Dalam diam yang tercipta di gegap gempita malam, aku memperhatikanmu yang duduk tepat di depan kedua mataku yang mengarahkan tatap. Bila waktu membuang dirinya tanpa tersadar sendiri, aku menikmatinya karena detik demi detik yang habis hanya kulalui untuk menyaksikanmu menjalani dunia. Diantara ketidakjelasan aku mencoba memahami setiap rasa yang tumbuh diantara dua hati, aku dan kamu. Bahkan, ketika kamu mencoba untuk mengabaikannya, rasa itu terus menjadi raksasa yang akan menguasai masing-masing hati kita. Nantinya, kita berdua akan terjerembab dalam jurang perasaan yang membuat kita kesulitan untuk membebaskan diri.
Aku menunjukkan apa yang terbentuk dalam jiwa dengan laku tak biasa. Aku memelukmu dalam kesenyapan suara, aku memelukmu diantara sesaknya ruang, aku merengkuh kesyahduan pada keheningan suasana, dan maka aku berusaha memutuskan batas yang menjadi halang bagi kalimat tak terbantahkan. Aku menciptakan cara menjadikan peristiwa yang pasti tak bisa terlupakan.
Kadang ingin sekali menyatakan segala isi yang seperti akan meluap dari ruang hati. Tapi, aku mencoba menahan agar kamu merasakannya juga tanpa harus kupaksakan. Aku bersabar untuk menjadikan segalanya menjadi lebih baik di mata kita. Maka, tanpa berkata aku mencukupkan ego untuk menunjukkan semua bentuk dan susunan kerinduan. Mulut pun kukunci rapat agar tak menyatakan apa yang tak seharusnya tersampaikan kepadamu. Merasakan saja setiap sanjung yang terlalu sedikit dapat ternikmati. Membiarkan saja orang lain menilai kebersamaan kita sebagai suatu wujud yang berbeda. Lalu, aku akan terbuai dalam ketidakpastian yang melontarkan sejuta tanya padamu yang terpaku.
Bertahan dalam kerahasiaan hati sendiri akan menjadi beban yang terlalu menyakitkan. Tetapi melalui satu per satu sikap yang tampak dalam gerak-gerikmu kujadikan harap. Aku terus menjalani hari dan menganggap rasa yang kuberikan ini tak pernah salah. Tak akan kubiarkan hatiku menangis dalam pertanyaan yang belum jua kudapatkan jawabannya.
Aku tahu kamu memahami
Mengerti karena kamu insan yang punya nafas
Meyakini bahwa manusia tak salah bila mencintai
Diamku di sini menjadikanmu panduan rasa
Maka aku tak akan bicara
Merelakan kamu menghabiskan siang untuk merenungi
Lalu, kita kembali bergumul mengurai arti bahagia
Rabu, 21 April 2010
Selasa, 03 November 2009
Perempuan Paling Berarti Dalam Hidup
Pada ruangan 4 X 5 meter ini aku termenung dalam kegelapan menuju lelap. Sendirian seperti setiap malam biasanya. Menggantungkan bayang tentang tempat nun jauh di sana yang selalu hangat memeluk kala tubuh mulai merapuh. Rumah. Satu-satunya tempat tujuanku untuk kembali setelah terbang melambung ke langit luas mengerikan. Sekarang, aku sedang jauh dari tempat terindah yang menjadi istana termegah dalam ruang hatiku. Aku sungguh merindu setiap jiwa yang ada di dalamnya, dimana mereka selalu terucap dalam setiap hembusan nafasku dan menjadi bagian dari doa yang tak pernah putus.
Kini, aku akan bercerita tentang salah seorang yang ada di dalamnya. Perempuan yang paling berarti dalam hidupku, mungkin tanpa pernah kusadari. Namun, aku tak pernah berhenti untuk selalu menyebut namanya dalam setiap kegundahan yang mencoba menghancurkanku. Ibu. Dia yang selalu menjadi musuh terbaikku sekaligus kekuatan terbesarku untuk merenggut mimpi-mimpi yang masih tergantung. Sosok yang selalu kurindukan dalam setiap kali kepulanganku, karena aku ingin sekali selalu mendekapnya erat dan tak ingin kulepaskan.
Kata banyak orang, melihatku seperti melihat ibuku. Tak bercela wajahku menyerupainya, tetapi bagiku dia jauh lebih cantik dan sempurna daripada aku. Menjadi anaknya dan bagian dari keluarganya adalah satu-satunya kenikmatan yang tak kan pernah berhenti untuk kusyukuri. Aku sungguh terlena menjadi anak yang pernah lahir dari rahimnya. Walaupun, dia tak pernah mau bercerita jelas tentang caranya melahirkanku ke dunia ini. Aku paham benar, mungkin aku terlalu merepotkan waktu itu, tidak… bahkan sepertinya hingga sekarang aku terus membuatnya tak bisa melangkah dengan tenang.
Luasnya langit di angkasa menggambarkan betapa besarnya cintaku padanya. Tulus, tak berbatas, walau terkadang mungkin aku lengah mengabaikan kebaikannya. Rasanya aku tak akan pernah berhenti memohon maaf dan bersujud di kakinya, karena aku terlalu banyak menyakiti hatinya, terlalu banyak membuatnya memikirkanku, terlalu banyak membiarkannya kelelahan menjalani hari, dan terlalu banyak melupakan kata-katanya. Maaf, karena aku terlalu sering menjadi anak yang terlampau peduli pada diri sendiri.
Ibuku suka bernyanyi dan menciptakan lagu. Ia suka sekali bernyanyi diiringi orgen tunggal saat acara resepsi keluarga, lagunya tentang I Have a Dream dari Westlife. Ia suka menciptakan lagu tentang keluarga dan rumah kami. Sayangnya, aku tidak sanggup mengingat lagi secara utuh lagu-lagu itu. Tidak hanya itu, dia selalu memberi nama kepada semua boneka yang dulu sempat kumiliki. Lalu, dia juga selalu memarahiku setiap kali pulang mengambil rapor sekolah. Lantas dengan berani, saat duduk di sekolah menengah, aku memintanya tidak lagi marah melihat nilaiku. Atas semua itu, aku tetap masih mencintainya sepenuh hatiku.
Belakangan ini, aku seketika ingat dengan jelas mengenai satu cerita terindah yang pernah diceritakan ibu. Dulu, sewaktu aku masih kecil dan ayah-ibuku bekerja, ia selalu menyanyi untukku. Setiap malam, saat ibuku telah kembali dari kantor dan aku sedang bersiap untuk tidur. Ibuku menggendongku dalam kain panjang batik dan membawaku keluar rumah, ia memberikan botol susu ke dalam mulutku, lalu mulai bernyanyi sambil menunjukkan bintang dan bulan yang bertebaran di langit gelap. Rasanya, itu menjadi awal mula aku menggila-gilai langit dan seisinya. Ibu bernyanyi, menyanyikan lagu lama yang sepertinya tak pernah selesai kudengar akhirnya, karena aku terlanjur tertidur sebelum ibu usai menyelesaikannya.
Di wajahmu kulihat bulan
Menerangi hati gelap rawan
Biarlah daku mencari naungan
Di wajah damai rupawan
Serasa tiada jauh dan mudah dicapai tangan
Ingin hati menjangkau kiranya tinggi di awan
Di wajahmu kulihat bulan
Bersembunyi di balik senyuman
Jangan biarkan ku tiada berkawan
Hamba menantikan tuan
Kini, tempat yang berbeda sedang memisahkan aku dan ibuku. Tetapi, sebentar lagi aku pasti pulang dan memeluknya hingga hari berganti. Aku merindukannya setengah mati dan tak kan pernah lupa mengatakan cintaku setiap dia sempat bicara padaku dari jarak jauh. Usianya sudah beranjak tua dan kurasa aku sudah membuatnya terlampau lelah. Kartu tanda penduduknya saja sudah tidak perlu diperpanjang lagi, tetapi aku masih saja merepotkannya. Lalu, pada hari ini saat ia menambah lagi usianya, aku ingin sekali tersenyum menatap wajah cantiknya itu dan berkata…
“Ibu! I lap u!!!” Memeluknya dan menciumnya berkali-kali hingga ibuku kepayahan.
******
…TERIMA KASIH IBU…
Kini, aku akan bercerita tentang salah seorang yang ada di dalamnya. Perempuan yang paling berarti dalam hidupku, mungkin tanpa pernah kusadari. Namun, aku tak pernah berhenti untuk selalu menyebut namanya dalam setiap kegundahan yang mencoba menghancurkanku. Ibu. Dia yang selalu menjadi musuh terbaikku sekaligus kekuatan terbesarku untuk merenggut mimpi-mimpi yang masih tergantung. Sosok yang selalu kurindukan dalam setiap kali kepulanganku, karena aku ingin sekali selalu mendekapnya erat dan tak ingin kulepaskan.
Kata banyak orang, melihatku seperti melihat ibuku. Tak bercela wajahku menyerupainya, tetapi bagiku dia jauh lebih cantik dan sempurna daripada aku. Menjadi anaknya dan bagian dari keluarganya adalah satu-satunya kenikmatan yang tak kan pernah berhenti untuk kusyukuri. Aku sungguh terlena menjadi anak yang pernah lahir dari rahimnya. Walaupun, dia tak pernah mau bercerita jelas tentang caranya melahirkanku ke dunia ini. Aku paham benar, mungkin aku terlalu merepotkan waktu itu, tidak… bahkan sepertinya hingga sekarang aku terus membuatnya tak bisa melangkah dengan tenang.
Luasnya langit di angkasa menggambarkan betapa besarnya cintaku padanya. Tulus, tak berbatas, walau terkadang mungkin aku lengah mengabaikan kebaikannya. Rasanya aku tak akan pernah berhenti memohon maaf dan bersujud di kakinya, karena aku terlalu banyak menyakiti hatinya, terlalu banyak membuatnya memikirkanku, terlalu banyak membiarkannya kelelahan menjalani hari, dan terlalu banyak melupakan kata-katanya. Maaf, karena aku terlalu sering menjadi anak yang terlampau peduli pada diri sendiri.
Ibuku suka bernyanyi dan menciptakan lagu. Ia suka sekali bernyanyi diiringi orgen tunggal saat acara resepsi keluarga, lagunya tentang I Have a Dream dari Westlife. Ia suka menciptakan lagu tentang keluarga dan rumah kami. Sayangnya, aku tidak sanggup mengingat lagi secara utuh lagu-lagu itu. Tidak hanya itu, dia selalu memberi nama kepada semua boneka yang dulu sempat kumiliki. Lalu, dia juga selalu memarahiku setiap kali pulang mengambil rapor sekolah. Lantas dengan berani, saat duduk di sekolah menengah, aku memintanya tidak lagi marah melihat nilaiku. Atas semua itu, aku tetap masih mencintainya sepenuh hatiku.
Belakangan ini, aku seketika ingat dengan jelas mengenai satu cerita terindah yang pernah diceritakan ibu. Dulu, sewaktu aku masih kecil dan ayah-ibuku bekerja, ia selalu menyanyi untukku. Setiap malam, saat ibuku telah kembali dari kantor dan aku sedang bersiap untuk tidur. Ibuku menggendongku dalam kain panjang batik dan membawaku keluar rumah, ia memberikan botol susu ke dalam mulutku, lalu mulai bernyanyi sambil menunjukkan bintang dan bulan yang bertebaran di langit gelap. Rasanya, itu menjadi awal mula aku menggila-gilai langit dan seisinya. Ibu bernyanyi, menyanyikan lagu lama yang sepertinya tak pernah selesai kudengar akhirnya, karena aku terlanjur tertidur sebelum ibu usai menyelesaikannya.
Di wajahmu kulihat bulan
Menerangi hati gelap rawan
Biarlah daku mencari naungan
Di wajah damai rupawan
Serasa tiada jauh dan mudah dicapai tangan
Ingin hati menjangkau kiranya tinggi di awan
Di wajahmu kulihat bulan
Bersembunyi di balik senyuman
Jangan biarkan ku tiada berkawan
Hamba menantikan tuan
Kini, tempat yang berbeda sedang memisahkan aku dan ibuku. Tetapi, sebentar lagi aku pasti pulang dan memeluknya hingga hari berganti. Aku merindukannya setengah mati dan tak kan pernah lupa mengatakan cintaku setiap dia sempat bicara padaku dari jarak jauh. Usianya sudah beranjak tua dan kurasa aku sudah membuatnya terlampau lelah. Kartu tanda penduduknya saja sudah tidak perlu diperpanjang lagi, tetapi aku masih saja merepotkannya. Lalu, pada hari ini saat ia menambah lagi usianya, aku ingin sekali tersenyum menatap wajah cantiknya itu dan berkata…
“Ibu! I lap u!!!” Memeluknya dan menciumnya berkali-kali hingga ibuku kepayahan.
******
…TERIMA KASIH IBU…
(sisa kue ibu yg ditinggal di kost)
*saat ibu ulang tahun, hanya sebuah kue kecil dan kecupan di kedua pipinya yang sanggup kuberikan*
Label:
cerita,
mi luvly famili,
naasarep
Senin, 12 Oktober 2009
Dibalik Sebuah Foto
Dibalik Sebuah Foto
_Menur Widilaksmi_
_Menur Widilaksmi_
Aku menatap sebuah bingkai yang tergantung di tembok. Memperhatikan ekspresi setiap orang yang terlukis dari setiap orang pada gambar itu. Mereka-reka cerita dari peristiwa ketika foto itu diambil. Aku melambungkan khayalanku dan mencoba menikmati setiap kejadian yang rasanya mampu sangat jelas kutatap lewat kedua mataku.
”Itu keluargaku.” seorang laki-laki tersenyum ke arahku dan membuyarkan segala lamunanku.
”Hmm... sudah kuduga. Ada kamu di sana.” aku mengalihkan pandanganku kepadanya.
”Kenapa kamu tampak terkesima memandangi foto keluargaku?”
”Karena aku ingin sekali punya keluarga.”
”Kamu punya aku sekarang.”
Aku memang sekarang punya keluarga. Dirinya. Keluarga kecil yang kuharap bisa selalu bahagia. Sebuah keluarga utuh yang sejak kecil selalu kucita-citakan, namun tidak pernah kudapatkan. Aku akan memulai lembaran baru bersamanya menjadi seorang ayah dan ibu, bersiap melahirkan anak-anak yang kuharap jauh lebih beruntung dari kami. Memiliki ayah, ibu, dan saudara yang selalu menemani mereka sepanjang hidup. Setidaknya, sampai mereka sudah siap menjalani hidup sendiri.
Dua puluh lima tahun aku hidup tanpa mengenal siapa ayah dan ibuku. Panti asuhan cacat ganda menjadi tempatku bernaung selama lebih dari dua dekade hidup. ..............
(read complete on Hermes For Charity)
--------------------------
Menyatukan Hati Untuk Menghapus Air Mata Ibu Pertiwi
Judul : HERMES FOR CHARITY *
Penulis : The Hermes
Bentuk : File digital (.pdf)
Harga : Rp. 15.000,-**
Isi :
Earth Is A Lonely Planet (Emmy Emanyza)
Dia… Tuhan! (Fajar Nugros)
Memotret Sejarah (Luckty Giyan Sukarno)
Tuhan Dan HambaNya (Dedo Dpassdpe)
Pulang (Melody Muchransyah)
Di Balik Sebuah Foto (Menur Widilaksmi)
Menunggu Bak (Luckty Giyan Sukarno)
Catatan Dari Padang (Rizki Januarsaputra)
Malaikat Bertongkat (Eni Setyaningsih)
Aku Mau Jadi Pahlawan (Galuh Parantri)
Untuk Wanita (Asyharul Fityan)
Surga Untuk Hati (Artasya Sudirman)
Wanita (Sitty Asiah)
Laila : Meja Nomor Tiga Puluh (Asyharul Fityan)
Hanabi (Chicko Handoyo Soe)
Aku, Lagu Cinta, dan Music Player (Faizal Reza)
Pangeran Impian Didi (Zadika Alexander)
Kura-Kura Terlambat (Faizal Reza)
Melepas Gia (Alvin Agastia Zirtaf)
Leaving Leon (Sitty Asiah)
Di Balik Pintu (Jia Effendie)
Liang (Dan Sapar)
Selamat Datang!! (Artasya Sudirman)
Hati Yang Tak Bisa Mati (Nina Josephina)
Berkawan Dengan Hujan (Pia Zakiyah)
Bonus: Original Soundtrack
Blue Summer - Hermes For Charity
Blue Summer - Someday Baby
Blue Summer - San Fransisco Bay
Seluruh hasil penjualan kompilasi cerpen digital HERMES FOR CHARITY akan disumbangkan untuk korban gempa di Padang, Sumatera Barat dan sekitarnya.
Cara pembelian :
1. Transfer Rp. 15.000,-** ke :
BCA KCP Proklamasi Depok
Nomor rekening. 661 040 947 2
a.n Alvin Agastia Zirtaf
2. Konfirmasikan pembayaran anda via email ke : hermesforcharity@gmail.com dengan format sebagai berikut :
Subject : Konfirmasi H4C
Isi: Nama (spasi) Tanggal & Bulan Transfer (Spasi) Jumlah Transfer (Spasi) Nama Bank (Spasi) No. Rekening (Spasi) Nama Pemilik Rekening
Contoh : Abdul Malik 0910 15000 BCA 123456789 Abdul Malik
Pembelian anda segera diproses dalam waktu selambat-lambatnya 1x24 jam, setelah itu link untuk mendownload produk akan dikirimkan via email.
Hormat kami dengan cinta,
The Hermes
Alvin Agastia Zirtaf - Artasya Sudirman - Asyharul Fityan
Chicko Handoyo Soe - Dan Sapar - Dedo Dpassdpe
Dwi Fitriyani - Eliana Candra - Emmy Emanyza - Eni Setyaningsih
Faizal Reza - Fajar Nugros - Galuh Parantri - Jia Effendie
Luckty Giyan Sukarno - Melody Muchransyah - Menur Widilaksmi
Nina Josephina - Pia Zakiyah - Rizki Januarsaputra
Sitty Asiah - Tiara Hermes - Zadika Alexander
--------------------------
* Produk yang dijual adalah file digital (.pdf) dan file musik (.mp3). Gambar yang ditampilkan hanya sebagai ilustrasi. Pembeli akan mendapatkan link untuk mendownload produk yang akan dikirimkan via email.
** Harga yang tercantum adalah harga minimum. Kompilasi ini dirilis untuk penggalangan dana. Harga maksimum bisa ditetapkan sendiri oleh pembeli.
Kamis, 10 September 2009
Berhenti Menunggu
Dia selalu tak pernah absen meraih tanganku saat aku terpuruk. Menyentuh hatiku ketika tangis menyelimuti, hingga air mata terhapus oleh bahagia. Dia selalu bilang bahwa sedikit senyum menjadikan aku semakin tegar menjalani hari yang seringkali terasa pelik. Bukan matanya yang meneduhkan, bukan dirinya yang menguatkan, bukan tawanya yang menyejukkan, tetapi kata darinya yang selalu membuatku merasa utuh.
”Apakah aku akan menemukan tepian?” aku menatapmu saat malam berusaha kita habiskan selayak biasanya.
”Pada hati yang terlalu luas? Kurasa tidak.” kamu menatap langit dan menghela nafas seolah putus asa.
Kalimat itu selalu membuatku meragu, memaksakan diri untuk terus berpacu. Meresapi setiap waktu yang bisa kuhabiskan bersamanya. Diantara kegundahan, perih, takut, tawa, dan bahagia. Aku bisa menemuinya setiap saat bila dunia membuatku terluka. Bukan dengan belaian sayang dia mendekapku, tetapi kekuatannya yang berhasil menampar kekalahanku. Lalu, aku sanggup berdiri dan berjalan kembali menentang prahara.
”Kemana aja?” dia bicara kala satu waktu bertemu denganku setelah sekin lama.
”Kamu yang kemana aja?” perlawanan tegas kuucapkan sebagai wujud kerinduan.
”Setiap malam aku menunggu.”
”Disaat aku menunggumu?”
”Tidakkah kamu hendak membunuh jemu itu?”
”Haruskah aku?”
”Bila saja kamu mau sedikit berkorban.”
”Lalu, aku memperjuangkanmu? Tidakkah sebaliknya?”
”Aku ingin kamu sekarang.”
”Aku ingin kamu juga. Tapi tidak sekarang. Sanggupkah kamu menunggu lagi?”
”Diantara sepi dan kesendirian bersama ketidakpastian yang sanggup membunuhku?”
”Tidak. Aku akan menemanimu walau sempitnya waktu membatasi kita.”
”Kamu pikir aku sanggup?”
”Aku tidak memohon. Tapi aku berharap.”
”Lantas, aku akan bilang aku lelah. Aku berhenti saja.”
”Disini? Membiarkanku sendiri?”
”Tidak. Kamu bersama mimpimu. Biarkan aku bersama dia.”
”Dia? Mimpimu?”
”Bukan. Dia yang sanggup selalu ada bersamaku.”
”Membunuh mimpi kita?”
”Aku hanya mencoba merealisasikan mimpimu yang bukan aku.”
Ia pergi membalikkan langkah, berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. Membiarkan aku memecah sunyi dengan tangisan yang menyiksa. Membuat seumur hidupku akan mengingat dengan jelas tentang setiap suara jejak yang ia tinggalkan.
*ketika menatap sebuah foto*
Jumat, 28 Agustus 2009
Ketika Siang Merindukan Malam
Aku ingin menangis
Tidak! Aku ingin berteriak
Pada ruang dan jarak yang membentang
Membatasi jiwaku untuk menyentuhmu
Padahal sejak lama harap mendesak untuk terkuak
Melekatkan sunyi untuk kau lucuti
Tanya selalu saja menyesakkan
Melantunkan lirik tentang pertemuan aku dan kamu
Walaupun waktu tak jua datangkan peluang
Sejuta mimpi selalu kugantungkan
Menghilangkan kehausan akan sepi
Lepaskan lara yang membelenggu
Ingin kembali pada peraduan
Menemui malam yang bersembunyi di sudut
Perhatikan ragamu yang belum kupeluk
Temukan rahasia pada hasrat di setiap celahmu
Hingga pagi menyambangi bila tangan bertaut
Tidakkah kamu?
Tidak usah lagi beringsut
Benar ini tentang kamu
Kamu yang sempat terpojok di sudut karena aku
*saat ingin sekali pulang
Rabu, 26 Agustus 2009
saat malam gelap dan sepi
Malam ini aku berjalan melangkahkan kakiku sendirian di tepi sebelah kiri jalanan yang tak rata. Gelap dan sepi. Iya, mirip seperti perasaanku yang sedang kututupi. Tetapi, karena aku sedang berhadapan dengan diriku sendiri, aku merasa tak perlu berpura-pura. Aku mampu merasakan gelap dan sepi yang membabi buta, dimana aku bisa saja memutuskan untuk membiarkan air mataku mengalir di pipi menunjukkan pilunya jiwaku. Namun, aku menahannya. Ternyata superego dalam diriku masih sanggup menahan id yang menggebu-gebu. Aku menahan diriku sendiri untuk melepaskan beban yang terendap.
Aku menatap langit agar air dari dalam mataku tidak menetes keluar. Langit yang hitam itu berkelap-kelip karena ada beberapa bintang bertebaran di sana. Lalu, ada bulan sabit yang tampak menggoda karena bentuknya yang sedang tampak sempurna. Aku jadi teringat padanya. Dia yang kurang lebih satu tahun ini tanpa kusadari telah menerangi setiap gelap dan sepiku. Hanya bila kuingin dan kuminta, bukan datang dengan sendirinya dan menawarkan.
Sejak lama aku sudah terbiasa dengan kesendirian. Tak paham juga tentang sebabnya, karena kesendirian telah lahir dan tumbuh bersama tubuhku. Menjadikanku sebagai manusia yang terlalu sering tidak peduli pada perasaan orang lain, hingga aku sama sekali tidak peka pada kemungkinan datangnya pasangan jiwa. Menyadari bahwa sendirian itu menjemukan, seringkali aku hanya bisa tersenyum di depan cermin yang telah bertahun-tahun menjadi satu-satunya sahabat terbaik.
Lantas, seketika dia datang saat aku sedang berjuang mati-matian untuk membenci laki-laki yang menawarkan cinta. Tertawa, tersenyum, tertawa, dan tersenyum selalu saja menemani setiap kebersamaanku dengannya. Bahagia yang berbunga-bunga menjadikanku tenggelam dalam lautan hati. Dia berhasil melambungkan hatiku dan membuatku benar-benar jatuh hati padanya. Mencurahkan semua keindahan atas nama dirinya yang sama sekali belum pernah kutemui setelah… entah, mungkin 7 tahun lalu. Aku hanya bisa menatap wajahnya melalui situs pertemanan dunia maya yang sedang digandrungi banyak manusia.
“Jejakmu memudar tanpa aku tahu apa warnanya.”
“Kamu melhatnya tanpa warna?”
“Mungkin karena aku buta warna.”
“Lalu, sanggup menatapku dalam kebutaanmu?”
“Aku masih sanggup melihat walau tanpa warna.”
Sejak itu, aku jadi berpikir tentang keutuhan dirimu dalam menyaksikanku. Meragukan tatapanmu ketika melihat aku dengan teropong hatimu. Menyangsikan kebersamaan karena ruang dan waktu yang membatasi pertemuan. Aku masih berjuang dan berlari ke depan meraih mimpi yang ada kamu di dalamnya. Namun, aku mulai berpikir bahwa kamu tak mau menjadi mimpiku yang penuh warna. Kamu suka abu-abu yang membuatku memburu jemu.
“Aku sedang rapuh.”
“Berbagilah. Maka kamu bisa merangkaikan untuk menjadikannya utuh.”
“Bilakah kamu?”
“Walau kita berjarak. Aku masih tetap di sini menemanimu.”
Aku disini, kamu pun masih berada di sana. Walaupun aku tak sanggup menatap, tetapi aku mampu melihat. Jauh dalam lubuk hatiku kamu menjadi cahaya dalam langkahku. Aku masih dalam gelap, tetapi punya terang yang membuat jejakku tampak cukup jelas. Maka, ketika kamu menghilang dan terbang, aku berharap akan masih sanggup menggenggam sisa-sisa perasaan yang sempat kamu tinggalkan sebelum pergi.
“Kamu menunggu?”
“Sudah terlalu lelah rasanya. Bolehkah aku tak lagi menunggu?”
“Iya, harusnya begitu. Nanti akan datang.”
“Kamu?”
“……..”
Menempuhnya hanya butuh waktu sekitar dua belas jam saja. Bisa dibalik seharusnya. Menempuhku hanya butuh waktu sekitar dua belas jam saja. Sepertinya sudah sepantasnya aku menunggu, bukan memburu. Aku tidak akan duduk diam, dunia masih boleh berputar dan hari kupersilakan untuk berganti. Tetapi, aku mengajak diriku sendiri agar tidak lagi menikmati lelah menyelami perasaan dalam jiwa terdalamku. Aku ingin dia yang datang ke hadapan dan menyunggingkan senyumnya yang sudah terlalu lama tidak kutatap.
Sungguh aku sangat tak paham dengan perasaan yang terbersit belakangan ini. Aku tak bisa mendeskripsikan dengan jelas maknanya. Apakah aku tidak lagi peka dengan perasaanku sendiri?
Aku menatap langit agar air dari dalam mataku tidak menetes keluar. Langit yang hitam itu berkelap-kelip karena ada beberapa bintang bertebaran di sana. Lalu, ada bulan sabit yang tampak menggoda karena bentuknya yang sedang tampak sempurna. Aku jadi teringat padanya. Dia yang kurang lebih satu tahun ini tanpa kusadari telah menerangi setiap gelap dan sepiku. Hanya bila kuingin dan kuminta, bukan datang dengan sendirinya dan menawarkan.
Sejak lama aku sudah terbiasa dengan kesendirian. Tak paham juga tentang sebabnya, karena kesendirian telah lahir dan tumbuh bersama tubuhku. Menjadikanku sebagai manusia yang terlalu sering tidak peduli pada perasaan orang lain, hingga aku sama sekali tidak peka pada kemungkinan datangnya pasangan jiwa. Menyadari bahwa sendirian itu menjemukan, seringkali aku hanya bisa tersenyum di depan cermin yang telah bertahun-tahun menjadi satu-satunya sahabat terbaik.
Lantas, seketika dia datang saat aku sedang berjuang mati-matian untuk membenci laki-laki yang menawarkan cinta. Tertawa, tersenyum, tertawa, dan tersenyum selalu saja menemani setiap kebersamaanku dengannya. Bahagia yang berbunga-bunga menjadikanku tenggelam dalam lautan hati. Dia berhasil melambungkan hatiku dan membuatku benar-benar jatuh hati padanya. Mencurahkan semua keindahan atas nama dirinya yang sama sekali belum pernah kutemui setelah… entah, mungkin 7 tahun lalu. Aku hanya bisa menatap wajahnya melalui situs pertemanan dunia maya yang sedang digandrungi banyak manusia.
“Jejakmu memudar tanpa aku tahu apa warnanya.”
“Kamu melhatnya tanpa warna?”
“Mungkin karena aku buta warna.”
“Lalu, sanggup menatapku dalam kebutaanmu?”
“Aku masih sanggup melihat walau tanpa warna.”
Sejak itu, aku jadi berpikir tentang keutuhan dirimu dalam menyaksikanku. Meragukan tatapanmu ketika melihat aku dengan teropong hatimu. Menyangsikan kebersamaan karena ruang dan waktu yang membatasi pertemuan. Aku masih berjuang dan berlari ke depan meraih mimpi yang ada kamu di dalamnya. Namun, aku mulai berpikir bahwa kamu tak mau menjadi mimpiku yang penuh warna. Kamu suka abu-abu yang membuatku memburu jemu.
“Aku sedang rapuh.”
“Berbagilah. Maka kamu bisa merangkaikan untuk menjadikannya utuh.”
“Bilakah kamu?”
“Walau kita berjarak. Aku masih tetap di sini menemanimu.”
Aku disini, kamu pun masih berada di sana. Walaupun aku tak sanggup menatap, tetapi aku mampu melihat. Jauh dalam lubuk hatiku kamu menjadi cahaya dalam langkahku. Aku masih dalam gelap, tetapi punya terang yang membuat jejakku tampak cukup jelas. Maka, ketika kamu menghilang dan terbang, aku berharap akan masih sanggup menggenggam sisa-sisa perasaan yang sempat kamu tinggalkan sebelum pergi.
“Kamu menunggu?”
“Sudah terlalu lelah rasanya. Bolehkah aku tak lagi menunggu?”
“Iya, harusnya begitu. Nanti akan datang.”
“Kamu?”
“……..”
Menempuhnya hanya butuh waktu sekitar dua belas jam saja. Bisa dibalik seharusnya. Menempuhku hanya butuh waktu sekitar dua belas jam saja. Sepertinya sudah sepantasnya aku menunggu, bukan memburu. Aku tidak akan duduk diam, dunia masih boleh berputar dan hari kupersilakan untuk berganti. Tetapi, aku mengajak diriku sendiri agar tidak lagi menikmati lelah menyelami perasaan dalam jiwa terdalamku. Aku ingin dia yang datang ke hadapan dan menyunggingkan senyumnya yang sudah terlalu lama tidak kutatap.
Sungguh aku sangat tak paham dengan perasaan yang terbersit belakangan ini. Aku tak bisa mendeskripsikan dengan jelas maknanya. Apakah aku tidak lagi peka dengan perasaanku sendiri?
*untuk seseorang yang sedang menghilang untuk menjelma menjadi bulan sabit di langit
13 # HERMES CAFE : Ketika Menemukan Lainnya
Aku segera berlari keluar dari kelas tepat setelah dosen ―perempuan setengah baya yang galaknya amit-amit― itu melangkah keluar pintu. Aku harus cepat-cepat pulang dan bersiap bertemu teman-teman gank kecimpring di Hermes Café pada jam makan siang. Jam 12 berarti setengah jam lagi dan aku masih berada di kampus.
“Triiiiddd!!!” teriak seseorang yang hanya suaranya kudengar.
Aku menghentikan langkahku dengan segera dan menoleh ke arah suara itu memanggil. Djawa berdiri beberapa meter di belakangku dan mengacung-acungkan binder file berwarna hijau milikku.
“Binder lo ketinggalan!” teriaknya.
Dasar dong dong, bisa-bisanya ninggalin binder file catatan kuliah di kelas. Padahal minggu depan si dosen ―perempuan setengah baya yang galaknya amit-amit― berniat memberi kuis yang biasanya susahnya tiada tara. Yah, satu-satunya mata kuliah yang membuatku rajin mencatat dan mendengarkan adalah kuliah dosen tadi. Bagaimana tidak, sudah tiga kali aku tidak lulus mata kuliahnya. Jadi, untuk semester ini aku harus berjuang mati-matian hanya untuk mengemis nilai B pada ibu dosen tercinta.
Langkahku beringsut mendekati tempat Djawa berdiri.
“Tengkyu, Wa.” Binder hijau itu langsung berusaha kurenggut dari tangan Djawa.
“Eh, gue pinjem dong catetan yang tadi.“ Djawa menahan binderku di tangannya.
”Dodol! Lu kagak nyatet?”
”Tadi gue tidur.” Djawa menyengir menampakkan gigi-giginya yang tampak tidak terlalu putih namun tetap berjajar rapih itu.
”Kampret lu! Kagak tobat-tobat juga lu ma dosen nenek sihir itu? Udah sama kayak gue nggak lulus tiga kali berturut-turut tetep aja ndablek!” aku dengan sukses menoyor kepala Djawa yang rambutnya berdiri tegak semua.
”Dasar emak-emak, ngemeng mulu lo! Udah, gue pinjem nih catetan!” Djawa membuka binder fileku dan mencari lembaran catatanku.
”Sebelum minggu depan lo balikin! Kita ada kuis. Gue nggak mau nilai gue ancur lagi gara-gara satu nilai kuis yang tidak memuaskan.” ancamku pada Djawa.
”Gaya lo, Trid! Kayak lo belajar aja besok.” Djawa menyinyir.
“Udah ah. Gue cabut! Kelamaan berantem ma lo bisa nggak pulang gue.” Aku membiarkan Djawa mengobrak-abrik binderku.
“Eh, lo mau kemana sih buru-buru amat? Pacaraan yaaaa???” Djawa mengejekku dengan senyum lebar dan alis yang sengaja dibuat naik beberapa kali.
“Kagaaakkk! Mau begaol gue!”
“Sama kecimpring lo itu?”
“Iyalah. Sama cewek lo juga.” Asiah, salah satu anggota kecimpring adalah pacar baru Djawa setelah aku dan teman-teman yang lain dengan sukses menjodohkan mereka.
*
Setibanya di rumah. Aku langsung masuk ke dalam kamar dan kemrungsung mengganti pakaian dan meletakkan perlengkapan kuliahku di meja belajar kamar. Tak berapa lama, kekasihku yang seorang pelukis datang menjemput dengan motornya. Aku pun segera keluar rumah untuk segera berangkat ke Hermes Café.
Tepat di luar pagar, pacarku sedang asyik menungguku dengan duduk di atas jok depan motornya. Setengah berlari, aku menghampirinya. Tanpa banyak bicara, aku mengambil helm di tangannya dan segera naik. Pacarku yang seniman itu pun langsung menyalakan mesin motornya dan tancap gas meninggalkan rumah.
Sebenarnya kalau tidak pacarku yang menawarkan, rasanya enggan sekali pergi dengannya. Bahkan, aku juga sering berpikir, kenapa aku bisa pacaran dengan pelukis ini? Seseorang yang jalan pikirannya seringkali berbeda denganku dan membuatku jengah berdiskusi dengannya. Tetapi, entah kenapa hubungan kami tetap saja bertahan walaupun beberapa kali putus-nyambung.
Sangat bosan rasanya sepanjang perjalanan yang dihabiskan dengan pacar hanya terdiam membisu tanpa membicarakan apa-apa. Tidak jauh beda dengan naik ojek, malah kadang-kadang tukang ojek sering mengajak penumpangnya berbincang. Kekasihku ini terlalu pendiam dan menghanyutkan, membuatku seribu kali harus bersabar menghadapinya. Ah, andai saja aku menemukan orang lain yang sedikit saja lebih heboh dari pacarku, aku pasti akan mempertimbangkannya untuk mengisi hatiku.
*
”Pulangnya dijemput nggak?” tanya kekasihku setibanya kami di Hermes Café.
”Nggak usah. Nanti aku minta dianterin aja.” kuserahkan helm berwarna hijau itu ke pacarku yang sama sekali tidak berwajah ramah.
Dia hanya membalas dengan mengangguk. Aku pun meninggalkannya dan segera mengejar anggota kecimpring yang kulihat sedang akan masuk ke pintu café. Sambil menuju ke teman-temanku, aku mencoba melupakan kekasih nan menyebalkan itu. Memasang muka ceria seceria mungkin dan merangkul para kecimpring dengan bersemangat.
Setelah masuk ke tempat yang bergaya Art Deco dimana kami biasa berkumpul ini, aku dan segerombolan Venus berisik langsung memesan minuman pada waiter training aneh yang menjelaskan panjang lebar sejarah kopi jawa. Tak berapa lama setelah pesanan kami dicatat dengan cekatan, aku memperhatikan sekeliling tempat menakjubkan ini, mengagumi keindahannya sambil mencuci mata mencari pengunjung yang mungkin sanggup mengalihkan duniaku. Seperti laki-laki pemabuk kopi.... itu... dia... lagiii??? Omigod! Itu kan temennya Emmy yang kemarin...
Laki-laki yang bernama Chicko itu menghampiri kami dan langsung bergabung bersama di meja kami. Tapi, sebelum kami sempat berbincang, seseorang melangkah mendekati meja kami.
”Misi... Ini ada pesen dari Mas yang ada di sana.” ujar Alvin, waiter training yang tumben jalannya tidak kemayu. Lalu, ia pun menoleh ke meja tempat tiga orang laki-laki sedang berbincang.
Galuh mengambil kertas yang diserahkan oleh waiter menyebalkan itu.
”Baca, Gal!” beberapa diantara kami serempak berteriak pada Dudu.
Chicko hanya terdiam memperhatikan kami.
Galuh pun segera membuka kertas kecil yang disobek asal-asalan itu dan membacanya cukup keras hingga semua di meja ini dapat mendengarnya dengan jelas ;
Tolong telepon saya ya, 08566676766
”Buset dah! Nekat banget nih. Nyuruh-nyuruh kita.” Pia spontan protes.
”Gila deh. Sumpah!” Luckty yang kakaknya Pia pun bersuara.
”Udah telepon aja! Jabanin! Rame-rame ini!” aku pun berkomentar.
Galuh langsung mengambil telepon genggamnya dan menekan angka-angka untuk menghubungi nomor yang tertera di kertas itu.
Serempak kami menengok ke arah meja pemberi kertas itu. Terlihat seorang laki-laki mengangkat sebuah telepon genggam. Sayang, wajahnya tidak tampak, kami hanya bisa melihat tubuh bagian belakangnya. Yah, jelas-jelas itu dia yang sedang mengangkat telepon kami. Mungkin dia yang menyuruh kami menelepon.
"Halo!" ujar suara di seberang telepon.
"Halo!? Siapa ini ya?" ucap Galuh seketika setelah telepon diangkat. Galuh pun langsung menekan tanda loudspeaker agar kami semua bisa mendengar jawaban dari mas-mas di seberang telepon itu.
"Eh, maaf.. Temennya Dedo ya? Dedonya lagi nggak ada, bentar lagi telpon lagi ya?"
"Dedo siapa?" Galuh bersuara semakin kesal.
"Lhah, ini yang nelpon koq malah nanya?" suara di seberang telepon lebih menyebalkan lagi.
"Eh sori ya, mas. Saya baru dapat sebuah kertas untuk menelepon nomer anda. Jadi anda yang harus menjelaskan!"
"Saya nggak tahu dengan apa yang baru anda katakan."
"Begini. Anda memberikan sebuah kertas, sebuah perintah untuk menghubungi nomer telepon yang sedang anda angkat ini..." muka Galuh terlihat memerah.
tuuut, tuuut, tuuut... telepon pun terputus.
“Triiiiddd!!!” teriak seseorang yang hanya suaranya kudengar.
Aku menghentikan langkahku dengan segera dan menoleh ke arah suara itu memanggil. Djawa berdiri beberapa meter di belakangku dan mengacung-acungkan binder file berwarna hijau milikku.
“Binder lo ketinggalan!” teriaknya.
Dasar dong dong, bisa-bisanya ninggalin binder file catatan kuliah di kelas. Padahal minggu depan si dosen ―perempuan setengah baya yang galaknya amit-amit― berniat memberi kuis yang biasanya susahnya tiada tara. Yah, satu-satunya mata kuliah yang membuatku rajin mencatat dan mendengarkan adalah kuliah dosen tadi. Bagaimana tidak, sudah tiga kali aku tidak lulus mata kuliahnya. Jadi, untuk semester ini aku harus berjuang mati-matian hanya untuk mengemis nilai B pada ibu dosen tercinta.
Langkahku beringsut mendekati tempat Djawa berdiri.
“Tengkyu, Wa.” Binder hijau itu langsung berusaha kurenggut dari tangan Djawa.
“Eh, gue pinjem dong catetan yang tadi.“ Djawa menahan binderku di tangannya.
”Dodol! Lu kagak nyatet?”
”Tadi gue tidur.” Djawa menyengir menampakkan gigi-giginya yang tampak tidak terlalu putih namun tetap berjajar rapih itu.
”Kampret lu! Kagak tobat-tobat juga lu ma dosen nenek sihir itu? Udah sama kayak gue nggak lulus tiga kali berturut-turut tetep aja ndablek!” aku dengan sukses menoyor kepala Djawa yang rambutnya berdiri tegak semua.
”Dasar emak-emak, ngemeng mulu lo! Udah, gue pinjem nih catetan!” Djawa membuka binder fileku dan mencari lembaran catatanku.
”Sebelum minggu depan lo balikin! Kita ada kuis. Gue nggak mau nilai gue ancur lagi gara-gara satu nilai kuis yang tidak memuaskan.” ancamku pada Djawa.
”Gaya lo, Trid! Kayak lo belajar aja besok.” Djawa menyinyir.
“Udah ah. Gue cabut! Kelamaan berantem ma lo bisa nggak pulang gue.” Aku membiarkan Djawa mengobrak-abrik binderku.
“Eh, lo mau kemana sih buru-buru amat? Pacaraan yaaaa???” Djawa mengejekku dengan senyum lebar dan alis yang sengaja dibuat naik beberapa kali.
“Kagaaakkk! Mau begaol gue!”
“Sama kecimpring lo itu?”
“Iyalah. Sama cewek lo juga.” Asiah, salah satu anggota kecimpring adalah pacar baru Djawa setelah aku dan teman-teman yang lain dengan sukses menjodohkan mereka.
*
Setibanya di rumah. Aku langsung masuk ke dalam kamar dan kemrungsung mengganti pakaian dan meletakkan perlengkapan kuliahku di meja belajar kamar. Tak berapa lama, kekasihku yang seorang pelukis datang menjemput dengan motornya. Aku pun segera keluar rumah untuk segera berangkat ke Hermes Café.
Tepat di luar pagar, pacarku sedang asyik menungguku dengan duduk di atas jok depan motornya. Setengah berlari, aku menghampirinya. Tanpa banyak bicara, aku mengambil helm di tangannya dan segera naik. Pacarku yang seniman itu pun langsung menyalakan mesin motornya dan tancap gas meninggalkan rumah.
Sebenarnya kalau tidak pacarku yang menawarkan, rasanya enggan sekali pergi dengannya. Bahkan, aku juga sering berpikir, kenapa aku bisa pacaran dengan pelukis ini? Seseorang yang jalan pikirannya seringkali berbeda denganku dan membuatku jengah berdiskusi dengannya. Tetapi, entah kenapa hubungan kami tetap saja bertahan walaupun beberapa kali putus-nyambung.
Sangat bosan rasanya sepanjang perjalanan yang dihabiskan dengan pacar hanya terdiam membisu tanpa membicarakan apa-apa. Tidak jauh beda dengan naik ojek, malah kadang-kadang tukang ojek sering mengajak penumpangnya berbincang. Kekasihku ini terlalu pendiam dan menghanyutkan, membuatku seribu kali harus bersabar menghadapinya. Ah, andai saja aku menemukan orang lain yang sedikit saja lebih heboh dari pacarku, aku pasti akan mempertimbangkannya untuk mengisi hatiku.
*
”Pulangnya dijemput nggak?” tanya kekasihku setibanya kami di Hermes Café.
”Nggak usah. Nanti aku minta dianterin aja.” kuserahkan helm berwarna hijau itu ke pacarku yang sama sekali tidak berwajah ramah.
Dia hanya membalas dengan mengangguk. Aku pun meninggalkannya dan segera mengejar anggota kecimpring yang kulihat sedang akan masuk ke pintu café. Sambil menuju ke teman-temanku, aku mencoba melupakan kekasih nan menyebalkan itu. Memasang muka ceria seceria mungkin dan merangkul para kecimpring dengan bersemangat.
Setelah masuk ke tempat yang bergaya Art Deco dimana kami biasa berkumpul ini, aku dan segerombolan Venus berisik langsung memesan minuman pada waiter training aneh yang menjelaskan panjang lebar sejarah kopi jawa. Tak berapa lama setelah pesanan kami dicatat dengan cekatan, aku memperhatikan sekeliling tempat menakjubkan ini, mengagumi keindahannya sambil mencuci mata mencari pengunjung yang mungkin sanggup mengalihkan duniaku. Seperti laki-laki pemabuk kopi.... itu... dia... lagiii??? Omigod! Itu kan temennya Emmy yang kemarin...
Laki-laki yang bernama Chicko itu menghampiri kami dan langsung bergabung bersama di meja kami. Tapi, sebelum kami sempat berbincang, seseorang melangkah mendekati meja kami.
”Misi... Ini ada pesen dari Mas yang ada di sana.” ujar Alvin, waiter training yang tumben jalannya tidak kemayu. Lalu, ia pun menoleh ke meja tempat tiga orang laki-laki sedang berbincang.
Galuh mengambil kertas yang diserahkan oleh waiter menyebalkan itu.
”Baca, Gal!” beberapa diantara kami serempak berteriak pada Dudu.
Chicko hanya terdiam memperhatikan kami.
Galuh pun segera membuka kertas kecil yang disobek asal-asalan itu dan membacanya cukup keras hingga semua di meja ini dapat mendengarnya dengan jelas ;
Tolong telepon saya ya, 08566676766
”Buset dah! Nekat banget nih. Nyuruh-nyuruh kita.” Pia spontan protes.
”Gila deh. Sumpah!” Luckty yang kakaknya Pia pun bersuara.
”Udah telepon aja! Jabanin! Rame-rame ini!” aku pun berkomentar.
Galuh langsung mengambil telepon genggamnya dan menekan angka-angka untuk menghubungi nomor yang tertera di kertas itu.
Serempak kami menengok ke arah meja pemberi kertas itu. Terlihat seorang laki-laki mengangkat sebuah telepon genggam. Sayang, wajahnya tidak tampak, kami hanya bisa melihat tubuh bagian belakangnya. Yah, jelas-jelas itu dia yang sedang mengangkat telepon kami. Mungkin dia yang menyuruh kami menelepon.
"Halo!" ujar suara di seberang telepon.
"Halo!? Siapa ini ya?" ucap Galuh seketika setelah telepon diangkat. Galuh pun langsung menekan tanda loudspeaker agar kami semua bisa mendengar jawaban dari mas-mas di seberang telepon itu.
"Eh, maaf.. Temennya Dedo ya? Dedonya lagi nggak ada, bentar lagi telpon lagi ya?"
"Dedo siapa?" Galuh bersuara semakin kesal.
"Lhah, ini yang nelpon koq malah nanya?" suara di seberang telepon lebih menyebalkan lagi.
"Eh sori ya, mas. Saya baru dapat sebuah kertas untuk menelepon nomer anda. Jadi anda yang harus menjelaskan!"
"Saya nggak tahu dengan apa yang baru anda katakan."
"Begini. Anda memberikan sebuah kertas, sebuah perintah untuk menghubungi nomer telepon yang sedang anda angkat ini..." muka Galuh terlihat memerah.
tuuut, tuuut, tuuut... telepon pun terputus.
Sumpah! Laki-laki yang jawab telepon itu nggak jauh beda sama orang dodol yang bolotnya setengah mati. Memberikan sebuah kertas berisi perintah menelepon, tetapi ketika kami menelepon, ternyata dia sungguh menyebalkan dan tulalit jauh melebihi Mbak Welas yang ada di sinetron komedi pada sebuah stasiun televisi. Iya, sinetron yang menceritakan tentang istri yang galak banget sama suami-suaminya itu.
Akhirnya, kami semua tanpa dikomando langsung bangkit dari tempat duduk masing-masing dan bertekad bulat satu tujuan menghampiri meja gerombolan laki-laki itu. Termasuk Chicko yang mungkin dalam hatinya ikut bersimpati dengan kami, EMOSI! Sayangnya, saat kami melangkah, tiba-tiba salah satu diantara tiga laki-laki itu, seseorang yang berbandana beranjak meninggalkan meja. Dia pergi... mengarah ke toilet. SIAL!!!
Ketika berhenti di depan meja itu. Aku langsung menatap pada kedua laki-laki yang tersisa. Djawaaaa????? Omigod!
Djawa tersenyum lebar seperti biasanya, “Kenalin, ini temen baru gue nih baru kenal tadi, namanya Danang.”
“Sebelumnya perkenalkan nama saya Dan Sapar, panggil aja saya Danang. saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta di Indonesia yang bergerak di bidang air therapy.” Laki-laki itu tampak berbinar-binar dengan senyum dan tampang berwibawanya. Uuuh... lutunaa...
Ooh, ini yang kemarin sempat diceritakan oleh Mbak Menur barista Hermes. Orang MLM yang katanya tak gentar menjaring manusia-manusia dengan kata mutiaranya yang sama sekali tidak menarik itu. Hahaha... tapi, nggak kok. Danang ini menarik sekali. Dia rasanya lebih cocok jadi model daripada salesman.
Tapi... loh, loh, loh... Kenapa beberapa orang kecimpring ini berbisik-bisik menyebutnya sebagai lelaki yang aneh? Padahal kan..
“Galuh. Tadi yang nelpon!” Galuh segera menyebutkan namanya dengan sedikit emosi.
“Pia.”
“Luckty, kakaknya Pia”
“Dwi, panggil aja gue Dudu”
“Emmy.”
“Astrid, temen kuliah Djawa.” ucapku. Dan laki-laki itu pun memandangku dengan tatapan yang membuatku malu.
“Dan gue Asiah.” Lanjut Asiah.
Djawa memperkenalkan Chicko pada Danang, “Danang, ini satu lagi temen gue juga, anak band indie gitu deh.”
“Chicko Handoyo, panggil aja gue Chicko.” ucap Chicko.
“Siiiip.”
Tak berapa lama kemudian, dua orang laki-laki menghampiri meja kami yang ramai sekali ini.
"Nah ini orangnya!" kata Djawa.
"Ada apa ya?" sapa salah satu diantara keduanya dengan muka polos, atau lebih tepatnya sengaja dipolos-poloskan.
"Shit! Pura-pura lagi, ini nih yang punya nomer handphone itu.."
"Wa! Lo ah.."
"Haha, apa lo? Nggak bisa ngeles lo." Djawa dan laki-laki itu saling menimpali.
"Oh, jadi ini orangnya.." ejek Galuh.
”Dedo.” Laki-laki itu cuma senyam-senyum dengan wajahnya yang semakin memerah. Mungkin karena malu.
"Lo semua, pada tau nggak? Ini tuh temen-temen gue," kata Djawa pada dua laki-laki itu.
"Yang ini Galuh, yang barusan berantem di telepon sama gue gara-gara lo. Ini Pia, ini Luckty, ini Dwi atau biasa dipanggil Dudu, Ini Emmy, ini Astrid temen kuliah gue. Dan yang paling spesial: Asiah, temen gue juga, cuma pake spesial, hahaha.." Djawa mengulang perkenalan lagi. Sepertinya laki-laki yang bernama Dedo itu tampak sangat malu. Bayangkan saja, dia sok kenal dengan kami semua, ternyata malah diperkenalkan oleh Djawa.
Tapi, jujur saja aku terpesona dengan laki-laki yang senyumnya menakjubkan itu. Gayanya yang salesman sejati itu membuatku terpana dan berkhayal untuk bisa mengenalnya lebih jauh. Mungkinkah aku jatuh cinta?
**********
cerita ini merupakan cerita berbalas dari Genk Hermes... Cerita sebelum dan sesudah dapat dilihat di grup Gank Hermes...
Langganan:
Postingan (Atom)