Rabu, 26 Agustus 2009

saat malam gelap dan sepi

Malam ini aku berjalan melangkahkan kakiku sendirian di tepi sebelah kiri jalanan yang tak rata. Gelap dan sepi. Iya, mirip seperti perasaanku yang sedang kututupi. Tetapi, karena aku sedang berhadapan dengan diriku sendiri, aku merasa tak perlu berpura-pura. Aku mampu merasakan gelap dan sepi yang membabi buta, dimana aku bisa saja memutuskan untuk membiarkan air mataku mengalir di pipi menunjukkan pilunya jiwaku. Namun, aku menahannya. Ternyata superego dalam diriku masih sanggup menahan id yang menggebu-gebu. Aku menahan diriku sendiri untuk melepaskan beban yang terendap.

Aku menatap langit agar air dari dalam mataku tidak menetes keluar. Langit yang hitam itu berkelap-kelip karena ada beberapa bintang bertebaran di sana. Lalu, ada bulan sabit yang tampak menggoda karena bentuknya yang sedang tampak sempurna. Aku jadi teringat padanya. Dia yang kurang lebih satu tahun ini tanpa kusadari telah menerangi setiap gelap dan sepiku. Hanya bila kuingin dan kuminta, bukan datang dengan sendirinya dan menawarkan.

Sejak lama aku sudah terbiasa dengan kesendirian. Tak paham juga tentang sebabnya, karena kesendirian telah lahir dan tumbuh bersama tubuhku. Menjadikanku sebagai manusia yang terlalu sering tidak peduli pada perasaan orang lain, hingga aku sama sekali tidak peka pada kemungkinan datangnya pasangan jiwa. Menyadari bahwa sendirian itu menjemukan, seringkali aku hanya bisa tersenyum di depan cermin yang telah bertahun-tahun menjadi satu-satunya sahabat terbaik.

Lantas, seketika dia datang saat aku sedang berjuang mati-matian untuk membenci laki-laki yang menawarkan cinta. Tertawa, tersenyum, tertawa, dan tersenyum selalu saja menemani setiap kebersamaanku dengannya. Bahagia yang berbunga-bunga menjadikanku tenggelam dalam lautan hati. Dia berhasil melambungkan hatiku dan membuatku benar-benar jatuh hati padanya. Mencurahkan semua keindahan atas nama dirinya yang sama sekali belum pernah kutemui setelah… entah, mungkin 7 tahun lalu. Aku hanya bisa menatap wajahnya melalui situs pertemanan dunia maya yang sedang digandrungi banyak manusia.

“Jejakmu memudar tanpa aku tahu apa warnanya.”

“Kamu melhatnya tanpa warna?”

“Mungkin karena aku buta warna.”

“Lalu, sanggup menatapku dalam kebutaanmu?”

“Aku masih sanggup melihat walau tanpa warna.”

Sejak itu, aku jadi berpikir tentang keutuhan dirimu dalam menyaksikanku. Meragukan tatapanmu ketika melihat aku dengan teropong hatimu. Menyangsikan kebersamaan karena ruang dan waktu yang membatasi pertemuan. Aku masih berjuang dan berlari ke depan meraih mimpi yang ada kamu di dalamnya. Namun, aku mulai berpikir bahwa kamu tak mau menjadi mimpiku yang penuh warna. Kamu suka abu-abu yang membuatku memburu jemu.

“Aku sedang rapuh.”

“Berbagilah. Maka kamu bisa merangkaikan untuk menjadikannya utuh.”

“Bilakah kamu?”

“Walau kita berjarak. Aku masih tetap di sini menemanimu.”

Aku disini, kamu pun masih berada di sana. Walaupun aku tak sanggup menatap, tetapi aku mampu melihat. Jauh dalam lubuk hatiku kamu menjadi cahaya dalam langkahku. Aku masih dalam gelap, tetapi punya terang yang membuat jejakku tampak cukup jelas. Maka, ketika kamu menghilang dan terbang, aku berharap akan masih sanggup menggenggam sisa-sisa perasaan yang sempat kamu tinggalkan sebelum pergi.

“Kamu menunggu?”

“Sudah terlalu lelah rasanya. Bolehkah aku tak lagi menunggu?”

“Iya, harusnya begitu. Nanti akan datang.”

“Kamu?”

“……..”

Menempuhnya hanya butuh waktu sekitar dua belas jam saja. Bisa dibalik seharusnya. Menempuhku hanya butuh waktu sekitar dua belas jam saja. Sepertinya sudah sepantasnya aku menunggu, bukan memburu. Aku tidak akan duduk diam, dunia masih boleh berputar dan hari kupersilakan untuk berganti. Tetapi, aku mengajak diriku sendiri agar tidak lagi menikmati lelah menyelami perasaan dalam jiwa terdalamku. Aku ingin dia yang datang ke hadapan dan menyunggingkan senyumnya yang sudah terlalu lama tidak kutatap.

Sungguh aku sangat tak paham dengan perasaan yang terbersit belakangan ini. Aku tak bisa mendeskripsikan dengan jelas maknanya. Apakah aku tidak lagi peka dengan perasaanku sendiri?






*untuk seseorang yang sedang menghilang untuk menjelma menjadi bulan sabit di langit

Tidak ada komentar: