Selasa, 06 Januari 2009

Kopi Aroma : Antara tradisi, idealisme, dan uang


Tadinya mikir kalo postingan kali ini salah satu hal bersejarah yang memang harus ditulis. Ternyata, sebelum nulis di blog, aku coba search ”KOPI AROMA” ternyata udah banyak banget orang yang mengulas pabrik kopi terkenal di Bandung ini. Tapi, nggak apa-apalah... Kan aku pake fotoku... Ahaha...

Pabrik kopi ini ada di Jl. Banceuy 51, Bandung. Deket sama stasiun kereta, tapi rada jauh juga sih, karena kebetulan aku, kakakku, dan pacarnya naik angkot turun di stasiun musti jalan lumayan jauh. Lokasinya rada nyempil, tapi semua orang yang ada di sekitar sana pasti udah tau keberadaannya. Legendaris. Menurutku itu kata yang tepat untuk bisa ngegambarin pabrik ini.

Awalnya, aku mikir kalo Kopi Aroma ini adalah warung kopi sekaligus tempat penggilingan. Ternyata nggak. Tempat ini murni tempat penggilingan, sekaligus pabrik yang bener-bener home industry banget. Begitu masuk ada etalase kaca mirip Warteg dengan banyak butiran kopi di dalamnya. Trus ketemu deh sama akang-akang yang kebetulan pegawai di sana. Sebenernya, pas masuk rada terkejut sama suasana disana, ada banyak alat gilingan kopi yang keliatan udah kunooo banget.

Nah, si Akang itu trus nyeritain tentang kopi-kopi yang terpampang di lemari kaca disana. Dari deretan sebelah kiri, ada kopi Robusta. Sebelahnya, ada 4 kaca yang isinya kopi Arabica mulai dari baru metik sampe udah berumur 8 taun. Keren kan tuh?

Oh iya, jadi begini... Kopi di seluruh dunia tuh cuman ada dua jenis, Arabica dan Robusta. Untuk Arabica musti dieremin dulu sampe 8 taun baru bisa digiling dan diseduh untuk diminum. Kopi ini  aromanya wangi, dan nggak banyak kafeinnya. Cocok untuk diminum sama semua orang, nggak bikin perut kembung dan cocok banget untuk penderita darah tinggi.

Trus jenis yang kedua adalah Robusta, kopi ini musti dieremin dulu selama 5 tahun barulah bisa digiling dan diseduh untuk diminum. Kopi ini bahaya banget untuk penderita darah tinggi, so bagus untuk penderita darah rendah. Kenapa? Soalnya kafeinnya banyak.

Jadi, pabrik ini ngumpulin biji kopi dari berbagai penjuru Indonesia untuk disatuin berdasarkan jenisnya, Arabica maupun Robusta. Arabica ada yang dari Aceh, Lampung, dsb. Eh, ada yang rasa Moka, ini khusus untuk Arabica, katanya karena kopinya gabungan dari berbagai daerah, begitu didiemin 8 tahun, wanginya mirip Moka. Harganya murah banget, ada kemasan kecil yang cuman 5 ribu perak, ukuran ¼ kg ajah cuman 13 ribu.

Nah, kopi-kopi ini cuman awet selama 3 bulan, begitu lebih, aroma dan citarasanya bakalan berubah. Begitu beli kopi ini, sebaiknya langsung disimpan dalam toples untuk menjaga keharumannya.

Setelah puas belanja-belanja, kita kebetulan ngeliat ada orang yang habis diceritain sejarah pabrik kopi ini. Alhasil, kita nanya deh sama Akangnya supaya bisa diceritain juga. Untungnya bisa, karena katanya belum tentu bapak pemiliknya ini mau.

Si Bapak yang menjadi tour guide ini ternyata adalah pemilik generasi kedua dari pabrik ini, kebetulan beliau adalah keturunan satu-satunya dari Tan Houw Sian yang udah beli mesin penggiling buatan Jerman di tahun 1936 (dikutip dari http://www.gatra.com/artikel.php?id=31494). Nama Si Bapak adalah Widyapratama, usianya 58 tahun, Chinese banget, tapi awet muda banget. Beliau cerita tentang tips-tips minum kopi dan peruntukannya. Katanya, kopi tuh sebenernya bagus untuk semua orang asalkan diminum di pagi hari dan diperuntukkan memang untuk memacu energi. Untuk nambah energi dan stamina, kopi Arabica bisa dicampur sama jus alpukat. Bukan minum susu dicampur kopi, tapi minum kopi dicampur susu. Kopi seharusnya diminum di cangkir, bukan di gelas, karena citarasanya bakalan beda banget. Bapaknya ini keliatan educated banget, caranya ngomong ciamik banget. Idealis. Seru banget karena dia bener-bener generasi yang super hebat mau untuk ngurusin pabrik kopi yang kayaknya kalo diliat untungnya nggak banyak-banyak banget. Filosofi kopinya Pak Wid ini banyak banget.

Kata Pak Wid lagi, minum kopi nggak butuh instan, yang penting rasa dan khasiatnya. Dia nggak mau jual cepet dan banyak uang tapi nggak bisa memuaskan pelanggan. Katanya, pabrik kopi sekarang langsung ngolah kopinya dengan instan, nggak pake dieremin dan nggak ada proses pemasakan baru penggilingan, tiba2 masuk mesin dan udah jadi instan.

Pak Wid ini well educated banget, dia ternyata lulusan sarjana ekonomi dan sekarang jadi konsultan di Universitas Parahyangan Bandung. Keren banget kan!

Mesin untuk masak (sangrai) kopi ajah gedeee banget, udah dari tahun 1936 dan belum pernah ganti, bahkan Pak Wid masih punya cadangan bola pemasak yang belum pernah dipake (Gila ya, Ko Tan Houw Sian itu ternyata punya pikiran jangka panjang juga ya sampe beli mesin cadangan!)

Udah gitu, di pabrik itu ada gudang penyimpanan kopi yang sekamar isinya kopi semua di dalam karung goni. Katanya musti karung goni, soalnya ventilasi udaranya lebih bagus daripada karung plastik. Setelah 5 dan 8 tahun barulah kopinya dimasak. Aroma kopi yang baru aja di sangrai, mirip banget sama kacang sangrai. Untuk masak butuh waktu beberapa jam. Jadi, setelah kopi dipilih berdasarkan besar kecilnya ukuran (yang bagus yang kecil) dengan alat tertentu mirip timbangan dengan metode statistika, biji-biji kopinya dimasukin ke dalam bola besar itu terus dimasak di atas mesin dengan bara api dari kayu karet. Setelah beberapa jam dan diputer beberapa kali, kopi dikeluarin terus dijemur sambil dipisah-pisahin pake alat kayu, biar cepet dingin. Setelah itu, baru deh siap digiling.

Maoe minoem Koffie selamanja enak?

Aromanja dan rasanja tinggal tetep, kaloe ini Koffie soda di boeka dari kantongnja harep dipindahken si stopfles atawa di blik jang tertoetoep rapet.

Djangan tinggal di kantong!

(http://miramarsellia.wordpress.com/2006/03/29/ramahnya-kopi-aroma/)

Nggak cuman itu, ada tiga buah sepeda ontel yang digantung di suatu sisi dinding. Kata Pak Wid, jangan melupakan sejarah, karena dulu dari sinilah awal mula sejarah itu.

Pokoknya seru banget! Bener-bener fantastis, berasa jalan-jalan ke museum. Antara tradisi, idealisme, dan uang yang mencoba bertahan diantara kemajuan jaman.


gambar diambil juga dari http://asmarakata.blogspot.com/2006/02/koffie-fabriek-aroma-bandoeng.html


Tidak ada komentar: