Tampilkan postingan dengan label naasarep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label naasarep. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Januari 2012


mengucap janji sehidup semati

berikrar akan setia selamanya

membuka mata dan melihat teman di samping tempat tidur

seindah itu?

sayangnya, tidak selalu….

Sabtu, 09 Juli 2011

Pada Pagi Yang Penuh Rindu

Sudah pagi..

Tidak, tapi masih pagi..

Selewat larut malam tapi mata tak bisa jua terpejam..

Terlalu sulit karena saat kupejamkan mata cuma kamu yang diketemukan..

Padahal aku tdk mencari..

Malah aku ingin menghilang..

Tenggelam dalam batas lalu merasakan sepi sendirian..

Tapi selayak gelap yang melarang, aku merindu pertemuan..

Aku dan kamu..

Tidak, aku menggenggammu..Erat..

Mencoba untuk tidak jatuh..

Dalam cinta..

Yang semestinya harus tidak boleh kuketemukan..

Rabu, 20 April 2011

Tentang Waktu


Waktu masih tetap berjalan menghabiskan detik demi detik yang memang menjadi kewajiban untuk diterbitkannya. Hari juga masih saja terus berganti menemani aku yang tak sekedar sendiri menghabiskan pagi hingga malam menjemputnya. Hidup memang tak selalu sepi karena ada banyak jiwa yang saling bertemu di kala waktu masih saja memburu.


Lalu, mimpi menjadikan kita tak pernah berhenti menunggu datangnya besok. Kala kita rindukan kemarin, semua semu kenangan yang sulit tersapu dihapus harapan. Tak pantas tapi bukan berarti mudah untuk bisa menjadikannya pupus. Buat apa punya hati kalau setiap rasa tak boleh disimpan baik-baik di kedalaman ruang yang tak berbatas? Tapi, apakah masih perlu kisah yang mengganggu datangnya esok hari?


Senin, 21 Maret 2011

Kenapa tidak bersama ketika kita sama-sama punya hati yang butuh pasangannya?

"Punya pacar gih sana!" Ucapmu ketika malam sudah terhanyut di tepian sore dan gelap sudah menodong rembulan untuk bersinar terang di langit.

Aku menggenggam tanganmu dalam balutan keringat yang selalu saja kau keluarkan tiap kulit telapak tanganku menyentuh tanganmu. Terdiam. Hanya sanggup menatap wajahmu.

"Jangan kerja melulu. Sok workaholic,deh. Gak pantes tauk!" Protesmu sembari menasehatiku.

"....." Aku masih memilih untuk terdiam dan tak melepaskan genggamanmu di tanganku.

"Kamu nggak capek apa, tiap hari bangun pagi langsung kerja? Sampe kantor belum ada orang. Kerja gila-gilaan sampe sore. temen-temen kamu udah pulang kamu belum. Matahari udah ngilang kamu baru pulang. Nggak capek?" tanyamu padaku. Semakin membutuhkan jawaban.

"Yah, kalo emang kerjaanku banyak gimana? Aku kan harus nyelesain itu semua. Kalu nggak dikerjain, besok pasti bakal dateng kerjaan lagi. Bisa numpuk kan? Mending yang hari ini aku selesein biar nggak ganggun yang besoknya." Aku mencoba membela diriku sendiri.

"Trus hidup kamu cuma berkutat sama kerjaan aja? Pulang langsung tidur. Sekali-sekali bergaul dong." komentarmu.

"Ini kita lagi ngapain coba?" tanyaku sambil menatap matamu yang bulat penuh itu.

"Jangan sama aku terus dong. Cari kenalan lain. Temen-temen kamu yang lain. Siapa tahu bisa dapet pacar. Nanti keasyikan kerja lupa lho sama yang namanya nikah. Jangan kerja terus yah!" ujarmu sambil tersenyum.

"Apa aku masih harus mencari?" tanyaku sembari mengeratkan genggamanku.

Kamu lepaskan genggaman tanganku. Memaksaku untuk mau melakukan itu. Lalu, tanganmu justru memberiku peluk hangat di bahu. Mengusap-usap punggungku sesekali. Kamu tahu benar bahwa air mataku sebentar lagi sudah akan keluar. Menahan kesedihan tentang pencarian itu.

"Kenapa tidak mencari kalau masih ada kesempatan untuk melakukan itu?" tanyamu.

"Bahkan ketika aku merasa sudah menemukannya?" komentarku lirih. Suaraku sudah mulai terisak saat kamu merengkuh tubuhku tenggelam dalam peluk tubuhmu yang hangat.

"Siapa sih yang udah kamu temuin? Apa dia pantas untuk memiliki kamu?" tanyamu. Sesekali bahkan kamu menghapus tetes-tetes air mata yang mengalir begitu saja di kedua pipiku.

"Pertanyaannya bukan itu." jawabku, "Tapi, apakah dia mau memilikiku?" kuberanikan menatap kedua matamu yang sejak tadi tak lekang memandang wajahku yang penuh air mata.

Kamu cuma tersenyum.

"Aku terlalu lelah untuk mencari. Tidak bolehkah aku yang dicari? Aku enggan lagi memberi cinta ketika rasa itu tak pernah mendatangiku. Bahkan, kini aku bingung dengan cinta itu sendiri. Masihkah aku memilikinya dalam hati?" air mataku masih mengalir. Tak ada isak. Tak ada sesak. Tetes-tetes itu mengalir begitu saja.

"Pasti ada. Nanti. Lalu, kamu akan bergandengan tangan dengan kekasihmu. Dan aku akan bergandengan tangan dengan kekasihku. Berempat, kita membahas masa depan." Kamu kini memelukku dengan kedua belah tanganmu.

"Tidak bolehkah kekasihmu dan kekasihku itu tak ada?" tanyaku.

"Kenapa? Mereka harus ada dong supaya kita kehilangan sepi."

"Aku cuma mau ada kamu dan aku."

"Nggak boleh egois." Tangan kirimu mengacak-acak rambut di kepalaku.

"Kalau aku cuma punya sayang buat kamu?"

"Ssst... Aku juga sayang kok sama kamu." ungkapmu.

"Lantas, kenapa kamu tidak bersamaku saja?"

"Karena Tuhan punya rahasia. Kita tak pernah tahu esok."

Sudahlah. Aku tak pernah mengerti tentang keinginan Tuhan. Aku cuma makhluk kecilNya yang menunggu esok datang penuh kebahagiaan karena ingin tahu tentang apa yang terjadi selanjutnya. Apakah karena aku dan kamu sama makanya kita tak bisa bersama? Aku tak pernah paham kenapa hatimu masih selalu ragu saat tubuhmu sanggup mendekapku penuh rasa yang menghangatkan. Biar hati yang memilih ia mau hati yang mana. Walau cinta tak pernah kutahu bagaimana wujudnya, tapi aku tahu bahwa hati punya keberanian sendiri untuk memilih satu hati yang bisa mendampinginya tiap hari. Lalu, sampai detik ini aku masih memilih hatimu. Iya, kamu yang sekarang memelukku di bawah langit malam.

Kamis, 13 Mei 2010

satu warna dunia dalam raga

merupakan kata
yang seringkali terungkap kala keraguan melanda
memberondong menyerang logika menjadi curiga
perlahan mengkerdilkan pernyataan
lebih di luar biasanya



ada sebab dibalik setiap akibat
menjadikan suara yang bergema menjadi satu bentuk premis utuh
kata yang menyudutkan waktu pada sudut ruang sempit dunia
kaku dan semu
itu rindu yang berubah menjadi cemburu

menjadi lebih
membuat kesimpulan pada membabi buta
paksa sadar bukan jalan keluar
tapi biar raga mengarah pada nyata
mengatakan bahwa semua karena rasa
keutuhan dalam jiwa yang berbentuk hati

berjalan dalam diam
sesak diantara tangis
melangkah dalam kegelapan ruang
berharap bentuk yang utuh
mungkin bukan kini
tapi tubuh yang seluruh
menggenggam senyum dalam kepalan

dunia dalam raga itu berwarna merah marun
dunia dalam raga ini berwarna ungu
lalu pada satu waktu warna itu terpadu menjadi satu
entah bagaimana berubah
bilakah bisa tersebut?
***

Rabu, 21 April 2010

Di Dalam Diam

Dalam diam yang tercipta di gegap gempita malam, aku memperhatikanmu yang duduk tepat di depan kedua mataku yang mengarahkan tatap. Bila waktu membuang dirinya tanpa tersadar sendiri, aku menikmatinya karena detik demi detik yang habis hanya kulalui untuk menyaksikanmu menjalani dunia. Diantara ketidakjelasan aku mencoba memahami setiap rasa yang tumbuh diantara dua hati, aku dan kamu. Bahkan, ketika kamu mencoba untuk mengabaikannya, rasa itu terus menjadi raksasa yang akan menguasai masing-masing hati kita. Nantinya, kita berdua akan terjerembab dalam jurang perasaan yang membuat kita kesulitan untuk membebaskan diri.

Aku menunjukkan apa yang terbentuk dalam jiwa dengan laku tak biasa. Aku memelukmu dalam kesenyapan suara, aku memelukmu diantara sesaknya ruang, aku merengkuh kesyahduan pada keheningan suasana, dan maka aku berusaha memutuskan batas yang menjadi halang bagi kalimat tak terbantahkan. Aku menciptakan cara menjadikan peristiwa yang pasti tak bisa terlupakan.

Kadang ingin sekali menyatakan segala isi yang seperti akan meluap dari ruang hati. Tapi, aku mencoba menahan agar kamu merasakannya juga tanpa harus kupaksakan. Aku bersabar untuk menjadikan segalanya menjadi lebih baik di mata kita. Maka, tanpa berkata aku mencukupkan ego untuk menunjukkan semua bentuk dan susunan kerinduan. Mulut pun kukunci rapat agar tak menyatakan apa yang tak seharusnya tersampaikan kepadamu. Merasakan saja setiap sanjung yang terlalu sedikit dapat ternikmati. Membiarkan saja orang lain menilai kebersamaan kita sebagai suatu wujud yang berbeda. Lalu, aku akan terbuai dalam ketidakpastian yang melontarkan sejuta tanya padamu yang terpaku.

Bertahan dalam kerahasiaan hati sendiri akan menjadi beban yang terlalu menyakitkan. Tetapi melalui satu per satu sikap yang tampak dalam gerak-gerikmu kujadikan harap. Aku terus menjalani hari dan menganggap rasa yang kuberikan ini tak pernah salah. Tak akan kubiarkan hatiku menangis dalam pertanyaan yang belum jua kudapatkan jawabannya.





Aku tahu kamu memahami
Mengerti karena kamu insan yang punya nafas
Meyakini bahwa manusia tak salah bila mencintai
Diamku di sini menjadikanmu panduan rasa
Maka aku tak akan bicara
Merelakan kamu menghabiskan siang untuk merenungi
Lalu, kita kembali bergumul mengurai arti bahagia

Selasa, 03 November 2009

Perempuan Paling Berarti Dalam Hidup

Pada ruangan 4 X 5 meter ini aku termenung dalam kegelapan menuju lelap. Sendirian seperti setiap malam biasanya. Menggantungkan bayang tentang tempat nun jauh di sana yang selalu hangat memeluk kala tubuh mulai merapuh. Rumah. Satu-satunya tempat tujuanku untuk kembali setelah terbang melambung ke langit luas mengerikan. Sekarang, aku sedang jauh dari tempat terindah yang menjadi istana termegah dalam ruang hatiku. Aku sungguh merindu setiap jiwa yang ada di dalamnya, dimana mereka selalu terucap dalam setiap hembusan nafasku dan menjadi bagian dari doa yang tak pernah putus.

Kini, aku akan bercerita tentang salah seorang yang ada di dalamnya. Perempuan yang paling berarti dalam hidupku, mungkin tanpa pernah kusadari. Namun, aku tak pernah berhenti untuk selalu menyebut namanya dalam setiap kegundahan yang mencoba menghancurkanku. Ibu. Dia yang selalu menjadi musuh terbaikku sekaligus kekuatan terbesarku untuk merenggut mimpi-mimpi yang masih tergantung. Sosok yang selalu kurindukan dalam setiap kali kepulanganku, karena aku ingin sekali selalu mendekapnya erat dan tak ingin kulepaskan.

Kata banyak orang, melihatku seperti melihat ibuku. Tak bercela wajahku menyerupainya, tetapi bagiku dia jauh lebih cantik dan sempurna daripada aku. Menjadi anaknya dan bagian dari keluarganya adalah satu-satunya kenikmatan yang tak kan pernah berhenti untuk kusyukuri. Aku sungguh terlena menjadi anak yang pernah lahir dari rahimnya. Walaupun, dia tak pernah mau bercerita jelas tentang caranya melahirkanku ke dunia ini. Aku paham benar, mungkin aku terlalu merepotkan waktu itu, tidak… bahkan sepertinya hingga sekarang aku terus membuatnya tak bisa melangkah dengan tenang.

Luasnya langit di angkasa menggambarkan betapa besarnya cintaku padanya. Tulus, tak berbatas, walau terkadang mungkin aku lengah mengabaikan kebaikannya. Rasanya aku tak akan pernah berhenti memohon maaf dan bersujud di kakinya, karena aku terlalu banyak menyakiti hatinya, terlalu banyak membuatnya memikirkanku, terlalu banyak membiarkannya kelelahan menjalani hari, dan terlalu banyak melupakan kata-katanya. Maaf, karena aku terlalu sering menjadi anak yang terlampau peduli pada diri sendiri.

Ibuku suka bernyanyi dan menciptakan lagu. Ia suka sekali bernyanyi diiringi orgen tunggal saat acara resepsi keluarga, lagunya tentang I Have a Dream dari Westlife. Ia suka menciptakan lagu tentang keluarga dan rumah kami. Sayangnya, aku tidak sanggup mengingat lagi secara utuh lagu-lagu itu. Tidak hanya itu, dia selalu memberi nama kepada semua boneka yang dulu sempat kumiliki. Lalu, dia juga selalu memarahiku setiap kali pulang mengambil rapor sekolah. Lantas dengan berani, saat duduk di sekolah menengah, aku memintanya tidak lagi marah melihat nilaiku. Atas semua itu, aku tetap masih mencintainya sepenuh hatiku.

Belakangan ini, aku seketika ingat dengan jelas mengenai satu cerita terindah yang pernah diceritakan ibu. Dulu, sewaktu aku masih kecil dan ayah-ibuku bekerja, ia selalu menyanyi untukku. Setiap malam, saat ibuku telah kembali dari kantor dan aku sedang bersiap untuk tidur. Ibuku menggendongku dalam kain panjang batik dan membawaku keluar rumah, ia memberikan botol susu ke dalam mulutku, lalu mulai bernyanyi sambil menunjukkan bintang dan bulan yang bertebaran di langit gelap. Rasanya, itu menjadi awal mula aku menggila-gilai langit dan seisinya. Ibu bernyanyi, menyanyikan lagu lama yang sepertinya tak pernah selesai kudengar akhirnya, karena aku terlanjur tertidur sebelum ibu usai menyelesaikannya.

Di wajahmu kulihat bulan
Menerangi hati gelap rawan
Biarlah daku mencari naungan
Di wajah damai rupawan

Serasa tiada jauh dan mudah dicapai tangan
Ingin hati menjangkau kiranya tinggi di awan

Di wajahmu kulihat bulan
Bersembunyi di balik senyuman
Jangan biarkan ku tiada berkawan
Hamba menantikan tuan

Kini, tempat yang berbeda sedang memisahkan aku dan ibuku. Tetapi, sebentar lagi aku pasti pulang dan memeluknya hingga hari berganti. Aku merindukannya setengah mati dan tak kan pernah lupa mengatakan cintaku setiap dia sempat bicara padaku dari jarak jauh. Usianya sudah beranjak tua dan kurasa aku sudah membuatnya terlampau lelah. Kartu tanda penduduknya saja sudah tidak perlu diperpanjang lagi, tetapi aku masih saja merepotkannya. Lalu, pada hari ini saat ia menambah lagi usianya, aku ingin sekali tersenyum menatap wajah cantiknya itu dan berkata…

“Ibu! I lap u!!!” Memeluknya dan menciumnya berkali-kali hingga ibuku kepayahan.


******


…TERIMA KASIH IBU…



(sisa kue ibu yg ditinggal di kost)






*saat ibu ulang tahun, hanya sebuah kue kecil dan kecupan di kedua pipinya yang sanggup kuberikan*

Kamis, 10 September 2009

Berhenti Menunggu






Dia selalu tak pernah absen meraih tanganku saat aku terpuruk. Menyentuh hatiku ketika tangis menyelimuti, hingga air mata terhapus oleh bahagia. Dia selalu bilang bahwa sedikit senyum menjadikan aku semakin tegar menjalani hari yang seringkali terasa pelik. Bukan matanya yang meneduhkan, bukan dirinya yang menguatkan, bukan tawanya yang menyejukkan, tetapi kata darinya yang selalu membuatku merasa utuh.

”Apakah aku akan menemukan tepian?” aku menatapmu saat malam berusaha kita habiskan selayak biasanya.

”Pada hati yang terlalu luas? Kurasa tidak.” kamu menatap langit dan menghela nafas seolah putus asa.

Kalimat itu selalu membuatku meragu, memaksakan diri untuk terus berpacu. Meresapi setiap waktu yang bisa kuhabiskan bersamanya. Diantara kegundahan, perih, takut, tawa, dan bahagia. Aku bisa menemuinya setiap saat bila dunia membuatku terluka. Bukan dengan belaian sayang dia mendekapku, tetapi kekuatannya yang berhasil menampar kekalahanku. Lalu, aku sanggup berdiri dan berjalan kembali menentang prahara.

”Kemana aja?” dia bicara kala satu waktu bertemu denganku setelah sekin lama.

”Kamu yang kemana aja?” perlawanan tegas kuucapkan sebagai wujud kerinduan.

”Setiap malam aku menunggu.”

”Disaat aku menunggumu?”

”Tidakkah kamu hendak membunuh jemu itu?”

”Haruskah aku?”

”Bila saja kamu mau sedikit berkorban.”

”Lalu, aku memperjuangkanmu? Tidakkah sebaliknya?”

”Aku ingin kamu sekarang.”

”Aku ingin kamu juga. Tapi tidak sekarang. Sanggupkah kamu menunggu lagi?”

”Diantara sepi dan kesendirian bersama ketidakpastian yang sanggup membunuhku?”

”Tidak. Aku akan menemanimu walau sempitnya waktu membatasi kita.”

”Kamu pikir aku sanggup?”

”Aku tidak memohon. Tapi aku berharap.”

”Lantas, aku akan bilang aku lelah. Aku berhenti saja.”

”Disini? Membiarkanku sendiri?”

”Tidak. Kamu bersama mimpimu. Biarkan aku bersama dia.”

”Dia? Mimpimu?”

”Bukan. Dia yang sanggup selalu ada bersamaku.”

”Membunuh mimpi kita?”

”Aku hanya mencoba merealisasikan mimpimu yang bukan aku.”

Ia pergi membalikkan langkah, berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. Membiarkan aku memecah sunyi dengan tangisan yang menyiksa. Membuat seumur hidupku akan mengingat dengan jelas tentang setiap suara jejak yang ia tinggalkan.




*ketika menatap sebuah foto*

Jumat, 28 Agustus 2009

Ketika Siang Merindukan Malam




Aku ingin menangis
Tidak! Aku ingin berteriak
Pada ruang dan jarak yang membentang
Membatasi jiwaku untuk menyentuhmu
Padahal sejak lama harap mendesak untuk terkuak
Melekatkan sunyi untuk kau lucuti

Tanya selalu saja menyesakkan
Melantunkan lirik tentang pertemuan aku dan kamu
Walaupun waktu tak jua datangkan peluang
Sejuta mimpi selalu kugantungkan
Menghilangkan kehausan akan sepi
Lepaskan lara yang membelenggu

Ingin kembali pada peraduan
Menemui malam yang bersembunyi di sudut
Perhatikan ragamu yang belum kupeluk
Temukan rahasia pada hasrat di setiap celahmu
Hingga pagi menyambangi bila tangan bertaut



Tidakkah kamu?
Tidak usah lagi beringsut
Benar ini tentang kamu
Kamu yang sempat terpojok di sudut karena aku








*saat ingin sekali pulang

Kamis, 18 Juni 2009

butuh jeda


Sebenarnya bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan terlalu berlebihan ketika langkah ini menentukan arahnya sendiri.

Menjadi bukan perkara apa-apa ketika waktu yang dilalui terasa terlalu cepat, padahal kaki ini sudah berusaha keras untuk terus berlari.

Pagi yang berubah menjadi siang, seketika bisa menjadi sore, dan dalam kejapan mata langsung berubah menjadi malam.

Satu, dua, tiga, hingga sampai seratus, mungkin seribu. Hitungan menjadi semakin banyak dan lebih dari satu digit.

Tak salah bila merasa jengah, lelah, dan mau marah. Namun, mimpi itu masih jauh di angan. Terlalu tergesa bila ingin menyerah. Jalan yang ditempuh sudah terlalu jauh, tak mungkin berputar, pengecut bila ambil jalan pintas, dan akan menjadi malu bila harus jalan berbalik.

Tidak sekedar membutuhkan tangan untuk meraih, bahkan tak sanggup bila di bantu kaki yang menjinjit. Menaiki kursi masih terlalu sulit, kursi yang ada di atas meja pun tak sanggup ikut membantu. Butuh tangga dengan banyak anak. Tidak cukup itu, masih harus ada jalan yang lebar, setapak, berbatu, berbukit, bahkan jurang yang dalam.

Lalu, akan dibutuhkan istirahat yang sejenak saja. Ketika semua terasa melelahkan, saat perjuangan membutuhkan helaan nafas panjang, dan pejuang itu sendiri terlalu lelah untuk terus bersemangat.

Tiang yang kokoh suatu saat bisa saja hancur. Batang pohon yang besar dan kuat seketika bisa saja tumbang. Lantas, tubuh yang tegar pun pantas jika merasa lemah.

Semua ini bukan berarti kalah. Tak berarti besok akan terdiam di tempat tanpa bergerak. Pantang menyerah untuk menyongsong matahari. Urung pulang bila malam belum datang.

Ini bukan maksud menunjukkan bahwa kisah ini adalah yang paling menyedihkan. Karena setiap nurani menceritakan kisahnya sendiri. Masing-masing insan memiliki sakit yang berbeda.



Bila saja ada satu jarak pendek yang bisa diciptakan. Sesaat saja. Hanya butuh jeda. Satu spasi saja sepertinya akan membuat semua bisa terasa lebih lega.








(tidak hanya kamu.... semua orang akan membutuhkan jeda...)

_buka mata, hati, dan telinga untuk bisa berbagi rasa, tangis, dan tawa_




Kamu mengambil lagi rokok dan menyalakannya lagi dengan api. Menghisapnya. Memejamkan mata sesaat. Lalu, tak lama kamu pun menghebuskan asap dari mulutmu. Kamu terdiam. Menikmati hisapan demi hisapan rokokmu. Tak ada suara. Tak bicara. Hanya asap yang keluar dari bibirmu seolah mencoba menggambarkan gundahnya jiwa.

Detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan yang kamu lalui terasa begitu membebani. Kehidupan yang sedang kamu alami sedang penuh tekanan. Banyak hal yang harus kamu raih. Ada tumpukan tugas yang harus kamu selesaikan. Beberapa masalah pun membuatmu sibuk dengan diri sendiri.

Kutatap wajahmu, matamu, dan gerak tubuhmu. Ada lelah yang tampak di sana. Cemas, takut, sedih, dan gulana itu yang paling tampak. Fikiran dan hati itu sekarang tampak memikirkan dirinya sendiri. Tidak lagi mampu membuai orang lain dengan keteduhan dan kesediaan mendengarkan segala keluh kesah. Kamu ingin didengar, dilihat, dan dipedulikan. Sedikit saja.

Aku masih mencoba mengamati dari sini. Memandangmu yang tampak kuyu dengan segala beban itu. Tetapi kamu mencoba bertahan, mencoba menyimak dengan baik, karena semua tahu dirimu begitu adanya.

Kamu tetap mendengarkan cerita cintanya, mendengarkan sakit hati yang dialaminya, mendengarkan luka batin yang dideritanya, dan mendengarkan tangis jiwa yang dirasakannya. Tanpa dia tahu tentang apa yang sedang kamu alami.

Aku masih dari jauh menatap.

Kamu bersikap yang tidak biasa ketikan dia meminta saran darimu. Hingga... Kamu menghela nafas sambil membuang abu di ujung rokokmu itu.
"Jalani hidupmu. Coba lupakan itu!" kamu bangkit dari tempat duduk, lalu pergi. Kembali menghisap rokokmu. Untuk kali ini kamu pergi. Bukan tidak peduli. Hanya butuh ruang untuk sendiri.




Buka mata hati telinga
Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta
Yang kau inginkan tak selalu
Yang kau butuhkan mungkin memang yang paling penting
Cobalah untuk membuka mata hati telinga
(Maliq and D'Essentials-Mata Hati Telinga)





Kamu terlalu banyak mendengar soal cinta. Terlalu banyak manusia yang percaya dengan cinta. Semua orang di sekitarmu menggilai cinta. Seakan hanya kamu yang hanya bisa sadar dengan kebodohan yang dibuat oleh cinta yang gila itu. Seperti tinggal kamu yang sanggup mendengar segala cerita tentang derita cinta itu. Seolah tubuhmu saja yang belum dirasuki racun cinta itu.

Kamu selalu ingin menyelesaikan yang lain selain cinta. Kamu terus berharap bisa mengerjakan hal lain tanpa memikirkan cinta. Kamu terus berpijak pada langkah yang tak hanya mengejar cinta. Kamu terus mencari hikmah dari semua misteri yang tak pernah terpecahkan, tetapi itu bukan cinta. Buatmu, banyak hal yang lebih penting dari sekedar ucapan cinta. Kamu tak sadar bahwa mata, hati, dan telinga pada tubuhmu terlalu terbuka mengenali segala cita-cita lain. Lalu, pada akhirnya, kamu terlalu menutup diri untuk membuka hati pada seorang cinta.

Aku masih mengikutimu. Membuntutimu dari sini. Mencecapi setiap jejakmu yang terlalu rapuh.

Kamu seketika berhenti. Ini pada sebuah hutan luas yang terlalu indah untuk ditakuti. Namun, kamu sendirian. Hingga rasa takut itu menghinggapi kesepianmu. Lalu, kamu mencari sebuah pohon yang paling besar. Terduduk di bawahnya. Mematikan rokokmu. Melingkarkan lututmu, menundukkan kepala. Lantas, kamu mulai menangis.

Aku tetap menatapmu.

Kamu terisak. Perlahan sekali. Hingga di hutan seluas ini pun tak ada yang mendengar. Kamu merasakan keberadaan yang hanya dirimu sendiri. Tak ada yang lain. Tanpa cinta. Tanpa ada tempat untuk berbagi rasa, berbagi tangis, dan berbagi tawa. Kamu mulai menyadari bahwa kamu membutuhkan seseorang. Mulai menyadari bahwa kamu membutuhkan apa yang selama ini orang lain butuhkan dari dirimu.

Aku masih menyaksikanmu.

Pertahanan tegapmu itu seketika runtuh. Kamu tak seteguh itu. Kamu menjadi rapuh.

Lantas, masihkah kamu bisa membuka mati, hati, dan telinga untuk hal lain saja? Tidak pada satu kata itu? Tidak menuju ke perwujudan kata itu?

Aku memperhatikanmu semakin seksama. Berjalan ke arahmu.

Memegang bahumu dan duduk di sampingmu. Diam saja.

Kini, di hutan luas ini. Tempat yang terlalu indah ini. Ada kamu yang sendiri. Ada aku yang sendiri. Ada kita berdua. Di bentangan alam ini ada jejakku di sampingmu, ada langkahku mengiringimu, ada senyumku menemanimu, ada tawaku menghiburmu, dan ada tangisku meratapimu.

Jadi, mari berjalan ke depan sana. Pada tempat yang jauh dan entah berujung dimana. Jangan tengok ke belakang. Jangan takut gelap. Jangan takut terik matahari. Jangan takut rintangan. Bila saja kamu jatuh, aku akan ulurkan tangan. Tidak perlu kita melangkah bersebelahan. Cukup saja kamu tahu bahwa aku ada.

Sabtu, 30 Mei 2009

Friendship

Teman.... Teman baik.... Sahabat... Sahabat baik...



*
Aku berada dalam ruang yang tentu saja terdiri dari banyak manusia dengan karakter berbeda satu sama lainnya. Setiap diantara mereka akan dengan sengaja bersama orang-orang yang memiliki karakter sama atau setidaknya saling merasa nyaman. Hingga orang-orang lain pun menyatukan dirinya bersama kedekatan masing-masing. Sampai beberapa orang terlihat berpasangan karena lebih nyaman menjalani segalanya berdua saja. Semua akan saling berikrar sebagai sahabat dalam kelompoknya sendiri.
Aku menjadi seseorang yang ada di sini. Berada dalam kelompokku, namun belum mampu mengikrarkan mereka sebagai sahabat. Terlalu cepat rasanya. Aku takut salah, karena terkadang aku mampu juga bergabung dengan yang lain.


*
Aku mengetahui beberapa orang. Lebih tepat kusebut sebagai mereka. Kukenal setiap aku berganti kelas dan berganti tempat. Persahabatan di lokasi. Hmm... mirip cinta lokasi. Aku selalu dekat dengan siapapun yang menghabiskan waktu denganku. Sejauh ini aku berusaha begitu. Mereka menjadi pengisi hatiku saat sepi. Mereka semua teman-teman sebangkuku, temanku saat berjalan pulang ke rumah, dan temanku saat menghabiskan waktu di jalan.

Aku mengenal beberapa orang sudah sejak lama. Aku mengenal mereka semua dengan baik. Mengerti apa yang mereka rasakan. Paham tentang semua kebiasaan yang dilakukan. Aku dan mereka bisa tertawa bersama. Tapi, sulit bagiku untuk menangis bersama mereka. Maaf, bukan aku tak percaya. Hanya saja, ketika itulah hatiku bicara. Aku ada disini untuk mereka, namun tak apa bila mereka tak ada walaupun aku membutuhkan mereka.


*
Aku mengenal beberapa orang. Pada situasi yang berbeda. Pada kesempatan yang berbeda. Pada waktu yang berbeda. Bila disatukan, aku tidak yakin kami semua bisa cocok.
Dia menjadi seseorang yang penting dalam hidupku. Hingga kini, saat ia seringkali mengatakan bahwa aku adalah belahan jiwanya. Walau aku sendiri belum yakin. Aku memang belum pernah menangis di depannya. Tetapi banyak waktu yang kami habiskan berdua lewat tertawa. Banyak kesamaan diantara kami, banyak perbedaan yang mampu dipadukan, namun ada juga nasib yang membuat kami menyadari bahwa kami berbeda. Tahukah, ketika aku menuliskan ini, dia mengirimkanku sebuah pesan singkat yang berisi:
"Cahaya bukan hanya sebuah nama pelita, tapi menerangi kelamnya hati. Cahaya bukan padam karena hitam, tapi dia padam tanpa banyak makna menjiwainya. Tapi, yang kutahu... cahaya yang kupunya adalah kamu. Kamulah cahaya jiwa, digundah dan dukaku."
Tidakkah kami saling memikirkan di saat bersamaan tanpa sengaja?


*
Aku mengenal satu orang ini sudah cukup lama. Dia seseorang yang secara fisik mungkin tak sempurna. Ada kecacatan yang membuat hidupnya terbatas. Namun, entah kenapa seringkali aku melihatnya sangat sempurna. Banyak hal yang membuat kami menangis bersama. Banyak kenyataan yang membuat kami belajar. Banyak waktu terlalu sulit kami habiskan bersama. Tetapi kami seringkali saling merindu. Dia sangat sederhana dan terlalu biasa saja. Justru semua itu membuat ketidaksempurnaannya menjadi sesuatu yang mampu kuterima apa adanya.

*
Banyak orang yang terlalu sulit untuk diceritakan. Setiap orang yang kukenal punya makna berbeda dalam hidupku. Tidak sekedar teman, teman baik, sahabat, atau sahabat baik. Kehidupan seseorang pun akan berbeda ketika mereka melihat orang-orang di sekitarnya. Menjadi lebih berwarna.
Tak peduli beberapa orang yang membuatku kecewa. Berapa teman yang secara tak sadar meremehkanku. Berapa sahabat yang tak sengaja membenciku. Berapa teman baik yang telah membohongi. Berapa teman yang telah mengkhianati. Biar saja aku yang tahu bahwa aku kecewa. Namun, mereka akan tetap menjadi bagian dari hidupku.

Ketika berada di titik yang belum jauh ini. Ada beberapa orang yang kuanggap lebih dari itu semua. Aku punya beberapa orang yang menganggapku kakak dan aku menganggap mereka adik. Saudara. Saat itu semua terasa menjadi lebih indah. Keluarga. Walaupun tidak memiliki warna darah yang sama merahnya.

Sahabat terbaik. Dia menjadi satu orang yang selama ini kuanggap pelengkap hidup. Pengaruh terpenting di dalam hidupku. Banyak hal yang mampu kupelajari darinya. Hingga aku sendiri tak peduli akan anggapannya tentangku.


*
Tentang teman, teman baik, sahabat, sahabat baik.
Menilai setiap orang dalam hati tentunya menjadi kepentingan diri sendiri. Lantas biar saja semua terasa sendiri dalam batin kecil ini.
Terserah saja akan berada dimana diri kita di mata orang lain. Hanya saja memberikan kebaikan tanpa peduli kesalahan mereka akan lebih menenangkan. Karena kita mungkin tidak menyadari saat telah melakukan suatu kesalahan.






*ketika seseorang merasa hidupnya dimiliki sahabatnya. itukah sahabat?*

Sabtu, 23 Mei 2009

- MimPi -


Malam ini aku menemukan sebuah tulisanmu. Tepatnya komentar pendek atas suatu wacana. Namamu akhirnya kembali lagi dapat kubaca walaupun hanya dari sini.  

.... apa sih yang membuat pelaksanaan eksekusi menjadi sulit???! biaya eksekusi yang mahalkah yang menjadi kendala? .... atau para yudikatif kita yang banci??sgt mengenaskan,katanya negara kita ini negara hukum ...  


"Hei, aku berhasil!" 
"Hah?" 
"Kasus pertamaku." Kamu memegang sebuah map dan menunjukkannya padaku. Lalu, kamu tertawa puas sekali. 
"Kamu sendiri yang menanganinya?" 
"Belum. Yang jelas, ini kasus pertama yang berhasil." 
"Lantas, kapan kamu akan benar-benar jadi pengacara?" tanyaku meremehkan. 
"Tunggu saja. Segera. Sebelum kamu berhasil meraih mimpimu." 
Aku hanya tersenyum. 
"Loh, nggak percaya?" 
"Aku percaya." Aku selalu percaya padamu.  
"Bagus." 
"Omong-omong, kasus apa ini? Pembunuhan? Korupsi? Perceraian?" 
"Bukan. Narkoba." 
"Kasus biasa." Ucapku sok tahu. 
"Terserah. Yang jelas, tidak semudah yang kamu bayangkan." 
"Jadi, klienmu tidak bersalah?" "Tidak, dia bersalah." 
"Lalu, kenapa kamu mau membelanya?" 
"Uang. Maju tak gentar membela yang bayar." 
"Kemana nuranimu?" "Nuraniku lebih membela perutku." 
"Kenapa kamu mau?" 
"Ini perjalanan menuju mimpi, sayangkuuu..." 
*  

Aku percaya bahwa kamu masih terus berjuang meraih mimpi-mimpi itu. Mimpi yang dulu pernah kamu katakan padaku. Dan kini mungkin sudah mulai mampu kamu genggam perlahan.  

Lebih dari setahun kita tak lagi saling bertemu. Bahkan bertukar kabar. Yah, aku tahu benar posisi dan situasimu saat ini. Tak mungkin lagi kita bisa beradu pendapat. Akan menjadi terlalu egois.  

Aku hanya ingin kamu tahu bahwa mimpiku masih tetap menjadi mimpiku. Walau bagian tentang bersamamu harus kuhilangkan dengan paksa. Namun, itu akan menjadi bagian yang terindah dalam perjalanan hidup yang kulalui.  

Kini yang kutahu, aku sudah berjalan sampai di sini. Mencoba menggapai mimpi-mimpiku. Meski tanpamu.

Tapi, kamu harus tahu bahwa aku sedang mencoba meraih mimpi ini dengan bantuan orang lain. Seseorang yang kini kuanggap jauh lebih berarti dari keberadaanmu sekarang.


Rabu, 14 Januari 2009

farewell party

Glegekan masih berasa sate kambingnya… Namanya juga abis farewell party di kost. Awalnya rada underestimate sama tujuan acaranya setelah banyak masalah yang aku alamin, tapi karena ternyata teman bule yang dibikinin acara ternyata keliatan seneng banget, pikiranku berubah jadi rada positif. Fun sih dan berasa jadi saksi bisu diantara kebersamaan itu, mungkin karena nggak deket juga sama orang-orangnya, jadi nggak bisa nikmatin banget. Tapi, not bad lah.

Acaranya nggak cuman makan-makan ajah sih, tapi ada pembukaan, berdoa, nyanyi-nyanyi, sampe games basah-basahan. Lumayan.

Mmph.. soal acara barbeque kambingnya yang ternyata beneran ada dua mas-mas yang dateng ke kost dan nge-guling tuh kambing, tapi disajikannya dalam potongan kecil-kecil loh, soalnya kata masnya nggak bagus cewek-cewek makan kambing langsung dari gulingannya, karena akan keliatan blom mateng dan ada darah-darahnya. Selain itu, ada lagi tongseng kambing, tapi yang punya sih bilangnya itu gulai kambing.  Mantabs! Dua menu itu oke banget, masaknya enak banget. Yang penting lagi, ternyata masih sisa banyak, bisa buat besok. Gembul banget yah! Ada lagi ayam bakar yang potongannya gede-gede banget. Sambelnya ada sambel kecap dan sambel kacang. Setelah eksperimen, ternyata kambing gulingnya cocok pake sambel kecap (yang kurang pedes) dan ayam bakarnya cocok pake sambel kacang. Nikmat! Lalapnya juga ada, timun dan tomat. Minumnya teh manis anget. Itu aja, tapi cucok banget loh...

Soal acaranya, setelah dirancang sedemikian rupa oleh beberapa orang dan aku pun ikut bantuin dikit pas dekorasi, lumayan yahud lah... pake basah-basahan lempar-lemparan balon diisi air di saat cuaca Jogja abis ujan...

Trus, tentang si bule yang ternyata melankolis banget. Ternyata dia menghargai banget setiap hal yang dia jalanin di kost yang katanya kayak homestay. Keren lah tuh bule!

Oh iya, FYI, si bule cukup mahir dan lancar berbahasa Indonesia, jadi nggak perlu ribet. Aku nggak deket, cuman kalo ketemu senyum-senyum ajah dan nyapa sekedarnya. Nggak jahat tapi juga nggak terlalu baik kan. Ahaha...

Ada satu lagi! Berhubung si bule itu melankolis abis dan air matanya dengan mudah keluar tanpa musti dipaksa atau musti ngiris2 bawang merah dulu, dia punya obat andalan. Itu permen, mirip gulali gitu, tempatnya kayak milton pastiles ituh. Yah, ada tulisan pastilesnya juga seh, tapi lupa namanya apa. Katanya itu bisa menenangkan dia. Aku mau balik kalengnya dan liat belakang kemasannya untuk tau kandungannya apa, tapi ternyata kalengnya aja udah melty banget, jadi agak nggak enak sama yang punya. Katanya sih, tiap dia nangis, dengan njilat itu sedikit bisa buat dia nggak terlalu sesenggukan. Aku pikir itu ada obat penenangnya, anti cemas gitu. Cool  banget kalo kata Cinta Laura. Katanya dulu bentuknya liquid, blum lama ada bentuk permen gulalinya itu. Rasanya kayak gulali, aromanya mirip pengharum ruangan rasa lemon, bentuknya mirip lem aica aibon. Lucu.

Satu hal lagi, kata salah seorang anak kost ”Dia (si bule) lucu ya kayak Komeng?!” iya sih... bule yang lucu dan menyenangkan.

Semoga si bule akan terus ingat sama hal-hal positif di kost ini. Ingat, yang positif ajah. Amien!

Rabu, 07 Januari 2009

-:: dulu, kemarin, sekarang, esok, selamanya ::-

Akhirnya ketemu lagi sama tuh manusia, walaupun cuman bisa liat gambar-gambar nggak pentingnya doang. Huhu, jadi inget pas reunian SMP beberapa taun yang lalu trus dia nunjukkin foto-foto dengan gaya poto studio jaman dahulu kala. Nggak tau sekarang dia masing nganggep aku sebagai sahabat ato nggak. Dulu pas masih kecil, aku cuman kenal dia dan main sama dia. Mungkin karena rumah kita sebelahan dan hal itu bikin dunia kita berdua jadi terbatas banget, aku nggak pernah inget kalo kita pernah punya temen lain, kalo ngegodain temen lain sampai dia nyemplun ke got penuh lumpur sih pernah. Lucu banget. Itu kejadian pas kita masih sama-sama balita. Balita yang nakal rupanya kita berdua. Dulu kita juga suka mandi bareng, kalo sekarang gimana ya? *malu mode on*

Sekarang dia udah di Canberra, mencoba mewujudkan cita-citanya supaya bisa jadi kayak ayahnya. Sebenernya aku sempet sedih, karena sebelum dia pergi sempet ada masalah diantara aku, dia, dan pacarnya (sekarang sih udah jadi mantan). Padahal kalo dipikir-pikir, semua itu keliatan konyol banget dan malu-maluin. Emang sih dulunya aku pernah suka sama dia, tapi itu pas aku masih SD, masih khilaf dan belum bisa liat cowok-cowok lucu di sekitarku.

Banyak hal yang udah kita lalui bersama *lebay mode on*, gimana nggak coba.... semasa balita kita sempet main bareng tiap hari, walaupun dia sempet ke luar negeri beberapa tahun dan membuatku kehilangan temen deket. Pas SD kita satu sekolah lagi tapi dia sempet pergi ke luar negeri lagi, SMP juga, SMA juga. Hoh, gimana nggak enek liat mukanya terus menerus setiap hari. Sayangnya, hubungan kita bedua nggak semulus kedengerannya, makin kita gede, aku ngerasa makin jauh dari dia. Mungkin aliran kita bedua beda, dia lebih suka sama dunianya dan aku juga lebih suka sama duniaku.

Kita bedua sering banget belajar bareng *sok pinter mode on*, tuker-tukeran buku, tuker-tukeran jawaban ujian. Sebelnya, keliatannya aku yang lebih pinter, tapi nilainya pasti selalu lebih bagus. Dia juga sempet jadi idola di sekolah, gimana nggak, cewek-cewek satu sekolah sebagian besar suka sama dia, tentunya kecuali aku. Wajar aja sih banyak yang suka, dia pinter, tinggi, putih, baik, dan gentle banget. Untuk yang terakhir cuman berlaku untuk cewek-cewek lain, nggak buat aku, mana pernah dia merelakan diri melakukan sesuatu untuk aku. Cuih! (sorry teman...)

Dirinya begitu flamboyan sekali, nemplok dari satu wanita ke wanita lain, mulai dari yang cantik-cantik, lalu ke yang jelek, trus ke cantik lagi, dan sekarang nggak tau lagi. Bahkan dia sempet pacaran sama sahabatku tanpa aku sendiri. Iya, sama sahabatku yang tadinya dengan semangat ’45 nyuruh aku supaya suka sama dia. Sedangkan aku nggak nemplok kemana-mana dan asyik sendiri sama duniaku yang mungkin nggak pernah dia tau.

Untungnya aja pas kuliah kita udah nggak satu universitas, walaupun pada akhirnya satu almamater juga. Padahal katanya dia sempet ngebayangin gimana rasanya kalo kita berdua satu kampus juga. Alhamdulillah nggak.

Sekarang, makin lama aku ngerasa kita berdua makin jauh, makin nggak kenal satu sama lain. Nggak apa-apa juga sih, kan hidup harus terus berjalan. Lagipula, sebagai temen yang baik, aku seneng kok kalo temenku juga seneng dan bisa jadi orang yang berhasil. Dulu, kemarin, sekarang, esok, dan selamanya aku akan tetap mengingatnya.

 

Menanti seorang yang biasa saja

Segelas air di tangannya, kala kuterbaring.... sakit

Yang sudi dekat, mendekap tanganku

Mencari teduhnya dalam mataku

Dan berbisik : ”Pandangi aku, kau tak sendiri, ....”

Dan demi Tuhan, hanya itulah yang

Itu saja yang kuinginkan

(Curhat untuk Sahabat. Dee.)