan
Suami harus makan makanan yang banyak mengandung alkaline, mineral kalsium
dan magnesium, sedangkan istri banyak makan makanan yang mengandung asam, mineral
kalium dan natrium. Makanan yang banyak mengandung alkaline, mineral kalsium dan
magnesium adalah: sayur-sayuran, buah-buahan, putih telur, susu, ganggang laut,
kacang-kacangan, susu, dan lain-lain. Makanan yang banyak mengandung asam, kalium
dan natrium adalah daging, makanan laut (sea food), garam, teh, dan lain sebagainya..
* Jika menginginkan bayi laki-laki
Suami harus banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung asam, mineral,
dan magnesium. Sedangkan istri harus banyak mengkonsumsi makanan yang banyak
mengandung alkaline, mineral kalsium dan magnesium (lihat jenis makanan diatas).
2. Faktor waktu (kapan berhubungan)
* Jika menginginkan seorang bayi perempuan
Lakukan coitus (persetubuhan/senggama) 2–3 hari sebelum ovulasi (masa subur).
Dengan demikian, hanya kromosom X yang lebih bertahan lama sampai menunggu sel
telur terlepas dari ovarium. Ovulasi adalah saat terlepasnya sel telur dari indung telur
dalam rahim.
* Jika menginginkan bayi laki-laki
Waktu berhubungan dilakukan sedekat mungkin dengan ovulasi, sebaiknya tepat pada
ovulasi, berkisar antara 12 jam sebelumnya.
Bagaimana mengetahui periode masa haid? Pada saat temperatur atau suhu tubuh
meningkat. Anda bisa menggunakan alat pengukur suhu tubuh dan mencatatnya sebagai
record dan alatnya dapat dibeli di apotek-apotek.
3. Faktor penetrasi
* Jika menginginkan seorang bayi perempuan
Suami harus menghindari penetrasi terlalu dalam pada saat berhubungan. Sehingga
diharapkan sel sperma kromosom X saja yang berkesempatan tetap hidup dan terus
berenang menuju sel telur.
* Jika menginginkan bayi laki-laki
Suami disarankan untuk melakukan penetrasi yang dalam pada saat berhubungan,
sehingga sebagian besar dari sperma Y langsung masuk ke rahim.
4. Faktor Orgasme
* Jika menginginkan seorang bayi perempuan
Usahakan istri tidak mencapai orgasme selama berhubungan. Secresi cairan yang keluar
dari kemaluan wanita akan menjadi alkaline (basa) jika terangsang, hal ini akan
mendorong aktifitas spematozoa Y.
* Jika menginginkan bayi laki-laki
Upayakan istri dapat orgasme lebih awal dari suami atau bersamaan.
5. Faktor persiapan istri
* Jika menginginkan seorang bayi perempuan
Sebelum coitus, basuh vagina dengan 2 sendok makan larutan white vinegar/cuka yang
sudah dicampur dalam 1 liter air bersih. Hal ini dilakukan agar kondisinya menjadi asam
sehingga aktifitas spermatozoon Y menurun.
* Jika menginginkan bayi laki-laki
Cuci vagina dengan larutan dari dua sendok soda kue yang sudah dicampur dalam satu
liter air bersih, sehingga suasana menjadi basa.
6. Faktor posisi
* Jika menginginkan seorang bayi perempuan
Disarankan posisi waktu berhubungan adalah yang klasik/berhadapan yaitu, posisi istri
di atas suami sehingga sperma tertampung di sekitar mulut rahim.
* Jika menginginkan bayi laki-laki
Posisi suami pada waktu berhubungan berada di atas istri. Hal ini mengikuti sifat dari
spermatozoon Y akan cepat menuju sasaran (sel telur).
Dan bagaimanakah cara menghitung masa ovulasi atau puncak masa subur seorang wanita? Silahkan lihat keterangan di bawah ini:
* Diketahui tanggal awal masa bersihnya seorang perempuan setiap bulan, misalnya setiap
tanggal 05.
* Diketahui tanggal akhir masa bersihnya seorang perempuan setiap bulan, misalnya setiap
tanggal 27.
* Rumus: (tanggal akhir setiap bulannya – tanggal awal setiap bulannya) / 2 = n;
* kemudian n + tanggal awal masa bersih dari seorang perempuan = masa ovulasi atau
puncak masa suburnya seorang perempuan
Contoh:
(27 – 05) /2 = 11; 05 + 11 = 16, jadi…setiap hari ke 16 dari sejak awal bersihnya seorang perempuan adalah puncak masa subur dari seorang perempuan atau masa ovulasi.
Hihi... Jadi geli sendiri gue... Bisa juga ya sampe segitunya???? So, ada yang mau mencoba... Haha... Selamat Mencoba!
Sabtu, 03 Mei 2008
Tourette's Syndrome....

Tourette syndrome adalah penyakit yang ditemukan pada tahun 1885 dan diberi nama sesuai nama penemunya, yaitu ahli syaraf dari Perancis, Georges Gilles de la Tourette (Dhamayanti, Riandani, & Resna, 2003). Penyakit ini dikarakteristikkan dengan gerak motor dan suara yang berulang-ulang yang sering. Tourette syndrome adalah kelainan saraf yang muncul pada masa kanak-kanak yang dikarakteristikan dengan gerakan motorik dan suara yang berulang serta satu atau lebih tarikan saraf (tic) yang bertambah dan berkurang keparahannya pada jangka waktu tertentu (Schultz, Carter, Gladstone, Scahill, Leckman, Peterson, Zhang, Cohen, & Pauls, 1998). Berdasarkan DSM IV, gerakan saraf terjadi tiba-tiba, sering, berulang, tidak teratur, dicirikan dengan gerakan motor dan vokal (Hoekstra, Kallenberg, Korf, & Minderaa, 2002). Contoh, gerakan saraf yang terjadi seperti kedipan mata yang berulang, mengerutkan hidung, gerakan kepala, tenggorokan mengeluarkan suara batuk dan menggumam. Gerakan saraf umumnya terjadi dalam satu hari, dimana gerakan itu semakin lama bisa semakin bertambah dan berkurang tergantung tingkat keparahannya. Biasanya, pada pasien individual, gerakan saraf ini biasanya bisa berubah, beberapa gerakan saraf menghilang dan hal yang baru muncul pada satu waktu. Dengan meningkatnya usia, simptom dapat menurun tergantung pada intensitas keparahan tipe gerakan saraf. Usia terjadinya gerak saraf ini antara 2 hingga 15 tahun. Gerakan saraf itu berkurang selama tidur dan mungkin dapat ditekan selama periode yang singkat selama penderita sadar.
Pada hampir semua anak, tourette syndrome merupakan gerakan yang berulang, dimana kecemasan, stres, dan kelelahan seringkali meningkatkan terjadinya gerakan syaraf (Bagheri, Kerbeshian, & Burd, 1999). Antara 5 hingga 10 % dari pasien tidka mengalami perubahan atau justru semakin memburuk hingga usia remaja dan dewasa. Pada pasien yang lebih tua, gerakan syaraf cenderung lebih stabil sepanjang waktu, walaupun mungkin bentuk gerakan syaraf baru muncul. Tidak ada cara yang dapat memprediksi bahwa penderita kanak-kanak dapat memiliki prognosis yang lebih buruk.
Bagheri, Kerbeshian, & Burd (1999) menjelaskan bahwa penyakit syaraf dan tourette syndrome biasanya disertai dengan kondisi lain. Tiga kondisi yang menyertai antara lain ADHD (50% penderita tourette syndrome juga menderita ADHD), kesulitan belajar (25-30% dari pasien), dan obsesif-kompulsif (25-40%).
Kriteria diagnosis untuk penyakit Tourette (Bagheri, Kerbeshian, & Burd, 1999):
1. Memiliki lebih dari satu gerak motorik dan satu atau lebih gerak syaraf vokal yang telah muncul pada waktu tertentu selama sakit, walaupun hal itu belum tentu terjadi.
2. Gerak syaraf terjadi pada banyak waktu dalam sehari pada setiap hari atau berselang-seling selama periode waktutertentu selama lebih dari satu tahun, dan selama periode tersebut tidak ada periode waktu yang terbebas dari gerak syaraf selama lebih dari tga bulan.
3. Penyebab yang mengganggu penyakit ini ditandai dengan stres atau ketidaksesuaian sosial, hubungan dengan yang lain yang berkaitan dengan pentingnya area fungsi.
4. Kemunculannya sebelum usia 18 tahun.
5. Hal yang mengganggu tidak tergantung pada pengaruh fisik atau obat-obatan (seperti stimulan) atau kondisi medis umum (seperti penyakit Hutington atau postiviral encephalitis).
Disamping pemberian obat-obatan yang harus terus diberikan, terapi secara psikologis juga harus dilakukan dan diberikan kepada subjek untuk membantu proses pencegahan penyakit tourette syndrome ini agar tidak semakin parah. Intervensi tersebut antara lain:
1. Terapi Perilaku
Program pemberian reinforcement positif menjadi suatu cara yang dapat menolong penyimpangan gerak syaraf. Perilaku target mungkin dikategorisasikan dalam dua kelompok, yaitu defisiensi keahlian, atau area yang secara khusus menjadi konsentrasi untuk melatih keahlian sosial dan akademis, serta perilaku diluar batas, hal ini bertujuan untuk membantu pasien mengurangi frekuensi dari munculnya perilaku yang dimiliki.
Dapat digunakan skala sederhana untuk merangking perilaku yang bermasalah, dibuat dengan dasar pertimbangan respon untuk intervensi. Pendekatan ini dapat membantu anak dengan masalah perkembangan ganda. Untuk anak dengan masalah kronis, skala ini menolong khususnya saat mulai sulit untuk mengetahui seberapa jauh kemajuan yang telah terjadi. Seperti peraturan penting lainnya, orang tua dan guru harus melengkapi tiga rating untuk anak yang menjadi penderita. Data ini, lalu akan dikombinasikan dengan asesmen dari ahli medis yang akan mengetahui dasar keparahan penyakitnya. Skala rating mungkin juga dapat digunakan untuk mengevaluasi perubahan dalam respon dan intervensi saat melakukan monitoring sepanjang waktu mengenai tingkat keparahan penyakitnya.
2. Pemantauan
Walaupun bukan sesuatu yang darurat, seperti perilaku menyakiti diri sendiri atau keadaan yang tak terduga, terapis dapat mengikuti pasien selama beberapa bulan sebelum melakukan tritmen yang telah dirancang. Beberapa tujuan dari pengobatan tahap pertama adalah untuk : membuat dasar dari simptom yang ada; menemukan hal yang berhubungan dengan kesulitan di sekolah, keluarga, dan hubungan dengan teman; memberikan tes psikologis dan medis; memantau jarak dan fluktuasi simptom yang paling sering; dan membentuk hubungan.
3. Psikoterapi
Sebagai tambahan, terapis harus menggunakan teknik perilaku khusus (seperti hipnoterapi dan relaksasi) dan akan ada alternatif pengobatan lain yang dapat dilakukan (seperti akupuntur dan suplemen diet). Teknik perilaku kognitif yang spesifik dapat dikembangkan untuk digunakan untuk pasien tertentu dengan tourette syndrome.
4. Habit Reversal
Habit reversal terdiri dari beberapa komponen, yaitu pelatihan terhadap kesadaran awareness training) dan pemantauan terhadap diri sendiri, pelatihan relaksasi, prosedur respon pengganti (competing response), manajemen yang berkelanjutan, dan pemantauan terhadap ketidaknyamanan. Penderita akan diberikan hal-hal tersebut sebagai tugas rumah.
5. Supportive Therapy
Dalam kondisi terapi bentuk dukungan ini, penderita memilih topik pembahasan sendiri dalam sesi pertemuan dan fokus terhadap pengalaman, refleksi, dan mengekspresikan perasaan tentang apa yang terjadi di dalam kehidupan dan bagaimana pemecahan masalahnya.
6. Intervensi sekolah
Tetapi akan menjadi lebih baik bila penderita tourette syndrome dapat berinteraksi dengan teman-teman di kelas apabila memang tingkat keparahannya belum terlalu tinggi. Hal ini supaya keparahan penyakitnya tidak bertambah karena membuat penderita merasa mendapat dukungan dan perhatian dari teman-teman di sekolahnya.
7. Hubungan dengan keluarga
Keluarga dapat menolong penderita untuk melawan hal-hal negatif yang dapat mengganggu stabilitas si penderita (Dhamayanti, Riandani, & Resna, 2003). Sejumlah anak-anak yang mengalami kerusakan neuropsychiactirc (saraf) dan keluarganya memang perlu mendapatkan dorongan dan pelayanan terutama mereka yang sedang mengalami pertumbuhan pada saat sekarang ini
8. Psikoedukasi
Dalam hal ini, pemerintah seharusnya memiliki program yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada seluruh masyarakat mengenai kesehatan mental. Program ini dapat menyertakan pihak Departemen Sosial, Departemen Sosial, BKKBN, hingga LSM di bidang-bidang kesehatan. Tidak hanya itu, pemerintah dapat memperkenalkan tiap-tiap penyakit yang ada melalui cara-cara tertentu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan membuat masyarakat lebih memahami dan lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Hal ini dikarenakan sebenarnya masyarakat harus memberi dukungan secara moral bagi penderita suatu penyakit, dalam hal ini adalah tourette syndrome untuk mencegah bertambah parahnya penyakit itu. Masyarakat harus diberi tahu bahwa tourette syndrome bukanlah penyakit menular yang perlu ditakutkan.