Tampilkan postingan dengan label inFo PsiKoLogi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inFo PsiKoLogi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 November 2008

Tentang Nanda

Aku tak pernah mengenal siapa ibu dan ayahku. Aku seorang anak perempuan bernama Nanda dan berusia 5 tahun. Aku hanya bisa merasakan bahwa aku mendapatkan kasih sayang di sini, walaupun aku harus berbagi dengan yang lain. Aku tak punya apa-apa dan tak punya siapa-siapa. Aku mendengar banyak suara di sini, suara yang kata-katanya seringkali terlalu sulit dipahami. Aku disentuh banyak orang di sini, entah siapa dia. Aku hanya bisa menangis.

Tempat ini adalah tempat bagi anak-anak sepertiku yang tidak pernah mengenal siapa ayah maupun ibu kandungnya dan anak-anak yang tidak pernah akan memiliki ayah ataupun ibu angkat sekalipun. Di sini kami dibuang. Orang banyak berdatangan hanya untuk memberikan rasa kasiannya kepada kami, tapi mereka sama sekali tak pernah berniat membawaku pulang. Aku sepi dalam kesunyianku ini. Tak ada bentuk yang mampu kutatap, aku hanya sanggup melihat hitam dalam gelap. Aku tak pernah bisa melihat siapa yang merawatku, siapa yang memandikanku, siapa yang memberiku makan, siapa yang mengajakku jalan-jalan, dan siapa saja yang membelaiku. Aku hanya mampu mendengar suaranya.


Aku hanya sanggup menangis ketika aku merasakan lapar, sakit, dan sepi. Tak ada satupun orang yang tahu maksud tangisanku, mereka semua hanya menerkanya. 

Aku selalu kesulitan menelan semua makanan maupun minuman yang masuk ke dalam mulutku. Aku harus digendong, dipaksa, dan makanan harus dicekoki agar masuk ke dalam tubuhku. Rasanya sakit ketika itu, saat makanan itu harus masuk ke dalam tubuhku, tapi aku tahu bahwa untuk tetap hidup aku harus makan.

Aku tak sanggup berjalan, tak akan sanggup, dan tak akan pernah bisa. Aku lumpuh karena aku terkena cerebral palsy. Ada orang yang memberiku fisioterapi, tapi aku sendiri tidak yakin kalau itu cukup membantuku.

Aku pasrah dalam kesepianku, dalam kesendirianku, dan dalam kegelapanku. Orang tuaku tidak menginginkan aku, tapi Tuhan tetap menginginkan aku merasakan kejamnya dunia ini. Aku anak yang dibuang, aku gagal diaborsi oleh ibuku, karena itu ia membuangku ketika tahu aku bukanlah bayi yang lucu. 

Ada seorang perempuan yang seringkali datang memberikanku pakaian, makanan, dan belaian. Aku mampu mendengar suaranya, aku mampu rasakan ketulusannya, ada hangat dalam sentuhan tangannya. Ada rindu mendalam agar ia mendekapku dan memanggilku sayang. Mungkinkah dia ibuku?

*diangkat dari kisah seorang anak di Yayasan Sayap Ibu Yogyakarta, Panti Asuhan dan SLB-G Daya Ananda"

Minggu, 19 Oktober 2008

fansku kabuurrr

Ada yang lupa aku ceritain selama aku ada disana. Minggu kemarin, aku mulai kenal sama pasien dari bangsal temenku yang bukan bangsal temen kelompokku, gara-garanya pasien itu main ke bangsalnya temen sekelompokku, jadilah aku kenalan sama dia.
Jujur aja, proses perkenalan kita berdua biasa aja, nggak ada yang spesial, cuman ngobrol-ngobrol biasa, itu juga rame-rame sama temen-temenku yang lain. Tapi, hari besoknya, ternyata dia langsung hafal banget sama namaku dan nanyain aku ke temen-temenku, bahkan temenku sampai bete, karena selama ngobrol yang diomongin pasien cuman aku aja. Haha, lucu banget ya. Aku punya fans loh. Bahkan kalo aku ketemu sama dia di jalan, dia langsung teriak-teriak manggil namaku.Nggak cuman itu, dia sempet nyusulin aku ke bangsalku, nyari aku, tapi nggak boleh masuk ke dalam bangsal sama perawat.
Sayangnya, beberapa hari kemudian, setelah di suatu Magrib aku nggak berenti pas dia manggil aku, fansku kabur. Iya, dia kabur dari RSJ bersama seorang temenku. Pantesan hari itu, selama aku jalan keliling RSJ, rasanya sepi banget karena nggak ada yang manggil-manggil namaku. Aku sedih banget, bukan hanya karena dia kabur, tapi juga karena kasian kalo sampe ternyata dia nggak bisa balik ke rumahnya, atau justru malah jadi gelandangan.
Semoga dia bisa pulang ke rumahnya... Oh, fansku tersayang...

Listening their story, making me crying

Tiga minggu udah aku lewatin untuk praktek di RSJ Magelang. Semuanya terasa menyenangkan banget, walaupun ada hal-hal yang gak aku suka dari proses kebersamaan kelompok di sana, tapi kalo udah urusan sama pasien, bikin aku seneng banget. Bisa ngilangin semua perasaan sedih, bete, marah, bahkan bisa bikin aku ngucap Alhamdulillah di dalam hati.
Apalagi pas hari Jumat kemarin, pas aku dan temen-temen sekelompok bikin Terapi Aktivitas Kelompok. Rasanya seneng banget karena mereka semua ngerasa seneng dengan acara yang kita bikin, ngikutin tiap games yang hasilnya ternyata seru banget, bisa bikin mereka belajar. Aku juga jadi makin kenal sama semua pasien yang ada di bangsalku. Aku bisa ngeliat kalo mereka semua yang tinggal di sana ternyata saling mendukung dan menyemangati satu sama lain, bahkan mereka bisa ngajak becanda temen-temennya sendiri. Apalagi aku, aku merasa terhormat banget bisa dikenal sama mereka semua, bisa jadi pusat perhatian, dan bahkan bisa berbagi tawa sama mereka. Mereka bisa bikin aku ketawa, bisa aku ketawain, bahkan bisa aku becandain.
Mungkin keliatannya kurang ajar dengan becandain mereka dan nganggep mereka sebagai temen-temenku sendiri yang dengan seenaknya bisa aku ajakin becanda. Tapi, selama 3 minggu ini, aku ngeliat ada sedikit perbedaan diantara mereka, ada beberapa orang yang udah bisa menampakkan ekspresi wajah sesuai dengan perasaanya, tentunya dengan ngajakin mereka supaya bisa sensitif dengan apa yang mereka rasain, karena aku dan temanku selalu nanyain perasaan mereka setiap kali kita ngobrol.
Tapi, tiba-tiba di hari jumat sore, aku ngerasa sedih banget ngeliat mereka. Aku jadi pengen banget nangis. Semua karena kondisi mereka yang ternyata hampir semua dari mereka nggak diterima sama keluarganya, bahkan keluarga mereka merasa bahwa RSJ adalah tempat terbaik buat mereka. Padahal, mereka tuh pengen banget bisa pulang, pengen banget kumpul lagi sama keluarganya, dan pengen banget bisa hidup normal. Aku yakin, minum obat setiap hari kalo nanti mereka udah sembuh, pasti bakalan terasa berat banget, apalagi ditambah sama keluarga yang nggak ngedukung...
Aku jadi nggak pengen pergi dari mereka, aku pengen terus ngasih dukungan ke mereka, ngasih kebahagiaan buat mereka. Bayangin aja, hampir semua dari mereka bilang aku cantik loh... Jarang-jarang kan tuh.
Nanti, pasti aku bakalan kangen banget sama mereka. Tinggal lima hari lagi aku disana, trus bakalan jauh dari mereka. Aku sekarang bisa bilang, kalo aku sayang banget sama mereka. Dan berharap, kalo suatu saat aku kesana lagi, mereka udah nggak ada disana lagi.

Sabtu, 11 Oktober 2008

Kunjungan ke rumah pasien

Sebenernya, sebelum nulis postingan ini, masih banyak cerita tentang Lebaran yang harusnya lebih dulu di posting di sini. Tapi, berhubung daku merasa sangat-sangat sibuk sekali belakangan ini, disertai dengan kondisi fisik yang tidak yahud, dan ketiadaan akses internet selama daku berpraktek di RSJ Magelang, alhasil nanti postingannya bakalan rada flash back.

Hari Rabu kemaren, sepulang nemenin praktek seorang psikiater tersohor di RSJ Magelang yang kebetulan praktek di RSU Tidar, daku dan seorang teman mencoba untuk dateng ke rumah pasien, dua orang sekaligus. Hebat bukan?
Bermodalkan secarik kertas denah dari perawat bangsal daku yang baik hati dan tidak sombong, daku dan temanku yang bersedia memboncengiku itu mencari2 rumah kedua pasien itu dengan semangat menggebu dan menggelora. Untungnya aja dua2nya masih berada di kawasan Magelang dan sekitarnya. Selain itu, pasien yang kedua yang akan kami kunjungi baru kami putuskan untuk mengunjunginya saat kami berada di tengah perjalanan. Betapa semangatnya diri kami bukan???
Di rumah pasien pertama, agak sulit dan berliku mencarinya, tapi untungnya lagi (lagi, lagi si untung disebutin) rumahnya gak tlalu masuk-masuk ke dalam gang yang jauh ditempuh dan disentuh. Yah, gampang lah. Sayangnya kami berdua sedikit mendapatkan perlakuan yang rada tidak ramah dari pihak keluarga. Ternyata, keluarga pasien itu adalah keluarga sambungannya a.k.a ibu dan saudara2 tiri, ayah si pasien udah meninggal. Jadilah, penolakan mentah-mentah yang sangat halus kami terima dari keluarga itu yang ternyata secara tidak langsung juga sudah menolak pasien. Menilik pasien yang keliatan rada punya keterbelakangan mental, jadi kasian sama pasien yang ternyata udah ditolak mentah-mentah sama keluarga sambungan yang tinggal di rumah ayahnya yang udah meninggal. Entah juga ya kalo ternyata ada faktor lain di luar itu semua.
Di rumah pasien kedua, ternyata alamat rumah yang kami tulis udah nggak ditempatin lagi sama pihak keluarga pasien. Untungnya (duh, si untung beruntung banget dari awal disebut-sebut) tetangga-tetangga di sekitarnya cukup baik dengan ngasih tau alamat adik perempuan si pasien. Wah, senang sekali karena si adik menyambut kami dengan cukup ramah dan bersedia menceritakan semua hal yang berkaitan dengan hubungan pasien dengan keluarga.

Jadi menyimpulkan sendiri, kalo ternyata jadi pasien sakit jiwa di RSJ terkadang akan lebih baik daripada dia balik lagi ke lingkungan rumahnya. Karena penolakan dari lingkungan sangat mungkin diterima oleh pasien yang udah diperbolehkan pulang. Gimanapun, walaupun pihak keluarga mendukung, belum tentu kan tetangga dan teman-teman pasien bisa mendukung pasien secara penuh? Padahal, pihak RSJ udah berusaha keras dan maksimal supaya pasien bisa berinteraksi lagi secara normal dengan lingkungan sekitarnya, tentunya dengan catatan bahwa lingkungan sekitar itu bisa mendukung kesembuhan pasien. Tapi terkadang, kenyataannya gak seindah itu. Itu mungkin jadi satu-satunya alasan yang menurut daku cukup kuat, kalo suatu saat si pasien bakalan balik lagi ke RSJ dan bisa aja jadi expand yang berulang-ulang kali keluar-masuk di RSJ.

Jumat, 26 September 2008

When I feel that's I'm the lucky one

Selama proses minggu pertama ada di RSJ, rasanya cukup membosankan dan masih banget penuh dengan perasaan "aku pengen pulang". Semua dirasain karena makanan yang ada di sana kurang bisa mewakili keinginan makanku, tempat tidur bertingkat yang lebih mirip kamar di panti asuhan, udara panas yang mendominasi kota Magelang yang katanya dingin, bahkan sampe rasa kesulitan membuang isi perut setiap harinya.
Hari demi hari mulai kerasa ada persaingan antara satu teman dan teman yang lain. Cukup menyulitkan, tapi aku tahu kalo ini bakalan kejadian, walaupun belum ada pertengkaran sengit, tapi yang namanya sikut menyikut udah mulai terasa.
Pembagian bangsal untuk kelompok dimana satu bangsal dipegang sama dua orang udah mulai diundi. Kebetulan, supervisorku megang bangsal cowok aja. Setelah melakukan undian, aku dan temanku mendapatkan bangsal P15 yang berarti letaknya paling ujung karena merupakan bangsal paling akhir. Sempet khawatir juga kalau bangsal P15 khusus untuk lansia, walaupun itu semua tidak terbukti.

*
Baru pas hari ketiga kami sekelompok sempet soan ke bangsal P15 dengan rasa berat hati setelah seharian lelah ikut tentiran seorang Psikiater yang nggak tepat waktu. Perkenalan dilakukan sama seorang temen yang kebetulan nggak kedapetan bangsal itu. Jujur aja, bangsal itu adalah bangsal yang bisa dibilang paling jelek diantara bangsal lain. Tetapi, menurut temen-temen, bangsal-ku adalah satu-satunya bangsal yang kepala perawatnya paling ganteng. Haha... Lucu ya, padahal dia merupakan satu-satunya kepala bangsal yang kurang bersahabat.

*
Hari kemudiannya, aku bersama temanku yang memang dapet jatah di bangsal P15 dengan nekat mendatangi bangsal dengan perasaan dag-dig-dug... Rencananya kami bedua pengen banget liat-liat status pasien dan mengakrabkan diri sama para perawat.
Begitu masuk ke dalam bangsal dan menemui perawat, aku menemui salah satu perawat dan menanyakan soal status pasien. Setelah itu, aku ma temenku kenalan sama perawat yang.... ihik, ihik... ganteng-ganteng, masih muda-muda, dan mereka pun cukup baik dan akrab. Bahkan, kocaknya aku sempet ngegodain beberapa perawat cowok disana saat kita ngobrol rame-rame. Oia, bahkan temenku punya seorang pasien idola yang menurutnya cukup ganteng untuk jadi pasien. Aku pun juga punya pasien idola yang cukup ramah dan udah bisa bersosialisasi dengan baik yang syukurnya keesokan harinya dia udah dijemput pulang sama keluarganya.

*
Hari terakhir di RSJ, aku ma temenku ke bangsal P15 lagi untuk ngelanjutin tes grafis dan observasi-wawancara. Lucunya, ketemu lagi sama perawat baru yang ganteng (dia incaranku!!!) yang sayangnya sebentar lagi udah mo nikah dan udah make cincin di jari manis tangan kirinya. 

*
Intinya sih, kayaknya sesulit apapun nanti proses yang aku laluin di sana, aku bisa lari ke bangsal P15 menikmati ngobrol dan bercanda sama perawat yang ganteng-ganteng... Ahahahaha...

First Day

Jam 7 pagi lebih sedikit, temanku udah jemput di depan kost bersama seorang temanku yang lainnya. Aku sudah siap dengan peralatan tempurku, yaitu sebuah backpack pulang kampung dengan isi perabotan untuk 5 hari ke depan, sebuah tas karung berisi buku2 psikologi segede2 gaban, tas kecil berisi gantungan baju dan makanan2, serta sebuah tas ransel khusus untuk laptop. Aku dan teman-teman pun berangkat ke RSJ Prof. dr. Soeroyo Magelang dengan sejuta perasaan gundah gulana.
Setibanya di RSJ, sebenernya aku langsung pengen balik aja ke Jogja dan nggak mo lagi ngelanjutin praktek disana yang sebenernya gak lama-lama banget karena cuman 20 hari. Apa yang aku rasain nggak cuman perasaan takut nggak bisa ngadepin orang-orang yang dianggep sakit jiwa itu tapi juga takut banget ngadepin semua proses yang bakalan kejadian di sana. Yah, bayangin aja tinggal sama 14 orang temen-temen lain dalam satu rumah selama 20 hari... 
Hari pertama, isinya cuman orientasi tempat aja sama seorang psikolog senior di sana yang kebetulan bukanlah supervisorku. Aku ma temen-temen diajakin keliling ke banyak bangsal, baik bangsal W (wanita) dan bangsal P (Pria), walaupun nggak semuanya kita masukin, tapi keliling beberapa bangsal aja udah bikin kaki rasanya pegel banget. Kami dikenalin ke beberapa gerombolan perawat, yang secara umum mereka semua cukup baik dan bersahabat. Tapi sayangnya, bangsal yang bakal jadi daerah jajahan kelompokku baru satu aja yang kita datengin karena waktu tidak memungkinkan lagi.
Selama keliling itu, ada beberapa hal yang menarik, dimana beberapa diantara aku ma temen-temen masih ngerasa takut kalo musti jalan di sekitar orang sakit jiwa, karena takut dicolek, ditanyain, atau bahkan diikutin. 
Aku sih justru lebih banyak ngerasa sedih dan kasian ngeliat beberapa pasien, karena aku berpikir bahwa mereka nggak seharusnya di situ, dan aku jadi bersukur sama ke-normal-an aku saat ini. Rasanya jadi bahagia banget. Padahal sih nggak jarang juga aku ikut ketawa saat denger cerita-cerita pasien. Salah satu pasien sempat ada yang bercerita :
Pasien : "Mbak kenalan dong..." dia melihat ke arahku dan teman-teman dengan wajah sumringahnya.
Aku : menyebutkan namaku sambil tersenyum, "Nama Mas siapa?" tanyaku.
Pasien : "Guntur Wirawan Kardikusuma, bla, bla, bla"
Aku : "Wah, namanya bagus yah... panjang banget... Panggilannya siapa, Mas?"
Pasien : "Guntur, Mbak..." dia mengangguk-anggukkan kepalanya. "Mbak, saya ini tahanan politik pendidikan. Saya sempet di penjara loh Mbak. Saya ini masih keluarganya Mbak Tutut, jadi saya pengen banget ketemu sama dia. Saya ini tahanan loh Mbak. Saya ini pemberontak tadinya." Ucapnya sambil setengah berbisik.
Aku : Mengangguk-angguk sok ngerti padahal bingung.
Pasien : "Mbak jangan bilang siapa-siapa ya... Saya Guntur, Mbak. Saya ini.... " Ia lantas mengangkat tangannya dan menggerak-gerakkan jari telunjuknya di udara seolah-olah sedang menulis sesuatu. "Sst... Rahasia ya, Mbak." 
Aku : Mengangguk-angguk, lalu menutup mulutku rapat-rapat dan seolah menguncinya dengan gembok.

*
Di Unit Perawatan Intensif, aku ma temen-temen sempet ngeliat proses ECT (Electroconvulsive Therapy). Katanya sih banyak yang gak tahan ngeliatnya, tapi nggak tau aku justru penasaran banget kayak apa bentuknya. Ternyata...
Pasien (seorang laki-laki) diikat kaki dan tangannya dengan tali dan sabuk. Lalu, sekujur tubuhnya dipegangi oleh beberapa orang setelah sebelumnya ditutupi selimut. Setelah itu, sebuah mesin khusus dinyalakan dan ada dua buah kabel khusus yang ditempelkan di kepalanya baik sebelah kanan maupun sebelah kiri. Seketika, kepalanya tergeleng-geleng, lalu kabel pun di lepaskan. Kemudian, tiba-tiba badannya mengejang beberapa kali dan pasien berteriak mengaduh tak terkendali. Tubuhnya yang mengejang harus dipegangi, karena katanya akan ada kemungkinan ia mengejang tak terkendali.
Aku jadi berpikir, betapa tidak manusiawinya keadaan itu. Seorang manusia disetrum oleh sebuah alat, disaksikan oleh banyak sekali perawat, dokter muda, dan para calon psikolog. Lalu, seorang perawat menjelaskan proses yang terjadi kepada semua penonton. Dan aku saat itu juga berada dalam keadaan itu, menjadi penonton. Dia (si orang sakit jiwa itu) menjadi objek, layaknya seperti tikus, disaksikan banyak orang. Dan yang menyedihkan, aku sempat berkenalan dengan objek, Dimas, si penderita waham kebesaran. Aku menjadi seorang yang tak beda dari orang lain yang memanfaatkannya.

Kamis, 07 Agustus 2008

screening SD

Pagi ini nyampe Puskesmas udah diingetin sama Mas Psikologku untuk ikut dia ke proyek yang dikasih sama SD Purworejo I dan II (Pakem). Katanya sih sekolah itu termasuk sekolah inklusi (sekolah yang menerima juga anak-anak berkebutuhan khusus dan anak-anak itu diberikan program pengajaran sama dengan anak-anak pada umumnya di sekolah itu) yang akan mengajukan program beasiswa bagi anak-anak berkebutuhan khusus itu, dimana masing-masing anak yang telah berhasil didiagnosa oleh psikolog sebagai anak berkebutuhan khusus akan menerima beasiswa dari dinas pendidikan sebesar 600 ribu rupiah tunai secara langsung untuk biaya sekolah mereka.

Aku pun ikut dia ke sekolah itu, melihat 12 siswa yang diduga berkebutuhan khusus dan mewawancarai serta mengobservasi mereka, tentunya kami berdua membagi tugas... biar cepet! Aku mendapat bagian 5 anak dan beliau mendapat jatah 7 anak. Sayangnya, kebanyakan dari mereka telah salah didiagnosis oleh guru sekolah itu. Misalnya, si guru udah terlanjur melabel kalo si anak hiperaktif, padahal... nggak sama sekali, mungkin lebih tepat kalo dibilang anak agresif atau distractability child (susah memusatkan perhatian pada pelajaran dan perhatiannya mudah beralih, tapi bukan Attention defisit loh!). Sebenernya cukup kasihan melihat anak-anak itu dilabel demikian oleh sekolah karena mau tak mau hal itu bisa berdampak buruk pada masa depan mereka di kemudian hari dan tentunya bisa berpengaruh pada prestasi mereka di sekolah selanjutnya.

Setelah melakukan observasi dan wawancara, sejauh apa yang telah aku lakukan, aku dan Mas psikologku memberi penjelasan yang lebih detail kepada pihak sekolah melalui kepala sekolah, mengenai apa yang seharusnya mereka lakukan tentang pemberian label/cap kepada anak-anak didiknya. Mungkin memang benar bahwa anak-anak itu memiliki kebutuhan khusus, tetapi tidak se-ekstrim istilah yang mereka berikan pada si anak. Jadi, kami mungkin hanya bisa mengidentifikasi bahwa mereka mengalami gangguan belajar atau lambat belajar, bukan hiperaktif, dll.

Jadi, lebih baik berhati-hati untuk memberi label pada anak, karena mungkin saja hal itu bisa berakibat banyak bagi anak, bahkan mungkin hingga ke masa depan mereka.

Sabtu, 05 Juli 2008

gara-gara puskesmas



Hehe... Kocak banget kayaknya deh info yang gue buat kali ini... Sebenernya sih, semua ini gara-gara gue praktek di puskesmas...

Begini ceritanya...
Mulai Senin besok, udah ada jadwal posyandu di tiap desa yang ada di bawah naungan puskesmas tempat gue praktek... Nah, di sana kan nanti gue berhak ngasih penyuluhan apa aja... Lalu, malam minggu nan membosankan ini, akhirnya gue memutuskan untuk cari bahan kesehatan yang tentunya ada hubungannya sama posyandu dan psikologi... Udah lumayan banyak dapet info dari internet, tapi blum gue bikin tulisan untuk penyuluhannya... Walaupun bahan untuk penyuluhan ke dukun bayi blum gue dapet sih...

Ketika sedang mencari di salah satu situs, gue nemu ada judul artikel "Kiat Mendapatkan Bayi Laki-laki atau Perempuan" isinya sih masih wajar, berkaitan dengan penghitungan kalender menstruasi, dan bla, bla, bla... Nah, artikel selanjutnya lah yang bikin gue mikir (wah, ternyata bisa juga to dibikin sampe dikasih tau "gaya"nya segala????) Judulnya... FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN JENIS KELAMIN PADA BAYI (infobunda.com)



Isi artikelnya:

“Mendapatkan bayi laki-laki atau perempuan sama saja.” Kata-kata itu sering kita dengar dari pasangan yang sedang menunggu datangnya buah hati. Tapi kadang-kadang dalam hati mereka, ada keinginan yang tak bisa disangkal bahwa mereka punya harapan agar anak yang lahir perempuan atau laki-laki. Bisakah anak yang lahir kita rancang sebagai laki-laki atau perempuan? Bisa!

Usaha pertama yang harus dilakukan tentu saja dengan berdoa dan meminta langsung pada Sang Maha Pencipta. Cara lainnya, selalu berusaha dan berusaha terus sampai keinginan kita terkabul dan tentu saja dengan cara yang aman dan dihalalkan.

Secara ilmiah, penentuan jenis kelamin calon bayi sangat dipengaruhi oleh jenis kromosom yang berhasil menjangkau sel telur. Bila kromosom X yang membuahi sel telur, maka akan lahir bayi perempuan. Sebaliknya, bila kromosom Y yang membuahi, maka akan lahir bayi laki-laki.

Sifat kromosom X berbeda dengan kromosom Y. Kromosom X, meski masa hidupnya lebih lama, tetapi memiliki kemampuan "berenang" lebih lambat dibandingkan dengan kromosom Y. Sedangkan kromosom Y itu perenang tangkas meski masa hidupnya lebih pendek.

Di bawah ini ada beberapa faktor yang dapat menentukan jenis kelamin pada calon buah hati Anda, diantaranya:

1. Faktor makanan
* Jika menginginkan seorang bayi perempuan
Suami harus makan makanan yang banyak mengandung alkaline, mineral kalsium
dan magnesium, sedangkan istri banyak makan makanan yang mengandung asam, mineral
kalium dan natrium. Makanan yang banyak mengandung alkaline, mineral kalsium dan
magnesium adalah: sayur-sayuran, buah-buahan, putih telur, susu, ganggang laut,
kacang-kacangan, susu, dan lain-lain. Makanan yang banyak mengandung asam, kalium
dan natrium adalah daging, makanan laut (sea food), garam, teh, dan lain sebagainya..

* Jika menginginkan bayi laki-laki
Suami harus banyak mengkonsumsi makanan yang banyak mengandung asam, mineral,
dan magnesium. Sedangkan istri harus banyak mengkonsumsi makanan yang banyak
mengandung alkaline, mineral kalsium dan magnesium (lihat jenis makanan diatas).


2. Faktor waktu (kapan berhubungan)
* Jika menginginkan seorang bayi perempuan
Lakukan coitus (persetubuhan/senggama) 2–3 hari sebelum ovulasi (masa subur).
Dengan demikian, hanya kromosom X yang lebih bertahan lama sampai menunggu sel
telur terlepas dari ovarium. Ovulasi adalah saat terlepasnya sel telur dari indung telur
dalam rahim.

* Jika menginginkan bayi laki-laki
Waktu berhubungan dilakukan sedekat mungkin dengan ovulasi, sebaiknya tepat pada
ovulasi, berkisar antara 12 jam sebelumnya.

Bagaimana mengetahui periode masa haid? Pada saat temperatur atau suhu tubuh
meningkat. Anda bisa menggunakan alat pengukur suhu tubuh dan mencatatnya sebagai
record dan alatnya dapat dibeli di apotek-apotek.


3. Faktor penetrasi
* Jika menginginkan seorang bayi perempuan
Suami harus menghindari penetrasi terlalu dalam pada saat berhubungan. Sehingga
diharapkan sel sperma kromosom X saja yang berkesempatan tetap hidup dan terus
berenang menuju sel telur.

* Jika menginginkan bayi laki-laki
Suami disarankan untuk melakukan penetrasi yang dalam pada saat berhubungan,
sehingga sebagian besar dari sperma Y langsung masuk ke rahim.


4. Faktor Orgasme
* Jika menginginkan seorang bayi perempuan
Usahakan istri tidak mencapai orgasme selama berhubungan. Secresi cairan yang keluar
dari kemaluan wanita akan menjadi alkaline (basa) jika terangsang, hal ini akan
mendorong aktifitas spematozoa Y.

* Jika menginginkan bayi laki-laki
Upayakan istri dapat orgasme lebih awal dari suami atau bersamaan.


5. Faktor persiapan istri
* Jika menginginkan seorang bayi perempuan
Sebelum coitus, basuh vagina dengan 2 sendok makan larutan white vinegar/cuka yang
sudah dicampur dalam 1 liter air bersih. Hal ini dilakukan agar kondisinya menjadi asam
sehingga aktifitas spermatozoon Y menurun.

* Jika menginginkan bayi laki-laki
Cuci vagina dengan larutan dari dua sendok soda kue yang sudah dicampur dalam satu
liter air bersih, sehingga suasana menjadi basa.


6. Faktor posisi
* Jika menginginkan seorang bayi perempuan
Disarankan posisi waktu berhubungan adalah yang klasik/berhadapan yaitu, posisi istri
di atas suami sehingga sperma tertampung di sekitar mulut rahim.

* Jika menginginkan bayi laki-laki
Posisi suami pada waktu berhubungan berada di atas istri. Hal ini mengikuti sifat dari
spermatozoon Y akan cepat menuju sasaran (sel telur).

Dan bagaimanakah cara menghitung masa ovulasi atau puncak masa subur seorang wanita? Silahkan lihat keterangan di bawah ini:
* Diketahui tanggal awal masa bersihnya seorang perempuan setiap bulan, misalnya setiap
tanggal 05.
* Diketahui tanggal akhir masa bersihnya seorang perempuan setiap bulan, misalnya setiap
tanggal 27.
* Rumus: (tanggal akhir setiap bulannya – tanggal awal setiap bulannya) / 2 = n;
* kemudian n + tanggal awal masa bersih dari seorang perempuan = masa ovulasi atau
puncak masa suburnya seorang perempuan

Contoh:
(27 – 05) /2 = 11; 05 + 11 = 16, jadi…setiap hari ke 16 dari sejak awal bersihnya seorang perempuan adalah puncak masa subur dari seorang perempuan atau masa ovulasi.




Hihi... Jadi geli sendiri gue... Bisa juga ya sampe segitunya???? So, ada yang mau mencoba... Haha... Selamat Mencoba!

Sabtu, 03 Mei 2008

Tourette's Syndrome....


Tourette syndrome adalah penyakit yang ditemukan pada tahun 1885 dan diberi nama sesuai nama penemunya, yaitu ahli syaraf dari Perancis, Georges Gilles de la Tourette (Dhamayanti, Riandani, & Resna, 2003). Penyakit ini dikarakteristikkan dengan gerak motor dan suara yang berulang-ulang yang sering. Tourette syndrome adalah kelainan saraf yang muncul pada masa kanak-kanak yang dikarakteristikan dengan gerakan motorik dan suara yang berulang serta satu atau lebih tarikan saraf (tic) yang bertambah dan berkurang keparahannya pada jangka waktu tertentu (Schultz, Carter, Gladstone, Scahill, Leckman, Peterson, Zhang, Cohen, & Pauls, 1998). Berdasarkan DSM IV, gerakan saraf terjadi tiba-tiba, sering, berulang, tidak teratur, dicirikan dengan gerakan motor dan vokal (Hoekstra, Kallenberg, Korf, & Minderaa, 2002). Contoh, gerakan saraf yang terjadi seperti kedipan mata yang berulang, mengerutkan hidung, gerakan kepala, tenggorokan mengeluarkan suara batuk dan menggumam. Gerakan saraf umumnya terjadi dalam satu hari, dimana gerakan itu semakin lama bisa semakin bertambah dan berkurang tergantung tingkat keparahannya. Biasanya, pada pasien individual, gerakan saraf ini biasanya bisa berubah, beberapa gerakan saraf menghilang dan hal yang baru muncul pada satu waktu. Dengan meningkatnya usia, simptom dapat menurun tergantung pada intensitas keparahan tipe gerakan saraf. Usia terjadinya gerak saraf ini antara 2 hingga 15 tahun. Gerakan saraf itu berkurang selama tidur dan mungkin dapat ditekan selama periode yang singkat selama penderita sadar.

Pada hampir semua anak, tourette syndrome merupakan gerakan yang berulang, dimana kecemasan, stres, dan kelelahan seringkali meningkatkan terjadinya gerakan syaraf (Bagheri, Kerbeshian, & Burd, 1999). Antara 5 hingga 10 % dari pasien tidka mengalami perubahan atau justru semakin memburuk hingga usia remaja dan dewasa. Pada pasien yang lebih tua, gerakan syaraf cenderung lebih stabil sepanjang waktu, walaupun mungkin bentuk gerakan syaraf baru muncul. Tidak ada cara yang dapat memprediksi bahwa penderita kanak-kanak dapat memiliki prognosis yang lebih buruk.

Bagheri, Kerbeshian, & Burd (1999) menjelaskan bahwa penyakit syaraf dan tourette syndrome biasanya disertai dengan kondisi lain. Tiga kondisi yang menyertai antara lain ADHD (50% penderita tourette syndrome juga menderita ADHD), kesulitan belajar (25-30% dari pasien), dan obsesif-kompulsif (25-40%).

Kriteria diagnosis untuk penyakit Tourette (Bagheri, Kerbeshian, & Burd, 1999):

1. Memiliki lebih dari satu gerak motorik dan satu atau lebih gerak syaraf vokal yang telah muncul pada waktu tertentu selama sakit, walaupun hal itu belum tentu terjadi.

2. Gerak syaraf terjadi pada banyak waktu dalam sehari pada setiap hari atau berselang-seling selama periode waktutertentu selama lebih dari satu tahun, dan selama periode tersebut tidak ada periode waktu yang terbebas dari gerak syaraf selama lebih dari tga bulan.

3. Penyebab yang mengganggu penyakit ini ditandai dengan stres atau ketidaksesuaian sosial, hubungan dengan yang lain yang berkaitan dengan pentingnya area fungsi.

4. Kemunculannya sebelum usia 18 tahun.

5. Hal yang mengganggu tidak tergantung pada pengaruh fisik atau obat-obatan (seperti stimulan) atau kondisi medis umum (seperti penyakit Hutington atau postiviral encephalitis).

Disamping pemberian obat-obatan yang harus terus diberikan, terapi secara psikologis juga harus dilakukan dan diberikan kepada subjek untuk membantu proses pencegahan penyakit tourette syndrome ini agar tidak semakin parah. Intervensi tersebut antara lain:

1. Terapi Perilaku

Program pemberian reinforcement positif menjadi suatu cara yang dapat menolong penyimpangan gerak syaraf. Perilaku target mungkin dikategorisasikan dalam dua kelompok, yaitu defisiensi keahlian, atau area yang secara khusus menjadi konsentrasi untuk melatih keahlian sosial dan akademis, serta perilaku diluar batas, hal ini bertujuan untuk membantu pasien mengurangi frekuensi dari munculnya perilaku yang dimiliki.

Dapat digunakan skala sederhana untuk merangking perilaku yang bermasalah, dibuat dengan dasar pertimbangan respon untuk intervensi. Pendekatan ini dapat membantu anak dengan masalah perkembangan ganda. Untuk anak dengan masalah kronis, skala ini menolong khususnya saat mulai sulit untuk mengetahui seberapa jauh kemajuan yang telah terjadi. Seperti peraturan penting lainnya, orang tua dan guru harus melengkapi tiga rating untuk anak yang menjadi penderita. Data ini, lalu akan dikombinasikan dengan asesmen dari ahli medis yang akan mengetahui dasar keparahan penyakitnya. Skala rating mungkin juga dapat digunakan untuk mengevaluasi perubahan dalam respon dan intervensi saat melakukan monitoring sepanjang waktu mengenai tingkat keparahan penyakitnya.

2. Pemantauan

Walaupun bukan sesuatu yang darurat, seperti perilaku menyakiti diri sendiri atau keadaan yang tak terduga, terapis dapat mengikuti pasien selama beberapa bulan sebelum melakukan tritmen yang telah dirancang. Beberapa tujuan dari pengobatan tahap pertama adalah untuk : membuat dasar dari simptom yang ada; menemukan hal yang berhubungan dengan kesulitan di sekolah, keluarga, dan hubungan dengan teman; memberikan tes psikologis dan medis; memantau jarak dan fluktuasi simptom yang paling sering; dan membentuk hubungan.

3. Psikoterapi

Sebagai tambahan, terapis harus menggunakan teknik perilaku khusus (seperti hipnoterapi dan relaksasi) dan akan ada alternatif pengobatan lain yang dapat dilakukan (seperti akupuntur dan suplemen diet). Teknik perilaku kognitif yang spesifik dapat dikembangkan untuk digunakan untuk pasien tertentu dengan tourette syndrome.

4. Habit Reversal

Habit reversal terdiri dari beberapa komponen, yaitu pelatihan terhadap kesadaran awareness training) dan pemantauan terhadap diri sendiri, pelatihan relaksasi, prosedur respon pengganti (competing response), manajemen yang berkelanjutan, dan pemantauan terhadap ketidaknyamanan. Penderita akan diberikan hal-hal tersebut sebagai tugas rumah.

5. Supportive Therapy

Dalam kondisi terapi bentuk dukungan ini, penderita memilih topik pembahasan sendiri dalam sesi pertemuan dan fokus terhadap pengalaman, refleksi, dan mengekspresikan perasaan tentang apa yang terjadi di dalam kehidupan dan bagaimana pemecahan masalahnya.

6. Intervensi sekolah

Tetapi akan menjadi lebih baik bila penderita tourette syndrome dapat berinteraksi dengan teman-teman di kelas apabila memang tingkat keparahannya belum terlalu tinggi. Hal ini supaya keparahan penyakitnya tidak bertambah karena membuat penderita merasa mendapat dukungan dan perhatian dari teman-teman di sekolahnya.

7. Hubungan dengan keluarga

Keluarga dapat menolong penderita untuk melawan hal-hal negatif yang dapat mengganggu stabilitas si penderita (Dhamayanti, Riandani, & Resna, 2003). Sejumlah anak-anak yang mengalami kerusakan neuropsychiactirc (saraf) dan keluarganya memang perlu mendapatkan dorongan dan pelayanan terutama mereka yang sedang mengalami pertumbuhan pada saat sekarang ini

8. Psikoedukasi

Dalam hal ini, pemerintah seharusnya memiliki program yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada seluruh masyarakat mengenai kesehatan mental. Program ini dapat menyertakan pihak Departemen Sosial, Departemen Sosial, BKKBN, hingga LSM di bidang-bidang kesehatan. Tidak hanya itu, pemerintah dapat memperkenalkan tiap-tiap penyakit yang ada melalui cara-cara tertentu untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dan membuat masyarakat lebih memahami dan lebih peduli dengan lingkungan sekitar. Hal ini dikarenakan sebenarnya masyarakat harus memberi dukungan secara moral bagi penderita suatu penyakit, dalam hal ini adalah tourette syndrome untuk mencegah bertambah parahnya penyakit itu. Masyarakat harus diberi tahu bahwa tourette syndrome bukanlah penyakit menular yang perlu ditakutkan.