Rabu, 21 April 2010
Di Dalam Diam
Aku menunjukkan apa yang terbentuk dalam jiwa dengan laku tak biasa. Aku memelukmu dalam kesenyapan suara, aku memelukmu diantara sesaknya ruang, aku merengkuh kesyahduan pada keheningan suasana, dan maka aku berusaha memutuskan batas yang menjadi halang bagi kalimat tak terbantahkan. Aku menciptakan cara menjadikan peristiwa yang pasti tak bisa terlupakan.
Kadang ingin sekali menyatakan segala isi yang seperti akan meluap dari ruang hati. Tapi, aku mencoba menahan agar kamu merasakannya juga tanpa harus kupaksakan. Aku bersabar untuk menjadikan segalanya menjadi lebih baik di mata kita. Maka, tanpa berkata aku mencukupkan ego untuk menunjukkan semua bentuk dan susunan kerinduan. Mulut pun kukunci rapat agar tak menyatakan apa yang tak seharusnya tersampaikan kepadamu. Merasakan saja setiap sanjung yang terlalu sedikit dapat ternikmati. Membiarkan saja orang lain menilai kebersamaan kita sebagai suatu wujud yang berbeda. Lalu, aku akan terbuai dalam ketidakpastian yang melontarkan sejuta tanya padamu yang terpaku.
Bertahan dalam kerahasiaan hati sendiri akan menjadi beban yang terlalu menyakitkan. Tetapi melalui satu per satu sikap yang tampak dalam gerak-gerikmu kujadikan harap. Aku terus menjalani hari dan menganggap rasa yang kuberikan ini tak pernah salah. Tak akan kubiarkan hatiku menangis dalam pertanyaan yang belum jua kudapatkan jawabannya.
Aku tahu kamu memahami
Mengerti karena kamu insan yang punya nafas
Meyakini bahwa manusia tak salah bila mencintai
Diamku di sini menjadikanmu panduan rasa
Maka aku tak akan bicara
Merelakan kamu menghabiskan siang untuk merenungi
Lalu, kita kembali bergumul mengurai arti bahagia
Rabu, 26 Agustus 2009
saat malam gelap dan sepi
Aku menatap langit agar air dari dalam mataku tidak menetes keluar. Langit yang hitam itu berkelap-kelip karena ada beberapa bintang bertebaran di sana. Lalu, ada bulan sabit yang tampak menggoda karena bentuknya yang sedang tampak sempurna. Aku jadi teringat padanya. Dia yang kurang lebih satu tahun ini tanpa kusadari telah menerangi setiap gelap dan sepiku. Hanya bila kuingin dan kuminta, bukan datang dengan sendirinya dan menawarkan.
Sejak lama aku sudah terbiasa dengan kesendirian. Tak paham juga tentang sebabnya, karena kesendirian telah lahir dan tumbuh bersama tubuhku. Menjadikanku sebagai manusia yang terlalu sering tidak peduli pada perasaan orang lain, hingga aku sama sekali tidak peka pada kemungkinan datangnya pasangan jiwa. Menyadari bahwa sendirian itu menjemukan, seringkali aku hanya bisa tersenyum di depan cermin yang telah bertahun-tahun menjadi satu-satunya sahabat terbaik.
Lantas, seketika dia datang saat aku sedang berjuang mati-matian untuk membenci laki-laki yang menawarkan cinta. Tertawa, tersenyum, tertawa, dan tersenyum selalu saja menemani setiap kebersamaanku dengannya. Bahagia yang berbunga-bunga menjadikanku tenggelam dalam lautan hati. Dia berhasil melambungkan hatiku dan membuatku benar-benar jatuh hati padanya. Mencurahkan semua keindahan atas nama dirinya yang sama sekali belum pernah kutemui setelah… entah, mungkin 7 tahun lalu. Aku hanya bisa menatap wajahnya melalui situs pertemanan dunia maya yang sedang digandrungi banyak manusia.
“Jejakmu memudar tanpa aku tahu apa warnanya.”
“Kamu melhatnya tanpa warna?”
“Mungkin karena aku buta warna.”
“Lalu, sanggup menatapku dalam kebutaanmu?”
“Aku masih sanggup melihat walau tanpa warna.”
Sejak itu, aku jadi berpikir tentang keutuhan dirimu dalam menyaksikanku. Meragukan tatapanmu ketika melihat aku dengan teropong hatimu. Menyangsikan kebersamaan karena ruang dan waktu yang membatasi pertemuan. Aku masih berjuang dan berlari ke depan meraih mimpi yang ada kamu di dalamnya. Namun, aku mulai berpikir bahwa kamu tak mau menjadi mimpiku yang penuh warna. Kamu suka abu-abu yang membuatku memburu jemu.
“Aku sedang rapuh.”
“Berbagilah. Maka kamu bisa merangkaikan untuk menjadikannya utuh.”
“Bilakah kamu?”
“Walau kita berjarak. Aku masih tetap di sini menemanimu.”
Aku disini, kamu pun masih berada di sana. Walaupun aku tak sanggup menatap, tetapi aku mampu melihat. Jauh dalam lubuk hatiku kamu menjadi cahaya dalam langkahku. Aku masih dalam gelap, tetapi punya terang yang membuat jejakku tampak cukup jelas. Maka, ketika kamu menghilang dan terbang, aku berharap akan masih sanggup menggenggam sisa-sisa perasaan yang sempat kamu tinggalkan sebelum pergi.
“Kamu menunggu?”
“Sudah terlalu lelah rasanya. Bolehkah aku tak lagi menunggu?”
“Iya, harusnya begitu. Nanti akan datang.”
“Kamu?”
“……..”
Menempuhnya hanya butuh waktu sekitar dua belas jam saja. Bisa dibalik seharusnya. Menempuhku hanya butuh waktu sekitar dua belas jam saja. Sepertinya sudah sepantasnya aku menunggu, bukan memburu. Aku tidak akan duduk diam, dunia masih boleh berputar dan hari kupersilakan untuk berganti. Tetapi, aku mengajak diriku sendiri agar tidak lagi menikmati lelah menyelami perasaan dalam jiwa terdalamku. Aku ingin dia yang datang ke hadapan dan menyunggingkan senyumnya yang sudah terlalu lama tidak kutatap.
Sungguh aku sangat tak paham dengan perasaan yang terbersit belakangan ini. Aku tak bisa mendeskripsikan dengan jelas maknanya. Apakah aku tidak lagi peka dengan perasaanku sendiri?
*untuk seseorang yang sedang menghilang untuk menjelma menjadi bulan sabit di langit
Sabtu, 20 Desember 2008
Satu Cerita di Kereta Prameks
Seperti setiap Sabtu biasanya…
Aku setengah berlari memasuki Stasiun Tugu Yogyakarta setelah tu
run dari bis jalur 4
tepat di seberang stasiun. Antrian di depan loket kereta
Prameks sudah panjang sekali, mendekati pintu
masuk. Tujuh ribu rupiah aku keluarkan ketika sampai di
depan loket. Yah, telah beberapa minggu ini aku menghabiskan waktu di r
umah Eyang, di Wates. Rumahku sekarang karena
sudah lebih dari setengah tahun aku tidak punya kesempatan untuk p
ulang. Bahkan, teman-temanku sudah tak mengakui
lagi bahwa aku orang
Ketika berhasil mendap
atkan tiket, aku langsung menuju ke peron. Kereta Prameks sudah tiba di
nusia menunggu kedatangannya yang tinggal sesaat. Tak lama, kepala lokomotif
sudah menyembul dari arah
untuk bisa segera masuk, berebut, mereka beringsut masuk, termasuk aku.
Selalu saja penuh. Aku
berdiri di dekat pintu, tepat berhadapan dengan seorang laki-laki. Sepertinya, usian
ya tak jauh dari usiaku. Lalu, aku memperhatikan sekelilingku. Terdiam saja, menatap sawah-sawah
yang berlalu cepat ditinggal laju kereta. Aku akan pulang, gemingku dalam hati.
“Duduk, Mbak.” Laki-laki di hadapanku tiba-tiba berdiri.
Aku menggeleng.
“Nggak apa-apa, Mbak.”
Aku pun duduk.
“Ke Kutuarjo, Mbak?” tanyanya.
”Bukan. Wates.” jawabku.
”Pulang, Mbak?” tanyanya lagi.
”Iya.”
Aku memang akan pulang. Kutatap sawah-sawah yang kini terlihat berlari menjauhi laju kereta.
Rumah
Menjadi tempat untuk berpulang
Selalu merindu untuk sampai ke sana
Rela menghitung hari sampai kembali
Walau ribuan langkah mengharuskan untuk terus berjalan
Meraih impian yang terbentang
Namun... cerita tentang pulang tak pernah menjadi cerita yang tak dinanti
Selasa, 02 Desember 2008
laki-laki dan perempuan
Entah orang lain berkata apa tentang aku. Aku juga manusia kok, sama seperti yang lain. Sama seperti orang-orang yang hanya bisa meremehkanku dari belakang. Hidupku sekarang aku bayar dengan uangku sendiri, hasil jerih payah kerjaku. Aku peduli pada teman-temanku, tapi aku tak menyangka banyak teman yang terlalu peduli padaku, hingga mereka merasa lebih berhak menghakimiku daripada diriku sendiri. Padahal, seharusnya hidup itu milikku.
“Rin, lo serius cinta sama dia?” tanya seseorang yang selalu mengaku sebagai temanku.
“Serius!!!” aku menjawab dengan benar-benar serius.
Dia lalu hanya mengangguk-angguk seolah paham dengan kata-kataku.
Tapi, keesokan harinya, aku mendengar orang-orang menganggapku aneh dengan mencintainya. Kenapa? Aku manusia yang berhak punya cinta. Dia pun manusia yang boleh kucintai karena dia belum jadi milik siapa-siapa. Toh, masing-masing diantara kami tahu peran kami masing-masing. Aku menjadi pria dan ia menjadi wanita. Dimana letak salahnya?
Sebenarnya aku memendam rasa pada seseorang wanita yang bukan dia. ”Dia yang sejak dulu kucinta” adalah sahabat dekatku saat di bangku Sekolah Dasar. Aku sibuk mencarinya ketika kami mulai berpisah, tapi aku tahu kalau dia tidak mungkin mau jadi wanitaku, dia terlalu pintar untuk menjalani hubungan denganku. Jadi, aku memutuskan untuk memendam rasa ini dan mencoba mencari cinta dari perempuan lain. Kata orang, cinta tak harus memiliki, dan aku percaya benar akan itu.
Aku bahagia memiliki kekasih seperti dia yang sekarang. Bagiku, dia adalah segalanya, lebih dari sekedar teman, sahabat, mungkin lebih dari seorang kekasih. Aku sudah sering menghabiskan malam bersamanya, mencumbunya, dan memadu kasih di atas satu kasur ke kasur yang lain. Aku hafal bau tubuhnya, hafal gerakannya, dan hafal alunan nafasnya. Kami menyatu ketika malam datang dan kami saling berpagutan di dalam dunia kami yang katanya terlalu sulit dipahami.
Perasaan tulusku mencintainya adalah segalanya. Aku menghargainya sebagai seseorang seperti aku menghargai diriku sendiri.
Dia perempuanku walaupun aku sendiri masih meyakini bahwa aku sama seperti dia. Aku juga perempuan. Aku pernah punya rambut panjang, pakai bedak, pakai rok, pakai lipstik, bahkan sampai sekarang aku masih memakai bra. Walaupun sekarang aku lebih suka dengan rambut setengah botakku, kaca mata, rokok, celana jeans, kaos oblong, dan sepatu sneakers. Tapi, aku pernah jadi perempuan sejati. Dan seumur hidupku aku tetap akan menjadi perempuan. Aku perempuan yang sangat mencintai perempuan.
Kamis, 08 Mei 2008
Bila saja Jiwa sadari keberadaan Diri
Bila saja Jiwa sadari keberadaan Diri
Angin sedang berhembus menghantarkan dinginnya mendung yang sebentar lagi akan berubah menjadi tetesan air. Karena hujan sudah menampakkan firasat kehadirannya melalui wajah langit ketika diri mencoba pahami makna semua itu bukan sebaga
i suatu yang mengancam keberadaan.
Seketika jiwanya menyentuh tanpa diri bisa sadari kenyataannya secara utuh, menyelimuti rasa dingin yang perlahan mulai merasuk ke dalam tulang, karena mimik awan yang begitu menyeramkan. Jiwanya perlahan mulai menyatu menjadi suatu keutuhan yang nampak sebagai wujud bahagia, menawarkan kehangatan akan ketulusan bukan semu. Jiwanya mendampingi hari membuat mata tak lagi melihat kegelapan mendung sebagai suatu yang muram, melainkan memandangnya sebagai pengucapan atas syukur simbol kesejahteraan. Jiwanya membiarkan diri menjadi satu dan meluruh ke dalam jiwa, membentuk suatu keutuhan tubuh yang diinginkan melebur hanyalah satu.
Jiwa dan diri menjadi suatu yang bernama aku namun tetap bermakna kita, karena jiwa dan diri masihlah satu dan satu memiliki perbedaan yang memang terjarak jauh, semua sudah begitu, sehingga mungkin mata lain tak dapat menganggap itu sebagai kesatuan aku, namun melihatnya sebagai jiwa dan diri yang sendiri-sendiri, berada dalam kejauhan arti dan mimpi.
Perlahan, diri sudah memahami jiwa dan diri berpikir bahwa jiwa sudah selalu harapkan kehadiran diri. Namun, semua itu entah dilihat dari mana, oleh siapa, dan ketika apa. Karena bila di runut, mata siapapun tak sanggup lihat aku diantara jiwa dan diri dimanapun dan saat apa pun. Mereka hanyalah sendiri berada dalam kesemuan miliknya pribadi, tanpa bisa menyatu menjadi aku mengaburkan kesemuan menjadi perwujudan yang nyata.
Ada akhir di dalam diri....
Ketika diri pada ujungnya melihat lagi awan sebagai kegelapan di dalam langit yang bersiap menjatuhkan tetesan air menjadikannya kesepian. Maka, ketika itu terjadi, jiwa akan mencair bersama rintikan air dan menjadikannya mengalir tanpa bentuk dan tanpa ruang, lalu meninggalkan diri, bahkan mengering menguap menyerap kebahagiaan dari diri.
Ternyata, diri akan menangis, memiliki kegelapannya sendiri, mengalami kesuramannya sendiri, padahal dia bukan awan yang ada dalam mendungnya langit.
****
Sabtu, 03 Mei 2008
bukan aku

Saat tiba-tiba saja lelah ini bertandang dan merusak semua kebahagiaan yang sedang terasa, jiwa merasa begitu jengah merasakan semua bahagia yang sempat tercecap.
Terasa sekali ada berjuta kelelahan bertumpuk di pundak ini dan mulai membuat dada sesak menampungnya. Lalu, air mata ini tiba-tiba saja mengalir dan menumpahkan segala perih yang telah dirasakannya sejak lama, sejak hati tak lagi mampu membedakan antara kebahagiaan dan kesedihan.
Menyaksikan diri sendiri tersakiti atas semua rasa yang diciptakan dalam kehidupan sepertinya sangat merana dan memilukan, karena sebenarnya yang diinginkan adalah keindahan dan ketenangan. Tetapi sayang, semua itu terlalu kabur untuk disentuh.
Lelah sekali rasanya menanti dirinya mengerti tentang semua rasa yang telah tercipta ini. Lelah sekali rasanya mencoba memahami dirinya yang tak pernah mau mengerti jiwaku. Lelah sekali rasanya menjejaki hatinya yang terlalu jauh untuk kakiku melangkah ke sana.
Ingin sekali berhenti, menyudahi semua ini, dan membiarkan hidupku sendiri saja tanpa mau pahami, menanti, dan menjejaki yang lain. Aku sudah terlalu lelah, kata itu adalah satu-satunya bahasa yang mampu kuucap sekarang. Aku sudah menangis dan itu jalan satu-satunya bagiku untuk memahami diriku sendiri atas luka yang aku goreskan sendiri.
Ketika mengharapkan sesuatu yang terbaik, aku paham satu hal.... bahwa hal yang terbaik bukanlah hal yang patut kita miliki... dan.... ketika kita paham bahwa kita menanti sesuatu yang terbaik, akan terlalu sulit bagi kita untuk menapaki kehidupan ini dengan kaki yang melangkah satu demi satu menjejaki bumi, bahkan dengan merangkak pun.... meraih sesuatu yang terbaik begitu menakutkan.... karena yang terbaik inginkan yang terbaik dan dia-yang terbaik itu bukanlah aku.