Kamis, 13 Mei 2010

satu warna dunia dalam raga

merupakan kata
yang seringkali terungkap kala keraguan melanda
memberondong menyerang logika menjadi curiga
perlahan mengkerdilkan pernyataan
lebih di luar biasanya



ada sebab dibalik setiap akibat
menjadikan suara yang bergema menjadi satu bentuk premis utuh
kata yang menyudutkan waktu pada sudut ruang sempit dunia
kaku dan semu
itu rindu yang berubah menjadi cemburu

menjadi lebih
membuat kesimpulan pada membabi buta
paksa sadar bukan jalan keluar
tapi biar raga mengarah pada nyata
mengatakan bahwa semua karena rasa
keutuhan dalam jiwa yang berbentuk hati

berjalan dalam diam
sesak diantara tangis
melangkah dalam kegelapan ruang
berharap bentuk yang utuh
mungkin bukan kini
tapi tubuh yang seluruh
menggenggam senyum dalam kepalan

dunia dalam raga itu berwarna merah marun
dunia dalam raga ini berwarna ungu
lalu pada satu waktu warna itu terpadu menjadi satu
entah bagaimana berubah
bilakah bisa tersebut?
***

Rabu, 21 April 2010

Di Dalam Diam

Dalam diam yang tercipta di gegap gempita malam, aku memperhatikanmu yang duduk tepat di depan kedua mataku yang mengarahkan tatap. Bila waktu membuang dirinya tanpa tersadar sendiri, aku menikmatinya karena detik demi detik yang habis hanya kulalui untuk menyaksikanmu menjalani dunia. Diantara ketidakjelasan aku mencoba memahami setiap rasa yang tumbuh diantara dua hati, aku dan kamu. Bahkan, ketika kamu mencoba untuk mengabaikannya, rasa itu terus menjadi raksasa yang akan menguasai masing-masing hati kita. Nantinya, kita berdua akan terjerembab dalam jurang perasaan yang membuat kita kesulitan untuk membebaskan diri.

Aku menunjukkan apa yang terbentuk dalam jiwa dengan laku tak biasa. Aku memelukmu dalam kesenyapan suara, aku memelukmu diantara sesaknya ruang, aku merengkuh kesyahduan pada keheningan suasana, dan maka aku berusaha memutuskan batas yang menjadi halang bagi kalimat tak terbantahkan. Aku menciptakan cara menjadikan peristiwa yang pasti tak bisa terlupakan.

Kadang ingin sekali menyatakan segala isi yang seperti akan meluap dari ruang hati. Tapi, aku mencoba menahan agar kamu merasakannya juga tanpa harus kupaksakan. Aku bersabar untuk menjadikan segalanya menjadi lebih baik di mata kita. Maka, tanpa berkata aku mencukupkan ego untuk menunjukkan semua bentuk dan susunan kerinduan. Mulut pun kukunci rapat agar tak menyatakan apa yang tak seharusnya tersampaikan kepadamu. Merasakan saja setiap sanjung yang terlalu sedikit dapat ternikmati. Membiarkan saja orang lain menilai kebersamaan kita sebagai suatu wujud yang berbeda. Lalu, aku akan terbuai dalam ketidakpastian yang melontarkan sejuta tanya padamu yang terpaku.

Bertahan dalam kerahasiaan hati sendiri akan menjadi beban yang terlalu menyakitkan. Tetapi melalui satu per satu sikap yang tampak dalam gerak-gerikmu kujadikan harap. Aku terus menjalani hari dan menganggap rasa yang kuberikan ini tak pernah salah. Tak akan kubiarkan hatiku menangis dalam pertanyaan yang belum jua kudapatkan jawabannya.





Aku tahu kamu memahami
Mengerti karena kamu insan yang punya nafas
Meyakini bahwa manusia tak salah bila mencintai
Diamku di sini menjadikanmu panduan rasa
Maka aku tak akan bicara
Merelakan kamu menghabiskan siang untuk merenungi
Lalu, kita kembali bergumul mengurai arti bahagia

Selasa, 03 November 2009

Perempuan Paling Berarti Dalam Hidup

Pada ruangan 4 X 5 meter ini aku termenung dalam kegelapan menuju lelap. Sendirian seperti setiap malam biasanya. Menggantungkan bayang tentang tempat nun jauh di sana yang selalu hangat memeluk kala tubuh mulai merapuh. Rumah. Satu-satunya tempat tujuanku untuk kembali setelah terbang melambung ke langit luas mengerikan. Sekarang, aku sedang jauh dari tempat terindah yang menjadi istana termegah dalam ruang hatiku. Aku sungguh merindu setiap jiwa yang ada di dalamnya, dimana mereka selalu terucap dalam setiap hembusan nafasku dan menjadi bagian dari doa yang tak pernah putus.

Kini, aku akan bercerita tentang salah seorang yang ada di dalamnya. Perempuan yang paling berarti dalam hidupku, mungkin tanpa pernah kusadari. Namun, aku tak pernah berhenti untuk selalu menyebut namanya dalam setiap kegundahan yang mencoba menghancurkanku. Ibu. Dia yang selalu menjadi musuh terbaikku sekaligus kekuatan terbesarku untuk merenggut mimpi-mimpi yang masih tergantung. Sosok yang selalu kurindukan dalam setiap kali kepulanganku, karena aku ingin sekali selalu mendekapnya erat dan tak ingin kulepaskan.

Kata banyak orang, melihatku seperti melihat ibuku. Tak bercela wajahku menyerupainya, tetapi bagiku dia jauh lebih cantik dan sempurna daripada aku. Menjadi anaknya dan bagian dari keluarganya adalah satu-satunya kenikmatan yang tak kan pernah berhenti untuk kusyukuri. Aku sungguh terlena menjadi anak yang pernah lahir dari rahimnya. Walaupun, dia tak pernah mau bercerita jelas tentang caranya melahirkanku ke dunia ini. Aku paham benar, mungkin aku terlalu merepotkan waktu itu, tidak… bahkan sepertinya hingga sekarang aku terus membuatnya tak bisa melangkah dengan tenang.

Luasnya langit di angkasa menggambarkan betapa besarnya cintaku padanya. Tulus, tak berbatas, walau terkadang mungkin aku lengah mengabaikan kebaikannya. Rasanya aku tak akan pernah berhenti memohon maaf dan bersujud di kakinya, karena aku terlalu banyak menyakiti hatinya, terlalu banyak membuatnya memikirkanku, terlalu banyak membiarkannya kelelahan menjalani hari, dan terlalu banyak melupakan kata-katanya. Maaf, karena aku terlalu sering menjadi anak yang terlampau peduli pada diri sendiri.

Ibuku suka bernyanyi dan menciptakan lagu. Ia suka sekali bernyanyi diiringi orgen tunggal saat acara resepsi keluarga, lagunya tentang I Have a Dream dari Westlife. Ia suka menciptakan lagu tentang keluarga dan rumah kami. Sayangnya, aku tidak sanggup mengingat lagi secara utuh lagu-lagu itu. Tidak hanya itu, dia selalu memberi nama kepada semua boneka yang dulu sempat kumiliki. Lalu, dia juga selalu memarahiku setiap kali pulang mengambil rapor sekolah. Lantas dengan berani, saat duduk di sekolah menengah, aku memintanya tidak lagi marah melihat nilaiku. Atas semua itu, aku tetap masih mencintainya sepenuh hatiku.

Belakangan ini, aku seketika ingat dengan jelas mengenai satu cerita terindah yang pernah diceritakan ibu. Dulu, sewaktu aku masih kecil dan ayah-ibuku bekerja, ia selalu menyanyi untukku. Setiap malam, saat ibuku telah kembali dari kantor dan aku sedang bersiap untuk tidur. Ibuku menggendongku dalam kain panjang batik dan membawaku keluar rumah, ia memberikan botol susu ke dalam mulutku, lalu mulai bernyanyi sambil menunjukkan bintang dan bulan yang bertebaran di langit gelap. Rasanya, itu menjadi awal mula aku menggila-gilai langit dan seisinya. Ibu bernyanyi, menyanyikan lagu lama yang sepertinya tak pernah selesai kudengar akhirnya, karena aku terlanjur tertidur sebelum ibu usai menyelesaikannya.

Di wajahmu kulihat bulan
Menerangi hati gelap rawan
Biarlah daku mencari naungan
Di wajah damai rupawan

Serasa tiada jauh dan mudah dicapai tangan
Ingin hati menjangkau kiranya tinggi di awan

Di wajahmu kulihat bulan
Bersembunyi di balik senyuman
Jangan biarkan ku tiada berkawan
Hamba menantikan tuan

Kini, tempat yang berbeda sedang memisahkan aku dan ibuku. Tetapi, sebentar lagi aku pasti pulang dan memeluknya hingga hari berganti. Aku merindukannya setengah mati dan tak kan pernah lupa mengatakan cintaku setiap dia sempat bicara padaku dari jarak jauh. Usianya sudah beranjak tua dan kurasa aku sudah membuatnya terlampau lelah. Kartu tanda penduduknya saja sudah tidak perlu diperpanjang lagi, tetapi aku masih saja merepotkannya. Lalu, pada hari ini saat ia menambah lagi usianya, aku ingin sekali tersenyum menatap wajah cantiknya itu dan berkata…

“Ibu! I lap u!!!” Memeluknya dan menciumnya berkali-kali hingga ibuku kepayahan.


******


…TERIMA KASIH IBU…



(sisa kue ibu yg ditinggal di kost)






*saat ibu ulang tahun, hanya sebuah kue kecil dan kecupan di kedua pipinya yang sanggup kuberikan*

Senin, 12 Oktober 2009

Dibalik Sebuah Foto

Dibalik Sebuah Foto

_Menur Widilaksmi_



Aku menatap sebuah bingkai yang tergantung di tembok. Memperhatikan ekspresi setiap orang yang terlukis dari setiap orang pada gambar itu. Mereka-reka cerita dari peristiwa ketika foto itu diambil. Aku melambungkan khayalanku dan mencoba menikmati setiap kejadian yang rasanya mampu sangat jelas kutatap lewat kedua mataku.

”Itu keluargaku.” seorang laki-laki tersenyum ke arahku dan membuyarkan segala lamunanku.
”Hmm... sudah kuduga. Ada kamu di sana.” aku mengalihkan pandanganku kepadanya.

”Kenapa kamu tampak terkesima memandangi foto keluargaku?”

”Karena aku ingin sekali punya keluarga.”

”Kamu punya aku sekarang.”

Aku memang sekarang punya keluarga. Dirinya. Keluarga kecil yang kuharap bisa selalu bahagia. Sebuah keluarga utuh yang sejak kecil selalu kucita-citakan, namun tidak pernah kudapatkan. Aku akan memulai lembaran baru bersamanya menjadi seorang ayah dan ibu, bersiap melahirkan anak-anak yang kuharap jauh lebih beruntung dari kami. Memiliki ayah, ibu, dan saudara yang selalu menemani mereka sepanjang hidup. Setidaknya, sampai mereka sudah siap menjalani hidup sendiri.

Dua puluh lima tahun aku hidup tanpa mengenal siapa ayah dan ibuku. Panti asuhan cacat ganda menjadi tempatku bernaung selama lebih dari dua dekade hidup. ..............

(read complete on Hermes For Charity)

-----------------------------------------------


Menyatukan Hati Untuk Menghapus Air Mata Ibu Pertiwi


Judul : HERMES FOR CHARITY *
Penulis : The Hermes
Bentuk : File digital (.pdf)
Harga : Rp. 15.000,-**





Isi :
Earth Is A Lonely Planet (Emmy Emanyza)
Dia… Tuhan! (Fajar Nugros)
Memotret Sejarah (Luckty Giyan Sukarno)
Tuhan Dan HambaNya (Dedo Dpassdpe)
Pulang (Melody Muchransyah)
Di Balik Sebuah Foto (Menur Widilaksmi)
Menunggu Bak (Luckty Giyan Sukarno)
Catatan Dari Padang (Rizki Januarsaputra)
Malaikat Bertongkat (Eni Setyaningsih)
Aku Mau Jadi Pahlawan (Galuh Parantri)
Untuk Wanita (Asyharul Fityan)
Surga Untuk Hati (Artasya Sudirman)
Wanita (Sitty Asiah)
Laila : Meja Nomor Tiga Puluh (Asyharul Fityan)
Hanabi (Chicko Handoyo Soe)
Aku, Lagu Cinta, dan Music Player (Faizal Reza)
Pangeran Impian Didi (Zadika Alexander)
Kura-Kura Terlambat (Faizal Reza)
Melepas Gia (Alvin Agastia Zirtaf)
Leaving Leon (Sitty Asiah)
Di Balik Pintu (Jia Effendie)
Liang (Dan Sapar)
Selamat Datang!! (Artasya Sudirman)
Hati Yang Tak Bisa Mati (Nina Josephina)
Berkawan Dengan Hujan (Pia Zakiyah)


Bonus: Original Soundtrack
Blue Summer - Hermes For Charity
Blue Summer - Someday Baby
Blue Summer - San Fransisco Bay


Seluruh hasil penjualan kompilasi cerpen digital HERMES FOR CHARITY akan disumbangkan untuk korban gempa di Padang, Sumatera Barat dan sekitarnya.



Cara pembelian :

1. Transfer Rp. 15.000,-** ke :

BCA KCP Proklamasi Depok
Nomor rekening. 661 040 947 2
a.n Alvin Agastia Zirtaf

2. Konfirmasikan pembayaran anda via email ke : hermesforcharity@gmail.com dengan format sebagai berikut :

Subject : Konfirmasi H4C
Isi: Nama (spasi) Tanggal & Bulan Transfer (Spasi) Jumlah Transfer (Spasi) Nama Bank (Spasi) No. Rekening (Spasi) Nama Pemilik Rekening

Contoh : Abdul Malik 0910 15000 BCA 123456789 Abdul Malik


Pembelian anda segera diproses dalam waktu selambat-lambatnya 1x24 jam, setelah itu link untuk mendownload produk akan dikirimkan via email.





Hormat kami dengan cinta,



The Hermes


Alvin Agastia Zirtaf - Artasya Sudirman - Asyharul Fityan
Chicko Handoyo Soe - Dan Sapar - Dedo Dpassdpe
Dwi Fitriyani - Eliana Candra - Emmy Emanyza - Eni Setyaningsih
Faizal Reza - Fajar Nugros - Galuh Parantri - Jia Effendie
Luckty Giyan Sukarno - Melody Muchransyah - Menur Widilaksmi
Nina Josephina - Pia Zakiyah - Rizki Januarsaputra
Sitty Asiah - Tiara Hermes - Zadika Alexander



-------------------------------------------
* Produk yang dijual adalah file digital (.pdf) dan file musik (.mp3). Gambar yang ditampilkan hanya sebagai ilustrasi. Pembeli akan mendapatkan link untuk mendownload produk yang akan dikirimkan via email.

** Harga yang tercantum adalah harga minimum. Kompilasi ini dirilis untuk penggalangan dana. Harga maksimum bisa ditetapkan sendiri oleh pembeli.

Kamis, 10 September 2009

Berhenti Menunggu






Dia selalu tak pernah absen meraih tanganku saat aku terpuruk. Menyentuh hatiku ketika tangis menyelimuti, hingga air mata terhapus oleh bahagia. Dia selalu bilang bahwa sedikit senyum menjadikan aku semakin tegar menjalani hari yang seringkali terasa pelik. Bukan matanya yang meneduhkan, bukan dirinya yang menguatkan, bukan tawanya yang menyejukkan, tetapi kata darinya yang selalu membuatku merasa utuh.

”Apakah aku akan menemukan tepian?” aku menatapmu saat malam berusaha kita habiskan selayak biasanya.

”Pada hati yang terlalu luas? Kurasa tidak.” kamu menatap langit dan menghela nafas seolah putus asa.

Kalimat itu selalu membuatku meragu, memaksakan diri untuk terus berpacu. Meresapi setiap waktu yang bisa kuhabiskan bersamanya. Diantara kegundahan, perih, takut, tawa, dan bahagia. Aku bisa menemuinya setiap saat bila dunia membuatku terluka. Bukan dengan belaian sayang dia mendekapku, tetapi kekuatannya yang berhasil menampar kekalahanku. Lalu, aku sanggup berdiri dan berjalan kembali menentang prahara.

”Kemana aja?” dia bicara kala satu waktu bertemu denganku setelah sekin lama.

”Kamu yang kemana aja?” perlawanan tegas kuucapkan sebagai wujud kerinduan.

”Setiap malam aku menunggu.”

”Disaat aku menunggumu?”

”Tidakkah kamu hendak membunuh jemu itu?”

”Haruskah aku?”

”Bila saja kamu mau sedikit berkorban.”

”Lalu, aku memperjuangkanmu? Tidakkah sebaliknya?”

”Aku ingin kamu sekarang.”

”Aku ingin kamu juga. Tapi tidak sekarang. Sanggupkah kamu menunggu lagi?”

”Diantara sepi dan kesendirian bersama ketidakpastian yang sanggup membunuhku?”

”Tidak. Aku akan menemanimu walau sempitnya waktu membatasi kita.”

”Kamu pikir aku sanggup?”

”Aku tidak memohon. Tapi aku berharap.”

”Lantas, aku akan bilang aku lelah. Aku berhenti saja.”

”Disini? Membiarkanku sendiri?”

”Tidak. Kamu bersama mimpimu. Biarkan aku bersama dia.”

”Dia? Mimpimu?”

”Bukan. Dia yang sanggup selalu ada bersamaku.”

”Membunuh mimpi kita?”

”Aku hanya mencoba merealisasikan mimpimu yang bukan aku.”

Ia pergi membalikkan langkah, berjalan menjauh tanpa menoleh lagi. Membiarkan aku memecah sunyi dengan tangisan yang menyiksa. Membuat seumur hidupku akan mengingat dengan jelas tentang setiap suara jejak yang ia tinggalkan.




*ketika menatap sebuah foto*

Jumat, 28 Agustus 2009

Ketika Siang Merindukan Malam




Aku ingin menangis
Tidak! Aku ingin berteriak
Pada ruang dan jarak yang membentang
Membatasi jiwaku untuk menyentuhmu
Padahal sejak lama harap mendesak untuk terkuak
Melekatkan sunyi untuk kau lucuti

Tanya selalu saja menyesakkan
Melantunkan lirik tentang pertemuan aku dan kamu
Walaupun waktu tak jua datangkan peluang
Sejuta mimpi selalu kugantungkan
Menghilangkan kehausan akan sepi
Lepaskan lara yang membelenggu

Ingin kembali pada peraduan
Menemui malam yang bersembunyi di sudut
Perhatikan ragamu yang belum kupeluk
Temukan rahasia pada hasrat di setiap celahmu
Hingga pagi menyambangi bila tangan bertaut



Tidakkah kamu?
Tidak usah lagi beringsut
Benar ini tentang kamu
Kamu yang sempat terpojok di sudut karena aku








*saat ingin sekali pulang

Rabu, 26 Agustus 2009

saat malam gelap dan sepi

Malam ini aku berjalan melangkahkan kakiku sendirian di tepi sebelah kiri jalanan yang tak rata. Gelap dan sepi. Iya, mirip seperti perasaanku yang sedang kututupi. Tetapi, karena aku sedang berhadapan dengan diriku sendiri, aku merasa tak perlu berpura-pura. Aku mampu merasakan gelap dan sepi yang membabi buta, dimana aku bisa saja memutuskan untuk membiarkan air mataku mengalir di pipi menunjukkan pilunya jiwaku. Namun, aku menahannya. Ternyata superego dalam diriku masih sanggup menahan id yang menggebu-gebu. Aku menahan diriku sendiri untuk melepaskan beban yang terendap.

Aku menatap langit agar air dari dalam mataku tidak menetes keluar. Langit yang hitam itu berkelap-kelip karena ada beberapa bintang bertebaran di sana. Lalu, ada bulan sabit yang tampak menggoda karena bentuknya yang sedang tampak sempurna. Aku jadi teringat padanya. Dia yang kurang lebih satu tahun ini tanpa kusadari telah menerangi setiap gelap dan sepiku. Hanya bila kuingin dan kuminta, bukan datang dengan sendirinya dan menawarkan.

Sejak lama aku sudah terbiasa dengan kesendirian. Tak paham juga tentang sebabnya, karena kesendirian telah lahir dan tumbuh bersama tubuhku. Menjadikanku sebagai manusia yang terlalu sering tidak peduli pada perasaan orang lain, hingga aku sama sekali tidak peka pada kemungkinan datangnya pasangan jiwa. Menyadari bahwa sendirian itu menjemukan, seringkali aku hanya bisa tersenyum di depan cermin yang telah bertahun-tahun menjadi satu-satunya sahabat terbaik.

Lantas, seketika dia datang saat aku sedang berjuang mati-matian untuk membenci laki-laki yang menawarkan cinta. Tertawa, tersenyum, tertawa, dan tersenyum selalu saja menemani setiap kebersamaanku dengannya. Bahagia yang berbunga-bunga menjadikanku tenggelam dalam lautan hati. Dia berhasil melambungkan hatiku dan membuatku benar-benar jatuh hati padanya. Mencurahkan semua keindahan atas nama dirinya yang sama sekali belum pernah kutemui setelah… entah, mungkin 7 tahun lalu. Aku hanya bisa menatap wajahnya melalui situs pertemanan dunia maya yang sedang digandrungi banyak manusia.

“Jejakmu memudar tanpa aku tahu apa warnanya.”

“Kamu melhatnya tanpa warna?”

“Mungkin karena aku buta warna.”

“Lalu, sanggup menatapku dalam kebutaanmu?”

“Aku masih sanggup melihat walau tanpa warna.”

Sejak itu, aku jadi berpikir tentang keutuhan dirimu dalam menyaksikanku. Meragukan tatapanmu ketika melihat aku dengan teropong hatimu. Menyangsikan kebersamaan karena ruang dan waktu yang membatasi pertemuan. Aku masih berjuang dan berlari ke depan meraih mimpi yang ada kamu di dalamnya. Namun, aku mulai berpikir bahwa kamu tak mau menjadi mimpiku yang penuh warna. Kamu suka abu-abu yang membuatku memburu jemu.

“Aku sedang rapuh.”

“Berbagilah. Maka kamu bisa merangkaikan untuk menjadikannya utuh.”

“Bilakah kamu?”

“Walau kita berjarak. Aku masih tetap di sini menemanimu.”

Aku disini, kamu pun masih berada di sana. Walaupun aku tak sanggup menatap, tetapi aku mampu melihat. Jauh dalam lubuk hatiku kamu menjadi cahaya dalam langkahku. Aku masih dalam gelap, tetapi punya terang yang membuat jejakku tampak cukup jelas. Maka, ketika kamu menghilang dan terbang, aku berharap akan masih sanggup menggenggam sisa-sisa perasaan yang sempat kamu tinggalkan sebelum pergi.

“Kamu menunggu?”

“Sudah terlalu lelah rasanya. Bolehkah aku tak lagi menunggu?”

“Iya, harusnya begitu. Nanti akan datang.”

“Kamu?”

“……..”

Menempuhnya hanya butuh waktu sekitar dua belas jam saja. Bisa dibalik seharusnya. Menempuhku hanya butuh waktu sekitar dua belas jam saja. Sepertinya sudah sepantasnya aku menunggu, bukan memburu. Aku tidak akan duduk diam, dunia masih boleh berputar dan hari kupersilakan untuk berganti. Tetapi, aku mengajak diriku sendiri agar tidak lagi menikmati lelah menyelami perasaan dalam jiwa terdalamku. Aku ingin dia yang datang ke hadapan dan menyunggingkan senyumnya yang sudah terlalu lama tidak kutatap.

Sungguh aku sangat tak paham dengan perasaan yang terbersit belakangan ini. Aku tak bisa mendeskripsikan dengan jelas maknanya. Apakah aku tidak lagi peka dengan perasaanku sendiri?






*untuk seseorang yang sedang menghilang untuk menjelma menjadi bulan sabit di langit