Jumat, 28 Agustus 2009

Ketika Siang Merindukan Malam




Aku ingin menangis
Tidak! Aku ingin berteriak
Pada ruang dan jarak yang membentang
Membatasi jiwaku untuk menyentuhmu
Padahal sejak lama harap mendesak untuk terkuak
Melekatkan sunyi untuk kau lucuti

Tanya selalu saja menyesakkan
Melantunkan lirik tentang pertemuan aku dan kamu
Walaupun waktu tak jua datangkan peluang
Sejuta mimpi selalu kugantungkan
Menghilangkan kehausan akan sepi
Lepaskan lara yang membelenggu

Ingin kembali pada peraduan
Menemui malam yang bersembunyi di sudut
Perhatikan ragamu yang belum kupeluk
Temukan rahasia pada hasrat di setiap celahmu
Hingga pagi menyambangi bila tangan bertaut



Tidakkah kamu?
Tidak usah lagi beringsut
Benar ini tentang kamu
Kamu yang sempat terpojok di sudut karena aku








*saat ingin sekali pulang

Rabu, 26 Agustus 2009

saat malam gelap dan sepi

Malam ini aku berjalan melangkahkan kakiku sendirian di tepi sebelah kiri jalanan yang tak rata. Gelap dan sepi. Iya, mirip seperti perasaanku yang sedang kututupi. Tetapi, karena aku sedang berhadapan dengan diriku sendiri, aku merasa tak perlu berpura-pura. Aku mampu merasakan gelap dan sepi yang membabi buta, dimana aku bisa saja memutuskan untuk membiarkan air mataku mengalir di pipi menunjukkan pilunya jiwaku. Namun, aku menahannya. Ternyata superego dalam diriku masih sanggup menahan id yang menggebu-gebu. Aku menahan diriku sendiri untuk melepaskan beban yang terendap.

Aku menatap langit agar air dari dalam mataku tidak menetes keluar. Langit yang hitam itu berkelap-kelip karena ada beberapa bintang bertebaran di sana. Lalu, ada bulan sabit yang tampak menggoda karena bentuknya yang sedang tampak sempurna. Aku jadi teringat padanya. Dia yang kurang lebih satu tahun ini tanpa kusadari telah menerangi setiap gelap dan sepiku. Hanya bila kuingin dan kuminta, bukan datang dengan sendirinya dan menawarkan.

Sejak lama aku sudah terbiasa dengan kesendirian. Tak paham juga tentang sebabnya, karena kesendirian telah lahir dan tumbuh bersama tubuhku. Menjadikanku sebagai manusia yang terlalu sering tidak peduli pada perasaan orang lain, hingga aku sama sekali tidak peka pada kemungkinan datangnya pasangan jiwa. Menyadari bahwa sendirian itu menjemukan, seringkali aku hanya bisa tersenyum di depan cermin yang telah bertahun-tahun menjadi satu-satunya sahabat terbaik.

Lantas, seketika dia datang saat aku sedang berjuang mati-matian untuk membenci laki-laki yang menawarkan cinta. Tertawa, tersenyum, tertawa, dan tersenyum selalu saja menemani setiap kebersamaanku dengannya. Bahagia yang berbunga-bunga menjadikanku tenggelam dalam lautan hati. Dia berhasil melambungkan hatiku dan membuatku benar-benar jatuh hati padanya. Mencurahkan semua keindahan atas nama dirinya yang sama sekali belum pernah kutemui setelah… entah, mungkin 7 tahun lalu. Aku hanya bisa menatap wajahnya melalui situs pertemanan dunia maya yang sedang digandrungi banyak manusia.

“Jejakmu memudar tanpa aku tahu apa warnanya.”

“Kamu melhatnya tanpa warna?”

“Mungkin karena aku buta warna.”

“Lalu, sanggup menatapku dalam kebutaanmu?”

“Aku masih sanggup melihat walau tanpa warna.”

Sejak itu, aku jadi berpikir tentang keutuhan dirimu dalam menyaksikanku. Meragukan tatapanmu ketika melihat aku dengan teropong hatimu. Menyangsikan kebersamaan karena ruang dan waktu yang membatasi pertemuan. Aku masih berjuang dan berlari ke depan meraih mimpi yang ada kamu di dalamnya. Namun, aku mulai berpikir bahwa kamu tak mau menjadi mimpiku yang penuh warna. Kamu suka abu-abu yang membuatku memburu jemu.

“Aku sedang rapuh.”

“Berbagilah. Maka kamu bisa merangkaikan untuk menjadikannya utuh.”

“Bilakah kamu?”

“Walau kita berjarak. Aku masih tetap di sini menemanimu.”

Aku disini, kamu pun masih berada di sana. Walaupun aku tak sanggup menatap, tetapi aku mampu melihat. Jauh dalam lubuk hatiku kamu menjadi cahaya dalam langkahku. Aku masih dalam gelap, tetapi punya terang yang membuat jejakku tampak cukup jelas. Maka, ketika kamu menghilang dan terbang, aku berharap akan masih sanggup menggenggam sisa-sisa perasaan yang sempat kamu tinggalkan sebelum pergi.

“Kamu menunggu?”

“Sudah terlalu lelah rasanya. Bolehkah aku tak lagi menunggu?”

“Iya, harusnya begitu. Nanti akan datang.”

“Kamu?”

“……..”

Menempuhnya hanya butuh waktu sekitar dua belas jam saja. Bisa dibalik seharusnya. Menempuhku hanya butuh waktu sekitar dua belas jam saja. Sepertinya sudah sepantasnya aku menunggu, bukan memburu. Aku tidak akan duduk diam, dunia masih boleh berputar dan hari kupersilakan untuk berganti. Tetapi, aku mengajak diriku sendiri agar tidak lagi menikmati lelah menyelami perasaan dalam jiwa terdalamku. Aku ingin dia yang datang ke hadapan dan menyunggingkan senyumnya yang sudah terlalu lama tidak kutatap.

Sungguh aku sangat tak paham dengan perasaan yang terbersit belakangan ini. Aku tak bisa mendeskripsikan dengan jelas maknanya. Apakah aku tidak lagi peka dengan perasaanku sendiri?






*untuk seseorang yang sedang menghilang untuk menjelma menjadi bulan sabit di langit

13 # HERMES CAFE : Ketika Menemukan Lainnya

Aku segera berlari keluar dari kelas tepat setelah dosen ―perempuan setengah baya yang galaknya amit-amit― itu melangkah keluar pintu. Aku harus cepat-cepat pulang dan bersiap bertemu teman-teman gank kecimpring di Hermes Café pada jam makan siang. Jam 12 berarti setengah jam lagi dan aku masih berada di kampus.

“Triiiiddd!!!” teriak seseorang yang hanya suaranya kudengar.

Aku menghentikan langkahku dengan segera dan menoleh ke arah suara itu memanggil. Djawa berdiri beberapa meter di belakangku dan mengacung-acungkan binder file berwarna hijau milikku.

“Binder lo ketinggalan!” teriaknya.

Dasar dong dong, bisa-bisanya ninggalin binder file catatan kuliah di kelas. Padahal minggu depan si dosen ―perempuan setengah baya yang galaknya amit-amit― berniat memberi kuis yang biasanya susahnya tiada tara. Yah, satu-satunya mata kuliah yang membuatku rajin mencatat dan mendengarkan adalah kuliah dosen tadi. Bagaimana tidak, sudah tiga kali aku tidak lulus mata kuliahnya. Jadi, untuk semester ini aku harus berjuang mati-matian hanya untuk mengemis nilai B pada ibu dosen tercinta.

Langkahku beringsut mendekati tempat Djawa berdiri.

“Tengkyu, Wa.” Binder hijau itu langsung berusaha kurenggut dari tangan Djawa.

“Eh, gue pinjem dong catetan yang tadi.“ Djawa menahan binderku di tangannya.

”Dodol! Lu kagak nyatet?”

”Tadi gue tidur.” Djawa menyengir menampakkan gigi-giginya yang tampak tidak terlalu putih namun tetap berjajar rapih itu.

”Kampret lu! Kagak tobat-tobat juga lu ma dosen nenek sihir itu? Udah sama kayak gue nggak lulus tiga kali berturut-turut tetep aja ndablek!” aku dengan sukses menoyor kepala Djawa yang rambutnya berdiri tegak semua.

”Dasar emak-emak, ngemeng mulu lo! Udah, gue pinjem nih catetan!” Djawa membuka binder fileku dan mencari lembaran catatanku.

”Sebelum minggu depan lo balikin! Kita ada kuis. Gue nggak mau nilai gue ancur lagi gara-gara satu nilai kuis yang tidak memuaskan.” ancamku pada Djawa.

”Gaya lo, Trid! Kayak lo belajar aja besok.” Djawa menyinyir.

“Udah ah. Gue cabut! Kelamaan berantem ma lo bisa nggak pulang gue.” Aku membiarkan Djawa mengobrak-abrik binderku.

“Eh, lo mau kemana sih buru-buru amat? Pacaraan yaaaa???” Djawa mengejekku dengan senyum lebar dan alis yang sengaja dibuat naik beberapa kali.

“Kagaaakkk! Mau begaol gue!”

“Sama kecimpring lo itu?”

“Iyalah. Sama cewek lo juga.” Asiah, salah satu anggota kecimpring adalah pacar baru Djawa setelah aku dan teman-teman yang lain dengan sukses menjodohkan mereka.


*
Setibanya di rumah. Aku langsung masuk ke dalam kamar dan kemrungsung mengganti pakaian dan meletakkan perlengkapan kuliahku di meja belajar kamar. Tak berapa lama, kekasihku yang seorang pelukis datang menjemput dengan motornya. Aku pun segera keluar rumah untuk segera berangkat ke Hermes Café.

Tepat di luar pagar, pacarku sedang asyik menungguku dengan duduk di atas jok depan motornya. Setengah berlari, aku menghampirinya. Tanpa banyak bicara, aku mengambil helm di tangannya dan segera naik. Pacarku yang seniman itu pun langsung menyalakan mesin motornya dan tancap gas meninggalkan rumah.

Sebenarnya kalau tidak pacarku yang menawarkan, rasanya enggan sekali pergi dengannya. Bahkan, aku juga sering berpikir, kenapa aku bisa pacaran dengan pelukis ini? Seseorang yang jalan pikirannya seringkali berbeda denganku dan membuatku jengah berdiskusi dengannya. Tetapi, entah kenapa hubungan kami tetap saja bertahan walaupun beberapa kali putus-nyambung.

Sangat bosan rasanya sepanjang perjalanan yang dihabiskan dengan pacar hanya terdiam membisu tanpa membicarakan apa-apa. Tidak jauh beda dengan naik ojek, malah kadang-kadang tukang ojek sering mengajak penumpangnya berbincang. Kekasihku ini terlalu pendiam dan menghanyutkan, membuatku seribu kali harus bersabar menghadapinya. Ah, andai saja aku menemukan orang lain yang sedikit saja lebih heboh dari pacarku, aku pasti akan mempertimbangkannya untuk mengisi hatiku.


*
”Pulangnya dijemput nggak?” tanya kekasihku setibanya kami di Hermes Café.

”Nggak usah. Nanti aku minta dianterin aja.” kuserahkan helm berwarna hijau itu ke pacarku yang sama sekali tidak berwajah ramah.

Dia hanya membalas dengan mengangguk. Aku pun meninggalkannya dan segera mengejar anggota kecimpring yang kulihat sedang akan masuk ke pintu café. Sambil menuju ke teman-temanku, aku mencoba melupakan kekasih nan menyebalkan itu. Memasang muka ceria seceria mungkin dan merangkul para kecimpring dengan bersemangat.

Setelah masuk ke tempat yang bergaya Art Deco dimana kami biasa berkumpul ini, aku dan segerombolan Venus berisik langsung memesan minuman pada waiter training aneh yang menjelaskan panjang lebar sejarah kopi jawa. Tak berapa lama setelah pesanan kami dicatat dengan cekatan, aku memperhatikan sekeliling tempat menakjubkan ini, mengagumi keindahannya sambil mencuci mata mencari pengunjung yang mungkin sanggup mengalihkan duniaku. Seperti laki-laki pemabuk kopi.... itu... dia... lagiii??? Omigod! Itu kan temennya Emmy yang kemarin...

Laki-laki yang bernama Chicko itu menghampiri kami dan langsung bergabung bersama di meja kami. Tapi, sebelum kami sempat berbincang, seseorang melangkah mendekati meja kami.

”Misi... Ini ada pesen dari Mas yang ada di sana.” ujar Alvin, waiter training yang tumben jalannya tidak kemayu. Lalu, ia pun menoleh ke meja tempat tiga orang laki-laki sedang berbincang.

Galuh mengambil kertas yang diserahkan oleh waiter menyebalkan itu.

”Baca, Gal!” beberapa diantara kami serempak berteriak pada Dudu.

Chicko hanya terdiam memperhatikan kami.

Galuh pun segera membuka kertas kecil yang disobek asal-asalan itu dan membacanya cukup keras hingga semua di meja ini dapat mendengarnya dengan jelas ;
Tolong telepon saya ya, 08566676766

”Buset dah! Nekat banget nih. Nyuruh-nyuruh kita.” Pia spontan protes.

”Gila deh. Sumpah!” Luckty yang kakaknya Pia pun bersuara.

”Udah telepon aja! Jabanin! Rame-rame ini!” aku pun berkomentar.

Galuh langsung mengambil telepon genggamnya dan menekan angka-angka untuk menghubungi nomor yang tertera di kertas itu.

Serempak kami menengok ke arah meja pemberi kertas itu. Terlihat seorang laki-laki mengangkat sebuah telepon genggam. Sayang, wajahnya tidak tampak, kami hanya bisa melihat tubuh bagian belakangnya. Yah, jelas-jelas itu dia yang sedang mengangkat telepon kami. Mungkin dia yang menyuruh kami menelepon.

"Halo!" ujar suara di seberang telepon.

"Halo!? Siapa ini ya?" ucap Galuh seketika setelah telepon diangkat. Galuh pun langsung menekan tanda loudspeaker agar kami semua bisa mendengar jawaban dari mas-mas di seberang telepon itu.

"Eh, maaf.. Temennya Dedo ya? Dedonya lagi nggak ada, bentar lagi telpon lagi ya?"

"Dedo siapa?" Galuh bersuara semakin kesal.

"Lhah, ini yang nelpon koq malah nanya?" suara di seberang telepon lebih menyebalkan lagi.

"Eh sori ya, mas. Saya baru dapat sebuah kertas untuk menelepon nomer anda. Jadi anda yang harus menjelaskan!"

"Saya nggak tahu dengan apa yang baru anda katakan."

"Begini. Anda memberikan sebuah kertas, sebuah perintah untuk menghubungi nomer telepon yang sedang anda angkat ini..." muka Galuh terlihat memerah.

tuuut, tuuut, tuuut... telepon pun terputus.





Sumpah! Laki-laki yang jawab telepon itu nggak jauh beda sama orang dodol yang bolotnya setengah mati. Memberikan sebuah kertas berisi perintah menelepon, tetapi ketika kami menelepon, ternyata dia sungguh menyebalkan dan tulalit jauh melebihi Mbak Welas yang ada di sinetron komedi pada sebuah stasiun televisi. Iya, sinetron yang menceritakan tentang istri yang galak banget sama suami-suaminya itu.

Akhirnya, kami semua tanpa dikomando langsung bangkit dari tempat duduk masing-masing dan bertekad bulat satu tujuan menghampiri meja gerombolan laki-laki itu. Termasuk Chicko yang mungkin dalam hatinya ikut bersimpati dengan kami, EMOSI! Sayangnya, saat kami melangkah, tiba-tiba salah satu diantara tiga laki-laki itu, seseorang yang berbandana beranjak meninggalkan meja. Dia pergi... mengarah ke toilet. SIAL!!!

Ketika berhenti di depan meja itu. Aku langsung menatap pada kedua laki-laki yang tersisa. Djawaaaa????? Omigod!

Djawa tersenyum lebar seperti biasanya, “Kenalin, ini temen baru gue nih baru kenal tadi, namanya Danang.”

“Sebelumnya perkenalkan nama saya Dan Sapar, panggil aja saya Danang. saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta di Indonesia yang bergerak di bidang air therapy.” Laki-laki itu tampak berbinar-binar dengan senyum dan tampang berwibawanya. Uuuh... lutunaa...

Ooh, ini yang kemarin sempat diceritakan oleh Mbak Menur barista Hermes. Orang MLM yang katanya tak gentar menjaring manusia-manusia dengan kata mutiaranya yang sama sekali tidak menarik itu. Hahaha... tapi, nggak kok. Danang ini menarik sekali. Dia rasanya lebih cocok jadi model daripada salesman.

Tapi... loh, loh, loh... Kenapa beberapa orang kecimpring ini berbisik-bisik menyebutnya sebagai lelaki yang aneh? Padahal kan..

“Galuh. Tadi yang nelpon!” Galuh segera menyebutkan namanya dengan sedikit emosi.

“Pia.”

“Luckty, kakaknya Pia”

“Dwi, panggil aja gue Dudu”

“Emmy.”

“Astrid, temen kuliah Djawa.” ucapku. Dan laki-laki itu pun memandangku dengan tatapan yang membuatku malu.

“Dan gue Asiah.” Lanjut Asiah.

Djawa memperkenalkan Chicko pada Danang, “Danang, ini satu lagi temen gue juga, anak band indie gitu deh.”

“Chicko Handoyo, panggil aja gue Chicko.” ucap Chicko.

“Siiiip.”

Tak berapa lama kemudian, dua orang laki-laki menghampiri meja kami yang ramai sekali ini.

"Nah ini orangnya!" kata Djawa.

"Ada apa ya?" sapa salah satu diantara keduanya dengan muka polos, atau lebih tepatnya sengaja dipolos-poloskan.

"Shit! Pura-pura lagi, ini nih yang punya nomer handphone itu.."

"Wa! Lo ah.."

"Haha, apa lo? Nggak bisa ngeles lo." Djawa dan laki-laki itu saling menimpali.

"Oh, jadi ini orangnya.." ejek Galuh.

”Dedo.” Laki-laki itu cuma senyam-senyum dengan wajahnya yang semakin memerah. Mungkin karena malu.

"Lo semua, pada tau nggak? Ini tuh temen-temen gue," kata Djawa pada dua laki-laki itu.

"Yang ini Galuh, yang barusan berantem di telepon sama gue gara-gara lo. Ini Pia, ini Luckty, ini Dwi atau biasa dipanggil Dudu, Ini Emmy, ini Astrid temen kuliah gue. Dan yang paling spesial: Asiah, temen gue juga, cuma pake spesial, hahaha.." Djawa mengulang perkenalan lagi. Sepertinya laki-laki yang bernama Dedo itu tampak sangat malu. Bayangkan saja, dia sok kenal dengan kami semua, ternyata malah diperkenalkan oleh Djawa.

Tapi, jujur saja aku terpesona dengan laki-laki yang senyumnya menakjubkan itu. Gayanya yang salesman sejati itu membuatku terpana dan berkhayal untuk bisa mengenalnya lebih jauh. Mungkinkah aku jatuh cinta?



**********


cerita ini merupakan cerita berbalas dari Genk Hermes... Cerita sebelum dan sesudah dapat dilihat di grup Gank Hermes...

Sabtu, 20 Juni 2009

jantungku dan jantungmu


Melihatmu seringkali membuatku merasa terkejut. Mungkin kalau jantungmu berdegup kencang karena rasa cinta itu, jantungku berdegup kencang karena was-was dengan rasa cintamu itu. Semua hal seolah-olah menjadi disetujui logikamu bila kamu memikirkan cintamu itu. Padahal semua sangatlah tidak masuk akal ketika cinta itu sedang memenuhi seluruh sudut ruang duniamu sendiri. Yah, seperti banyak orang lain bilang, dunia serasa milik berdua. Aku hanya kamu anggap sebagai buku harian yang siap ditulisi kapan saja kamu butuh, tanpa pernah mendengar pendapatku, kamu menikmati saja indah harimu dengan cinta itu.

Satu bulan lalu kamu bercerita bahwa pangeran gagahmu ini adalah seorang tampan yang pintar, kaya raya, baik hati, tidak sombong, dan menyukai dirimu apa adanya. Lalu, sehari setelah kamu menerima cintanya penampilanmu berubah. Katamu, jantungmu berdegup semakin kencang mendengar kata-kata romantisnya yang memuja kecantikanmu. Aku juga punya jantung yang berdegup semakin kencang ketika setelah itu kamu mengajakku pergi ke mal dan menghabiskan limit kartu kreditmu hanya untuk membeli high heels, beberapa alat make-up, dan sebuah baju terusan feminim. Jantungku bahkan mau copot rasanya melihatmu memakai semua itu keesokan harinya. Kamu yang biasa memakai sepatu flat, kemeja, dan jeans tanpa perona pipi. Tiba-tiba menjadi seperti mbak-mbak SPG di PRJ.

Dua hari kemudian, kamu mengajakku pergi ke salon karena katanya jantungmu berdegup semakin kencang saat dia mengatakan kalau rambutmu akan semakin indah bila kamu memanjangkan rambut pendekmu itu. Aku merasa jantungku tergeletak sebentar di lantai salon ketika melihatmu menyambung rambut dan mewarnainya seperti jengger ayam. Kamu mengajakku foto-foto, membuatku tampak semakin bodoh disandingkan dengan kamu yang super duper tampak feminim dan gaul.

Dua hari kemudian, kamu meneleponku dan bercerita bahwa jantungmu berdenyut cepat saat kekasihmu itu mencium bibirmu dan menjamahi tubuhmu. Tentunya saja jantungku seakan sepuluh kali berdegup lebih kencang dari biasanya setelah mendengarkan kebodohanmu itu. Dua hari kemudian, kamu mengetok pintu rumahku pukul satu pagi dan membuat jantungku berdegup kencang dan semakin kencang. Apalagi ketika tiba-tiba kamu tersenyum bangga setelah dia berhasil merenggut keperawananmu. Ketika itu kamu berhasil membuatku terkena serangan jantung. Untung saja kesehatanku masih cukup baik hingga aku masih tetap bisa hidup.

Dua minggu kemudian, kamu memintaku menemanimu ke apotik dan membeli alat tes kehamilan. Jantungku kembali dipermainkan olehmu ketika kamu mengatakan bahwa sudah ada janin yang tumbuh di dalam rahimmu. Kamu menangis. Katamu jantungmu seakan berhenti berdegup saat harus mengatakannya pada kekasih hatimu itu. Dua hari kemudian, kamu membawaku ke sebuah klinik bersalin tak resmi untuk menggugurkan kandunganmu. Hari itu aku sama sekali tak melihat manusia bejat yang telah merenggut kenormalan fungsi jantungmu. Jantungku pun berdetak kencang. Bukan karena kaget akan keputusanmu. Tetapi karena mendengar ceritamu tentang kata-kata laki-laki itu bahwa cara ini adalah yang terbaik bagi semua. BIADAB!!!

Dua hari kemudian, orang tuamu meneleponku. Jantungku seakan tergetar ketika mendengar bahwa kamu dirawat di rumah sakit akibat proses menggugurkan kandungan itu. Setibaku di ruang rawatmu, kamu tergolek lemas, terbius infus, dan pria jahanam itu sama sekali tak ada di sampingmu. Hanya ada ibumu yang tak berhenti menangis. Lalu, ayahmu yang menanyaiku tanpa ada putus karena mencemaskanmu.

Dua hari kemudian, waktu aku sedang mencoba menikmati degupan jantungku sendiri karena cinta dari seorang pria, sebuah SMS masuk ke handphone milikku. Ternyata, berita duka cita... Jantungmu benar-benar telah berhenti berdenyut untuk selamanya. Ketika itu, jantungku seakan ikut mati.

Dua jam kemudian, aku tiba di rumahmu. Menatap jenazahmu. Terbujur kaku tanpa detak jantung. Hitam dan sendu memenuhi seluruh bagian rumahmu. Memperhatikan sekeliling. Seketika jantungku berdebar kencang sekali, tubuhku terasa panas, dan emosiku memuncak... Ibumu menampar wajah laki-laki yang ada di sampingku, lalu berteriak: "KURANG AJAAARR!!!"




Dia... Laki-laki yang memakai kemeja putih dan berdiri di sampingku adalah kekasih hatiku yang baru, perebut jantungku, sekaligus perenggut keperawanan belahan jiwaku dan membuatnya tak sanggup lagi merasakan denyut jantungnya.

Kamis, 18 Juni 2009

kalau aku sudah tahu caranya



dr. Arina Larashati. Shati. Singkatnya begitu saja. Itu aku. Perempuan 28 tahun yang telah menjadi dokter di sebuah rumah sakit swasta cukup terkenal di daerah Jakarta Timur. Aku anak ke empat dari delapan bersaudara. Aku hidup dengan diriku sendiri. Mendunia bersama cintaku sendiri.

Sekarang aku sedang bersama kekasihku. Dia laki-laki berumur 26 tahun yang sudah 4 tahun kupacari. Aku dan dia sedang bertemu di sebuah sudut sebuah kedai kopi kecil di ujung komplek tempat tinggalnya.
*

Kamu menyalakan rokok. Lalu, menghisapnya dalam-dalam.
"Nggak pulang lagi malam ini?" tanyaku.
"Lagi nggak pengen sama kamu." jawabmu.
"Kenapa?" tanyaku.
"Luka-lukamu tuh bikin ilfil." jawabnya singkat.
"Loh, kan kamu yang bikin." jawabku.
"Kamu kan dokter. Harusnya tau gimana caranya ngilangin luka dengan cara yang cepet," ujarnya sambil melihat lebam di pipiku, "lagipula tuh kamar udah sumpek banget rasanya. Bersihin kek!" lanjutmu.
"Itu kan kamarmu." jawabku.
"Kamar kita kan, Sayang?" kamu tersenyum sambil membenarkan letak poni rambutku.
Aku terdiam.

"Udah ah. Pergi dulu yah." kamu tersenyum lagi.
Aku mencoba meraih tangannya. Tak rela ditinggalkannya.
"Nanti kalo butuh telepon aja." kamu mencium kepalaku.
Aku terdiam. Menyaksikan langkahnya kelamaan hilang.

Duduk sendirian masih di tempat yang sama. Setelah melihatnya pergi dan memutuskan tidak menghabiskan malam bersamaku. Memikirkan cara untuk berhenti tergila-gila padanya. Mencari alasan untuk menyudahi semua rasa cinta kepada kekasihku sendiri. Menghapus lembaran kisah yang telah kuceritakan selama bertahun-tahun. Menyudahi semua luka yang selama ini selalu ia sayatkan padaku.

Membunuhnya? Lalu, aku masuk penjara dan membiarkannya mati dengan mudah? Tidak. Memutuskan jalinan cinta kami berdua? Lalu, dia akan dengan mudah menerorku dan menceritakan kemampuannya merenggut keperawananku pada pacar baruku nanti? Tidak. Mendatangi orang pintar dan membuatnya jatuh cinta kepadaku tanpa syarat? Lalu, aku dikutuk Tuhanku sendiri karena menyekutukanNya? Tidak. Selingkuh dengan laki-laki lain? Lalu, dia akan membunuh laki-laki selingkuhan yang tidak berdosa itu? Tidak. Lantas... Apa yang harus kulakukan?

Terlalu lelah menghabiskan tiap malam bersamanya. Bertiga menyatu bersama kasur di atas tempat tidur yang baunya sudah sangat penuh dengan kenistaan. Cuih... Aku saja rasanya ingin muntah bila sedang terlelap di atasnya. Namun, cintaku padanya membuatku menyerahkan segala kebanggaan diri. Hanya karena takut kehilangan peluknya. Lima tahun. Hanya di atas kasur kamarnya. Begitu saja dengan cara yang itu-itu saja. Dia bisa dengan mudah menamparku, mencaciku, lantas menyetubuhiku begitu saja. Bila sudah, ia akan bercinta dengan rokok dan minuman kerasnya.

Umurku sudah tidak muda lagi. Semua adik dan kakakku bahagia bersama keluarganya. Orang tuaku saja sudah mati karena jengah dengan hubungan anehku dengannya. Tanpa ada orang lain tahu bahwa aku yang seorang dokter dengan kekayaan berlimpah, tersungkur di bawah hinaan seorang laki-laki pemabuk sepertinya. Maka aku adalah seorang yang sangat hina.

Terlalu sulit untuk membuatnya pergi. Kini, satu-satunya hal yang terpikirkan adalah membuatku pergi dari hidupnya. Selamanya. Sudah tidak ada gunanya aku berada di dunia ini bila harus tersiksa menjauhi dia, apalagi bila ia terus sanggup membuatku jatuh dalam jerat cintanya. Maka, cara paling mudah untuk pergi dari dia adalah... MATI...

Bagaimana cara mati yang paling tidak menyakitkan? Aku sendiri yang seorang dokter sama sekali tidak tahu caranya. Hanya tahu kalau cara mati yang dikehendaki sendiri adalah bunuh diri. Tanpa tahu caranya. Maka, aku akan mencari tahu cara itu. Segera. Lalu aku akan mati, pergi selamanya dari hidup laki-laki yang sangat kucintai itu. Nanti, kalau aku sudah tahu caranya.

butuh jeda


Sebenarnya bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan terlalu berlebihan ketika langkah ini menentukan arahnya sendiri.

Menjadi bukan perkara apa-apa ketika waktu yang dilalui terasa terlalu cepat, padahal kaki ini sudah berusaha keras untuk terus berlari.

Pagi yang berubah menjadi siang, seketika bisa menjadi sore, dan dalam kejapan mata langsung berubah menjadi malam.

Satu, dua, tiga, hingga sampai seratus, mungkin seribu. Hitungan menjadi semakin banyak dan lebih dari satu digit.

Tak salah bila merasa jengah, lelah, dan mau marah. Namun, mimpi itu masih jauh di angan. Terlalu tergesa bila ingin menyerah. Jalan yang ditempuh sudah terlalu jauh, tak mungkin berputar, pengecut bila ambil jalan pintas, dan akan menjadi malu bila harus jalan berbalik.

Tidak sekedar membutuhkan tangan untuk meraih, bahkan tak sanggup bila di bantu kaki yang menjinjit. Menaiki kursi masih terlalu sulit, kursi yang ada di atas meja pun tak sanggup ikut membantu. Butuh tangga dengan banyak anak. Tidak cukup itu, masih harus ada jalan yang lebar, setapak, berbatu, berbukit, bahkan jurang yang dalam.

Lalu, akan dibutuhkan istirahat yang sejenak saja. Ketika semua terasa melelahkan, saat perjuangan membutuhkan helaan nafas panjang, dan pejuang itu sendiri terlalu lelah untuk terus bersemangat.

Tiang yang kokoh suatu saat bisa saja hancur. Batang pohon yang besar dan kuat seketika bisa saja tumbang. Lantas, tubuh yang tegar pun pantas jika merasa lemah.

Semua ini bukan berarti kalah. Tak berarti besok akan terdiam di tempat tanpa bergerak. Pantang menyerah untuk menyongsong matahari. Urung pulang bila malam belum datang.

Ini bukan maksud menunjukkan bahwa kisah ini adalah yang paling menyedihkan. Karena setiap nurani menceritakan kisahnya sendiri. Masing-masing insan memiliki sakit yang berbeda.



Bila saja ada satu jarak pendek yang bisa diciptakan. Sesaat saja. Hanya butuh jeda. Satu spasi saja sepertinya akan membuat semua bisa terasa lebih lega.








(tidak hanya kamu.... semua orang akan membutuhkan jeda...)

_buka mata, hati, dan telinga untuk bisa berbagi rasa, tangis, dan tawa_




Kamu mengambil lagi rokok dan menyalakannya lagi dengan api. Menghisapnya. Memejamkan mata sesaat. Lalu, tak lama kamu pun menghebuskan asap dari mulutmu. Kamu terdiam. Menikmati hisapan demi hisapan rokokmu. Tak ada suara. Tak bicara. Hanya asap yang keluar dari bibirmu seolah mencoba menggambarkan gundahnya jiwa.

Detik, menit, jam, hari, minggu, dan bulan yang kamu lalui terasa begitu membebani. Kehidupan yang sedang kamu alami sedang penuh tekanan. Banyak hal yang harus kamu raih. Ada tumpukan tugas yang harus kamu selesaikan. Beberapa masalah pun membuatmu sibuk dengan diri sendiri.

Kutatap wajahmu, matamu, dan gerak tubuhmu. Ada lelah yang tampak di sana. Cemas, takut, sedih, dan gulana itu yang paling tampak. Fikiran dan hati itu sekarang tampak memikirkan dirinya sendiri. Tidak lagi mampu membuai orang lain dengan keteduhan dan kesediaan mendengarkan segala keluh kesah. Kamu ingin didengar, dilihat, dan dipedulikan. Sedikit saja.

Aku masih mencoba mengamati dari sini. Memandangmu yang tampak kuyu dengan segala beban itu. Tetapi kamu mencoba bertahan, mencoba menyimak dengan baik, karena semua tahu dirimu begitu adanya.

Kamu tetap mendengarkan cerita cintanya, mendengarkan sakit hati yang dialaminya, mendengarkan luka batin yang dideritanya, dan mendengarkan tangis jiwa yang dirasakannya. Tanpa dia tahu tentang apa yang sedang kamu alami.

Aku masih dari jauh menatap.

Kamu bersikap yang tidak biasa ketikan dia meminta saran darimu. Hingga... Kamu menghela nafas sambil membuang abu di ujung rokokmu itu.
"Jalani hidupmu. Coba lupakan itu!" kamu bangkit dari tempat duduk, lalu pergi. Kembali menghisap rokokmu. Untuk kali ini kamu pergi. Bukan tidak peduli. Hanya butuh ruang untuk sendiri.




Buka mata hati telinga
Sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta
Yang kau inginkan tak selalu
Yang kau butuhkan mungkin memang yang paling penting
Cobalah untuk membuka mata hati telinga
(Maliq and D'Essentials-Mata Hati Telinga)





Kamu terlalu banyak mendengar soal cinta. Terlalu banyak manusia yang percaya dengan cinta. Semua orang di sekitarmu menggilai cinta. Seakan hanya kamu yang hanya bisa sadar dengan kebodohan yang dibuat oleh cinta yang gila itu. Seperti tinggal kamu yang sanggup mendengar segala cerita tentang derita cinta itu. Seolah tubuhmu saja yang belum dirasuki racun cinta itu.

Kamu selalu ingin menyelesaikan yang lain selain cinta. Kamu terus berharap bisa mengerjakan hal lain tanpa memikirkan cinta. Kamu terus berpijak pada langkah yang tak hanya mengejar cinta. Kamu terus mencari hikmah dari semua misteri yang tak pernah terpecahkan, tetapi itu bukan cinta. Buatmu, banyak hal yang lebih penting dari sekedar ucapan cinta. Kamu tak sadar bahwa mata, hati, dan telinga pada tubuhmu terlalu terbuka mengenali segala cita-cita lain. Lalu, pada akhirnya, kamu terlalu menutup diri untuk membuka hati pada seorang cinta.

Aku masih mengikutimu. Membuntutimu dari sini. Mencecapi setiap jejakmu yang terlalu rapuh.

Kamu seketika berhenti. Ini pada sebuah hutan luas yang terlalu indah untuk ditakuti. Namun, kamu sendirian. Hingga rasa takut itu menghinggapi kesepianmu. Lalu, kamu mencari sebuah pohon yang paling besar. Terduduk di bawahnya. Mematikan rokokmu. Melingkarkan lututmu, menundukkan kepala. Lantas, kamu mulai menangis.

Aku tetap menatapmu.

Kamu terisak. Perlahan sekali. Hingga di hutan seluas ini pun tak ada yang mendengar. Kamu merasakan keberadaan yang hanya dirimu sendiri. Tak ada yang lain. Tanpa cinta. Tanpa ada tempat untuk berbagi rasa, berbagi tangis, dan berbagi tawa. Kamu mulai menyadari bahwa kamu membutuhkan seseorang. Mulai menyadari bahwa kamu membutuhkan apa yang selama ini orang lain butuhkan dari dirimu.

Aku masih menyaksikanmu.

Pertahanan tegapmu itu seketika runtuh. Kamu tak seteguh itu. Kamu menjadi rapuh.

Lantas, masihkah kamu bisa membuka mati, hati, dan telinga untuk hal lain saja? Tidak pada satu kata itu? Tidak menuju ke perwujudan kata itu?

Aku memperhatikanmu semakin seksama. Berjalan ke arahmu.

Memegang bahumu dan duduk di sampingmu. Diam saja.

Kini, di hutan luas ini. Tempat yang terlalu indah ini. Ada kamu yang sendiri. Ada aku yang sendiri. Ada kita berdua. Di bentangan alam ini ada jejakku di sampingmu, ada langkahku mengiringimu, ada senyumku menemanimu, ada tawaku menghiburmu, dan ada tangisku meratapimu.

Jadi, mari berjalan ke depan sana. Pada tempat yang jauh dan entah berujung dimana. Jangan tengok ke belakang. Jangan takut gelap. Jangan takut terik matahari. Jangan takut rintangan. Bila saja kamu jatuh, aku akan ulurkan tangan. Tidak perlu kita melangkah bersebelahan. Cukup saja kamu tahu bahwa aku ada.