
mengucap janji sehidup semati
berikrar akan setia selamanya
membuka mata dan melihat teman di samping tempat tidur
seindah itu?
sayangnya, tidak selalu….
ketika harapan itu masih mengisi hari dan menjadi angan

Waktu masih tetap berjalan menghabiskan detik demi detik yang memang menjadi kewajiban untuk diterbitkannya. Hari juga masih saja terus berganti menemani aku yang tak sekedar sendiri menghabiskan pagi hingga malam menjemputnya. Hidup memang tak selalu sepi karena ada banyak jiwa yang saling bertemu di kala waktu masih saja memburu.
Lalu, mimpi menjadikan kita tak pernah berhenti menunggu datangnya besok. Kala kita rindukan kemarin, semua semu kenangan yang sulit tersapu dihapus harapan. Tak pantas tapi bukan berarti mudah untuk bisa menjadikannya pupus. Buat apa punya hati kalau setiap rasa tak boleh disimpan baik-baik di kedalaman ruang yang tak berbatas? Tapi, apakah masih perlu kisah yang mengganggu datangnya esok hari?
"Punya pacar gih sana!" Ucapmu ketika malam sudah terhanyut di tepian sore dan gelap sudah menodong rembulan untuk bersinar terang di langit.
Aku menggenggam tanganmu dalam balutan keringat yang selalu saja kau keluarkan tiap kulit telapak tanganku menyentuh tanganmu. Terdiam. Hanya sanggup menatap wajahmu.
"Jangan kerja melulu. Sok workaholic,deh. Gak pantes tauk!" Protesmu sembari menasehatiku.
"....." Aku masih memilih untuk terdiam dan tak melepaskan genggamanmu di tanganku.
"Kamu nggak capek apa, tiap hari bangun pagi langsung kerja? Sampe kantor belum ada orang. Kerja gila-gilaan sampe sore. temen-temen kamu udah pulang kamu belum. Matahari udah ngilang kamu baru pulang. Nggak capek?" tanyamu padaku. Semakin membutuhkan jawaban.
"Yah, kalo emang kerjaanku banyak gimana? Aku kan harus nyelesain itu semua. Kalu nggak dikerjain, besok pasti bakal dateng kerjaan lagi. Bisa numpuk kan? Mending yang hari ini aku selesein biar nggak ganggun yang besoknya." Aku mencoba membela diriku sendiri.
"Trus hidup kamu cuma berkutat sama kerjaan aja? Pulang langsung tidur. Sekali-sekali bergaul dong." komentarmu.
"Ini kita lagi ngapain coba?" tanyaku sambil menatap matamu yang bulat penuh itu.
"Jangan sama aku terus dong. Cari kenalan lain. Temen-temen kamu yang lain. Siapa tahu bisa dapet pacar. Nanti keasyikan kerja lupa lho sama yang namanya nikah. Jangan kerja terus yah!" ujarmu sambil tersenyum.
"Apa aku masih harus mencari?" tanyaku sembari mengeratkan genggamanku.
Kamu lepaskan genggaman tanganku. Memaksaku untuk mau melakukan itu. Lalu, tanganmu justru memberiku peluk hangat di bahu. Mengusap-usap punggungku sesekali. Kamu tahu benar bahwa air mataku sebentar lagi sudah akan keluar. Menahan kesedihan tentang pencarian itu.
"Kenapa tidak mencari kalau masih ada kesempatan untuk melakukan itu?" tanyamu.
"Bahkan ketika aku merasa sudah menemukannya?" komentarku lirih. Suaraku sudah mulai terisak saat kamu merengkuh tubuhku tenggelam dalam peluk tubuhmu yang hangat.
"Siapa sih yang udah kamu temuin? Apa dia pantas untuk memiliki kamu?" tanyamu. Sesekali bahkan kamu menghapus tetes-tetes air mata yang mengalir begitu saja di kedua pipiku.
"Pertanyaannya bukan itu." jawabku, "Tapi, apakah dia mau memilikiku?" kuberanikan menatap kedua matamu yang sejak tadi tak lekang memandang wajahku yang penuh air mata.
Kamu cuma tersenyum.
"Aku terlalu lelah untuk mencari. Tidak bolehkah aku yang dicari? Aku enggan lagi memberi cinta ketika rasa itu tak pernah mendatangiku. Bahkan, kini aku bingung dengan cinta itu sendiri. Masihkah aku memilikinya dalam hati?" air mataku masih mengalir. Tak ada isak. Tak ada sesak. Tetes-tetes itu mengalir begitu saja.
"Pasti ada. Nanti. Lalu, kamu akan bergandengan tangan dengan kekasihmu. Dan aku akan bergandengan tangan dengan kekasihku. Berempat, kita membahas masa depan." Kamu kini memelukku dengan kedua belah tanganmu.
"Tidak bolehkah kekasihmu dan kekasihku itu tak ada?" tanyaku.
"Kenapa? Mereka harus ada dong supaya kita kehilangan sepi."
"Aku cuma mau ada kamu dan aku."
"Nggak boleh egois." Tangan kirimu mengacak-acak rambut di kepalaku.
"Kalau aku cuma punya sayang buat kamu?"
"Ssst... Aku juga sayang kok sama kamu." ungkapmu.
"Lantas, kenapa kamu tidak bersamaku saja?"
"Karena Tuhan punya rahasia. Kita tak pernah tahu esok."
Sudahlah. Aku tak pernah mengerti tentang keinginan Tuhan. Aku cuma makhluk kecilNya yang menunggu esok datang penuh kebahagiaan karena ingin tahu tentang apa yang terjadi selanjutnya. Apakah karena aku dan kamu sama makanya kita tak bisa bersama? Aku tak pernah paham kenapa hatimu masih selalu ragu saat tubuhmu sanggup mendekapku penuh rasa yang menghangatkan. Biar hati yang memilih ia mau hati yang mana. Walau cinta tak pernah kutahu bagaimana wujudnya, tapi aku tahu bahwa hati punya keberanian sendiri untuk memilih satu hati yang bisa mendampinginya tiap hari. Lalu, sampai detik ini aku masih memilih hatimu. Iya, kamu yang sekarang memelukku di bawah langit malam.



Glegekan masih berasa sate kambingnya… Namanya juga abis farewell party di kost. Awalnya rada underestimate sama tujuan acaranya setelah banyak masalah yang aku alamin, tapi karena ternyata teman bule yang dibikinin acara ternyata keliatan seneng banget, pikiranku berubah jadi rada positif. Fun sih dan berasa jadi saksi bisu diantara kebersamaan itu, mungkin karena nggak deket juga sama orang-orangnya, jadi nggak bisa nikmatin banget. Tapi, not bad lah.
Acaranya nggak cuman makan-makan ajah sih, tapi ada pembukaan, berdoa, nyanyi-nyanyi, sampe games basah-basahan. Lumayan.
Mmph.. soal acara barbeque kambingnya yang ternyata beneran ada dua mas-mas yang dateng ke kost dan nge-guling tuh kambing, tapi disajikannya dalam potongan kecil-kecil loh, soalnya kata masnya nggak bagus cewek-cewek makan kambing langsung dari gulingannya, karena akan keliatan blom mateng dan ada darah-darahnya. Selain itu, ada lagi tongseng kambing, tapi yang punya sih bilangnya itu gulai kambing. Mantabs! Dua menu itu oke banget, masaknya enak banget. Yang penting lagi, ternyata masih sisa banyak, bisa buat besok. Gembul banget yah!
Soal acaranya, setelah dirancang sedemikian rupa oleh beberapa orang dan aku pun ikut bantuin dikit pas dekorasi, lumayan yahud lah... pake basah-basahan lempar-lemparan balon diisi air di saat cuaca Jogja abis ujan...
Trus, tentang si bule yang ternyata melankolis banget. Ternyata dia menghargai banget setiap hal yang dia jalanin di kost yang katanya kayak homestay. Keren lah tuh bule!
Oh iya, FYI, si bule cukup mahir dan lancar berbahasa Indonesia, jadi nggak perlu ribet. Aku nggak deket, cuman kalo ketemu senyum-senyum ajah dan nyapa sekedarnya. Nggak jahat tapi juga nggak terlalu baik kan. Ahaha...
Ada satu lagi! Berhubung si bule itu melankolis abis dan air matanya dengan mudah keluar tanpa musti dipaksa atau musti ngiris2 bawang merah dulu, dia punya obat andalan. Itu permen, mirip gulali gitu, tempatnya kayak milton pastiles ituh. Yah, ada tulisan pastilesnya juga seh, tapi lupa namanya apa. Katanya itu bisa menenangkan dia. Aku mau balik kalengnya dan liat belakang kemasannya untuk tau kandungannya apa, tapi ternyata kalengnya aja udah melty banget, jadi agak nggak enak sama yang punya. Katanya sih, tiap dia nangis, dengan njilat itu sedikit bisa buat dia nggak terlalu sesenggukan. Aku pikir itu ada obat penenangnya, anti cemas gitu. Cool banget kalo kata Cinta Laura. Katanya dulu bentuknya liquid, blum lama ada bentuk permen gulalinya itu. Rasanya kayak gulali, aromanya mirip pengharum ruangan rasa lemon, bentuknya mirip lem aica aibon. Lucu.
Satu hal lagi, kata salah seorang anak kost ”Dia (si bule) lucu ya kayak Komeng?!” iya sih... bule yang lucu dan menyenangkan.
Semoga si bule akan terus ingat sama hal-hal positif di kost ini. Ingat, yang positif ajah. Amien!
Akhirnya ketemu lagi sama tuh manusia, walaupun cuman bisa liat gambar-gambar nggak pentingnya doang. Huhu, jadi inget pas reunian SMP beberapa taun yang lalu trus dia nunjukkin foto-foto dengan
Sekarang dia udah di Canberra, mencoba mewujudkan cita-citanya supaya bisa jadi kayak ayahnya. Sebenernya aku sempet sedih, karena sebelum dia pergi sempet ada masalah diantara aku, dia, dan pacarnya (sekarang sih udah jadi mantan). Padahal kalo dipikir-pikir, semua itu keliatan konyol banget dan malu-maluin. Emang sih dulunya aku pernah suka sama dia, tapi itu pas aku masih SD, masih khilaf dan belum bisa liat cowok-cowok lucu di sekitarku.
Banyak hal yang udah kita lalui bersama *lebay mode on*, gimana nggak coba.... semasa balita kita sempet main bareng tiap hari, walaupun dia sempet ke luar negeri beberapa tahun dan membuatku kehilangan temen deket. Pas SD kita satu sekolah lagi tapi dia sempet pergi ke luar negeri lagi, SMP juga, SMA juga. Hoh, gimana nggak enek liat mukanya terus menerus setiap hari. Sayangnya, hubungan kita bedua nggak semulus kedengerannya, makin kita gede, aku ngerasa makin jauh dari dia. Mungkin aliran kita bedua beda, dia lebih suka sama dunianya dan aku juga lebih suka sama duniaku.
Kita bedua sering banget belajar bareng *sok pinter mode on*, tuker-tukeran buku, tuker-tukeran jawaban ujian. Sebelnya, keliatannya aku yang lebih pinter, tapi nilainya pasti selalu lebih bagus. Dia juga sempet jadi idola di sekolah, gimana nggak, cewek-cewek satu sekolah sebagian besar suka sama dia, tentunya kecuali aku. Wajar aja sih banyak yang suka, dia pinter, tinggi, putih, baik, dan gentle banget. Untuk yang terakhir cuman berlaku untuk cewek-cewek lain, nggak buat aku, mana pernah dia merelakan diri melakukan sesuatu untuk aku. Cuih! (sorry teman...)
Dirinya begitu flamboyan sekali, nemplok dari satu wanita ke wanita lain, mulai dari yang cantik-cantik, lalu ke yang jelek, trus ke cantik lagi, dan sekarang nggak tau lagi. Bahkan dia sempet pacaran sama sahabatku tanpa aku sendiri. Iya, sama sahabatku yang tadinya dengan semangat ’45 nyuruh aku supaya suka sama dia. Sedangkan aku nggak nemplok kemana-mana dan asyik sendiri sama duniaku yang mungkin nggak pernah dia tau.
Untungnya aja pas kuliah kita udah nggak satu universitas, walaupun pada akhirnya satu almamater juga. Padahal katanya dia sempet ngebayangin gimana rasanya kalo kita berdua satu kampus juga. Alhamdulillah nggak.
Sekarang, makin lama aku ngerasa kita berdua makin jauh, makin nggak kenal satu sama lain. Nggak apa-apa juga sih, kan hidup harus terus berjalan. Lagipula, sebagai temen yang baik, aku seneng kok kalo temenku juga seneng dan bisa jadi orang yang berhasil.
Menanti seorang yang biasa saja
Segelas air di tangannya, kala kuterbaring.... sakit
Yang sudi dekat, mendekap tanganku
Mencari teduhnya dalam mataku
Dan berbisik : ”Pandangi aku, kau tak sendiri, ....”
Dan demi Tuhan, hanya itulah yang
Itu saja yang kuinginkan
(Curhat untuk Sahabat. Dee.)