Kamis, 18 Juni 2009

kalau aku sudah tahu caranya



dr. Arina Larashati. Shati. Singkatnya begitu saja. Itu aku. Perempuan 28 tahun yang telah menjadi dokter di sebuah rumah sakit swasta cukup terkenal di daerah Jakarta Timur. Aku anak ke empat dari delapan bersaudara. Aku hidup dengan diriku sendiri. Mendunia bersama cintaku sendiri.

Sekarang aku sedang bersama kekasihku. Dia laki-laki berumur 26 tahun yang sudah 4 tahun kupacari. Aku dan dia sedang bertemu di sebuah sudut sebuah kedai kopi kecil di ujung komplek tempat tinggalnya.
*

Kamu menyalakan rokok. Lalu, menghisapnya dalam-dalam.
"Nggak pulang lagi malam ini?" tanyaku.
"Lagi nggak pengen sama kamu." jawabmu.
"Kenapa?" tanyaku.
"Luka-lukamu tuh bikin ilfil." jawabnya singkat.
"Loh, kan kamu yang bikin." jawabku.
"Kamu kan dokter. Harusnya tau gimana caranya ngilangin luka dengan cara yang cepet," ujarnya sambil melihat lebam di pipiku, "lagipula tuh kamar udah sumpek banget rasanya. Bersihin kek!" lanjutmu.
"Itu kan kamarmu." jawabku.
"Kamar kita kan, Sayang?" kamu tersenyum sambil membenarkan letak poni rambutku.
Aku terdiam.

"Udah ah. Pergi dulu yah." kamu tersenyum lagi.
Aku mencoba meraih tangannya. Tak rela ditinggalkannya.
"Nanti kalo butuh telepon aja." kamu mencium kepalaku.
Aku terdiam. Menyaksikan langkahnya kelamaan hilang.

Duduk sendirian masih di tempat yang sama. Setelah melihatnya pergi dan memutuskan tidak menghabiskan malam bersamaku. Memikirkan cara untuk berhenti tergila-gila padanya. Mencari alasan untuk menyudahi semua rasa cinta kepada kekasihku sendiri. Menghapus lembaran kisah yang telah kuceritakan selama bertahun-tahun. Menyudahi semua luka yang selama ini selalu ia sayatkan padaku.

Membunuhnya? Lalu, aku masuk penjara dan membiarkannya mati dengan mudah? Tidak. Memutuskan jalinan cinta kami berdua? Lalu, dia akan dengan mudah menerorku dan menceritakan kemampuannya merenggut keperawananku pada pacar baruku nanti? Tidak. Mendatangi orang pintar dan membuatnya jatuh cinta kepadaku tanpa syarat? Lalu, aku dikutuk Tuhanku sendiri karena menyekutukanNya? Tidak. Selingkuh dengan laki-laki lain? Lalu, dia akan membunuh laki-laki selingkuhan yang tidak berdosa itu? Tidak. Lantas... Apa yang harus kulakukan?

Terlalu lelah menghabiskan tiap malam bersamanya. Bertiga menyatu bersama kasur di atas tempat tidur yang baunya sudah sangat penuh dengan kenistaan. Cuih... Aku saja rasanya ingin muntah bila sedang terlelap di atasnya. Namun, cintaku padanya membuatku menyerahkan segala kebanggaan diri. Hanya karena takut kehilangan peluknya. Lima tahun. Hanya di atas kasur kamarnya. Begitu saja dengan cara yang itu-itu saja. Dia bisa dengan mudah menamparku, mencaciku, lantas menyetubuhiku begitu saja. Bila sudah, ia akan bercinta dengan rokok dan minuman kerasnya.

Umurku sudah tidak muda lagi. Semua adik dan kakakku bahagia bersama keluarganya. Orang tuaku saja sudah mati karena jengah dengan hubungan anehku dengannya. Tanpa ada orang lain tahu bahwa aku yang seorang dokter dengan kekayaan berlimpah, tersungkur di bawah hinaan seorang laki-laki pemabuk sepertinya. Maka aku adalah seorang yang sangat hina.

Terlalu sulit untuk membuatnya pergi. Kini, satu-satunya hal yang terpikirkan adalah membuatku pergi dari hidupnya. Selamanya. Sudah tidak ada gunanya aku berada di dunia ini bila harus tersiksa menjauhi dia, apalagi bila ia terus sanggup membuatku jatuh dalam jerat cintanya. Maka, cara paling mudah untuk pergi dari dia adalah... MATI...

Bagaimana cara mati yang paling tidak menyakitkan? Aku sendiri yang seorang dokter sama sekali tidak tahu caranya. Hanya tahu kalau cara mati yang dikehendaki sendiri adalah bunuh diri. Tanpa tahu caranya. Maka, aku akan mencari tahu cara itu. Segera. Lalu aku akan mati, pergi selamanya dari hidup laki-laki yang sangat kucintai itu. Nanti, kalau aku sudah tahu caranya.

Tidak ada komentar: