Jumat, 08 Mei 2009

menjadi pilihan


Pagi ini sama saja seperti hari biasanya. Setidaknya itu yang terasa. Ketika terbangun, tak ada dia lagi di sisiku. Harus kusadari walau masih terlalu sulit diterima. Sepi itu sebenarnya sudah hilang ketika ada lain yang datang. Seseorang yang selalu tertawa bersamaku di sini setiap malam. Banyak kata yang dia ucap melalui bahasa yang dia lontarkan. Namun terkadang aku merasa rindu akan kehadirannya. Terasa dia begitu jauh dan terlalu sulit untuk mampu menatap matanya. Ragu untuk meyakinkan diriku sendiri. Selalu saja rasanya seperti. Tidak jelas. Entah apa yang menghadirkan semua ini. Atau semua karena keraguan dan ketidakjelasanku sendiri?  

Dia menatapku. Duduk di hadapanku. 
"Kamu menyukai hari ini?" tanyanya dengan senyum. 
"Iya, aku selalu suka hari-hari kita bersama." jawabku. 
"Kamu bisa merasakan aku dan kamu menjadi kita?" tanyanya. 
Hmmm... aku sedikit bingung. 
"Maksudmu? Kita?" 
"Entah." 
"Tunggu! Entah?" aku sedikit kesal.
"Entah.Biar saja. Bukan sekarang aku akan menjawab." 
"Lantas?" aku butuh kepastian. 
"Tidak dalam dua tahun ini." 
Aku terdiam. Selama itukah? Ketika aku sudah cukup tua. Sewaktu aku mungkin seharusnya membuka hati pada orang lain dan aku masih harus menunggunya. Tidakkah sia-sia menunggu selama itu? Sedangkan perasaan ini tetap saja tidak pasti walaupun aku bersamanya.  

"Hei..." panggilnya. 
Aku tersenyum. Dalam hati mencoba mengumpulkan keberanian.
"Kamu pernah memikirkanku?" 
"Selalu." 
"Maksudmu?" 
"Aku selalu memikirkanmu."
"Sampai kapan?"
"Maksudmu?" dia balik bertanya. 
"Iya, sampai kapan kamu akan memikirkanku?" 
"Aku tak tahu." 
Dia saja tak tahu. Lantas, apakah aku harus mengetahuinya dan menerkanya sendiri? Aku ragu.
"Pernahkah kamu berpikir bahwa ada seseorang yang mencintaimu sampai mati?" 
"Berpikir? Menyangka pun tidak. Aku terlalu malas membicarakan cinta. Biarkan ia datang saja nanti." "Kalau tiba-tiba cinta itu justru pergi?" tanyaku. 
"Biarkan saja. Mungkin memang dia harus pergi." 
"Lalu kamu bisa hidup tanpa cinta?" tanyaku lagi. 
Dia terdiam. 
Lalu aku pun pergi. Kembali ke rumah. Merebahkan diri di atas tempat tidurku. Kutumpahkan lelahku. Sejenak kumenangis. Kumenoleh ke kanan, dimana dulu biasanya ada dia. Aku ingin lagi menemuinya. Aku cuma tahu bahwa dia yang mencintaiku sampai rela mati di tanganku. Aku hanya ingin memohon maaf padanya dan menjadi kekasihnya lagi seperti dulu.  

'SRET!' 
Seketika darah mengalir di pergelangan tanganku. Rasanya sakit sekali. Cara klasik yang membuatku masih bisa menikmati sisa hidup. Aku bahkan masih bisa mendengar sebuah sms masuk di handphone. Beberapa detik lagi aku meninggal dunia, namun aku tetap berusaha membacanya dengan menahan rasa sakit: 
Aku akan memikirkanmu selamanya. Dan aku tak ingin kamu pergi, cintaku.

Tidak ada komentar: